I Love the Little Things You Do (3. Bosan)

Annisa Nursita
Karya Annisa Nursita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 September 2016
I Love the Little Things You Do (3. Bosan)

I Love the Little Things You Do

 

3.  Bosan

 

Mama Alya   : Kak Ana, makasih ya. Nilai matematika aku 98. Alhamdulillah

Ana                 : Iya sama-sama tante. Alhamdulillah.

Mama Alya   : Ini Alya, kakak. Bukan Mama hehe

Ana                 : Oh Alya, mana kakak tau ini Alya atau Mama. Kan ini nomor Mama

Mama Alya   : Hehe, iya kak. Sabtu aku ke rumah kakak lagi ya, gantian ajarin IPA

Ana                 : Minggu aja ya Al, gimana?

Mama Alya   : Oke, pagi siang sore?

Ana                 : Pagi aja Al, jam 9 aja ya

Mama Alya   : Siap, 86! Hehe. Makasih Kak Ana

Mama Alya   : sent a picture

Ana                 : Oiya, kemarin lupa di bluetooth ya Al, makasih ya.

 

Ana masih memandangi foto yang baru saja dikirim oleh Alya. Setahun yang lalu Alya masih tinggal di sebelah rumahnya, namun sekarang ia dan keluarganya sudah pindah rumah meskipun masih dalam komplek perumahan yang sama. Alya memang diberikan fasilitas ponsel oleh mamanya, namun tidak dengan pulsa. Alasannya sudah jelas agar Alya tidak dapat sembarangan mengakses internet dengan sesuka hati. Maraknya tindak kriminal dan pornografi memang mewarnai dunia maya akhir-akhir ini. Bahkan pada portal berita online banyak iklan yang tidak patut dilihat oleh anak-anak. Pulsa yang diberikan pada Alya hanya untuk telepon atau sms. Kendali untuk bermain internet sangat dijaga ketat oleh kedua orangtuanya. Hanya kondisi dan waktu tertentu saja Alya diperbolehkan  memakai internet. Internet hanya bisa diakses di komputer rumah.

Minggu lalu, Alya bermain ke rumah Ana untuk belajar matematika sebab hari Senin ia menjalani ujian tengah semester. Usai belajar, Alya iseng mengajak Ana foto bersama dengan kamera ponsel milik Ana. Setelah beberapa foto diabadikan, Alya tiba-tiba juga ingin foto bersama dengan kamera miliknya. Ketiadaan kuota internet menyebabkan Alya tidak dapat mengirim foto tersebut melalui aplikasi chatting. Malam ini Alya mengirim salah satu fotonya via bluetooth ke ponsel mamanya, dan akhirnya dikirimkan kepada Ana. Foto yang dikirim oleh Alya adalah foto selfie yang mencetak senyum lebar keduanya. Wajah imut milik Alya terbingkai cantik dengan jilbab putih langsung pakai khas anak-anak, jilbab yang biasa ia pakai ke sekolah.

###########################################################

 

“Alya, kakak ngambek nih yaa kalau soal hitungan plus minus begini masih salah. Iiiih gemes kakak sama kamu.” Ana pura-pura marah melihat Alya masih salah menghitung beberapa latihan soal di buku paketnya. Sebaliknya, Alya hanya meringis sambil memberikan dua jari membentuk huruf V. “Maaf kak, lupa.”

Alya sibuk mengerjakan sisa soal latihan dengan sesekali tangannya mengambil kue nastar lalu mengunyahnya. “Kan, salah lagi ngitungnya. Makan nastarnya udahan dulu deh Al. Gak fokus kamu nih.”

Sebelum toples dijauhkan dari meja belajar, tangan Alya yang gesit sudah terlebih dahulu mengambil dua nastar dan memasukkan salah satunya ke dalam mulutnya seraya memberikan jempol dan menjawab, “Oke.”

Ini sih makan sambil belajar, bukan belajar sambil makan. Gemes sama Alya.

Beberapa menit berlalu, akhirnya Alya berhasil mengerjakan sepuluh soal latihan yang yang kemudian diambil alih Ana untuk diperiksa.

“Kak, aku buka jilbab ya? Gerah, panas.” Alya melepas jilbabnya dan mengipaskan tangannya di dada dengan cepat. Ana hanya mengangguk saja sebagai jawaban.

“Nomor 9 dan 10 masih salah nih Al, kurang teliti ngitungnya. Caranya udah benar kok. Coba kamu perbaiki Al.”

“Oh iya, yaah hitung ulang lagi dong dari awal.”

“Ya iya dong, kamu salahnya di tahap pertama.”

Menunggu Alya menghitung ulang soal nomor 9 dan 10, iseng Ana bertanya perihal jilbabnya.

“Ini jilbab sekolah kan Al?” Alya mengangguk mengiyakan.

“Kalau gak ke sekolah pakai jilbab gak Al?” Kini Alya berganti menggelengkan kepalanya.

“Kata Mama, boleh gak pakai jilbab sekarang-sekarang ini, tapi pas udah gede harus pakai dan gak boleh copot lagi” tambahnya yang tak kehilangan fokus mengerjakan soal latihan.

“Pas udah gede itu kapan Al?”

Alya berhenti mengerjakan soal latihannya dan menatap Ana sambil berpikir, “Mungkin kalau sudah SMA atau kuliah Kak.”

“Kenapa gak sekarang-sekarang aja Al” tanya Ana kembali.

“Bosen, di sekolah pakai jilbab, masa keluar rumah pakai jilbab lagi. Kalau udah gede udah harus pakai jilbab dan gak boleh dicopot lagi. Terus kapan dong aku gak pakai jilbabnya?”

“Oh gitu.”

Kembali Alya fokus menyelesaikan dua soal terakhir dan berhasil hingga semua jawabannya benar. Beralih ke materi selanjutnya, lagi-lagi Alya mendapat latihan soal, kali ini dalam bentuknya soal cerita. Setelah meneguk air putih, Ana kembali bertanya, “Kamu udah baligh belum Al?” Di hadapanAna, yang ditanya memasang tampang heran, “Hah balik? Balik ke mana?”

“Baligh, akil baligh Al. Haid untuk perempuan maksudnya.” Ana makin gemas dengan Alya.

“Oh itu, belum sih kak. Tapi temenku yang sama-sama kelas 6, udah ada kak yang haid. Alhamdulillaaaaaah, selesai juga akhirnya. Nih periksa Kak.” Tangan Alya menyerahkan buku latihannya dengan wajah lelah namun berbinar. “Istirahat bentar yaa Kak, hehe.”

“Oke, 10 menit aja ya.”

Lima menit berlalu, Alya masih sibuk mengunyah kue nastar dengan toples di pangkuannya, sedangkan Ana baru saja selesai memeriksa hasil pekerjaan Alya.  Kemudian dibubuhkannya nilai 100 tepat di bawah jawaban dari soal terakhir yang dikerjaan Alya.

“Al, menurut  kamu ada gak orang yang mau pindah ke neraka setelah diusahakan dirinya masuk surga?”

“Ya enggak lah Kakak, mana ada. Di mana-mana orang tuh maunya ya masuk surga kak.”

“Semuanya?”

“Iya lah, penjahat aja pastinya juga maunya masuk surga Kak. Lagian apa coba Kak alasannya orang gak mau masuk surga?”

“Bosan, mungkin?”

“Ya ampun Kakak, gak ada lah orang yang bosan masuk surga. Di surga kan enak kak, apa aja ada. Masa bisa bosan di surga?”

“Gitu ya?”

“Iya dong. Kakak aneh deh tanyanya.”

“Kalau bosan pakai jilbab terus malah pilih gak pakai jilbab dulu, itu bisa dibilang bosan di surga dan malah ingin pindah ke neraka gak ya Al?”

“Eh?”

Hening. Keduanya saling bertatapan. Alya berhenti mengunyah nastar di dalam mulutnya. Kemudian kembali mengunyah dan menelan susah payah hingga harus dibantu dengan menenggak air putih.

“Kakak mah gitu.” Alya merengek sebaliknya Ana hanya mengulum senyum.

“Lha Kakak kenapa?”

“Aku kan... Aku kan bukan gitu maksudnya Kak.” Ana memberi isyarat Alya untuk kembali ke kursi mendekati meja belajar.

“Alya kan sekolahnya memang di sekolah islam, diharuskan memakai jilbab di sekolah adalah salah satu upaya untuk membiasakan diri dengan jilbab. Jika nanti waktu akil baligh tiba, Alya sudah terbiasa dengan jilbab ini. Gerah atau panas bukan masalah lagi. Sebab akil baligh atau haid pertama bagi perempuan adalah tanda bahwa semua hal yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Kalau Alya tidak shalat ya dicatat dosa, kalau Alya tidak puasa Ramadhan ya dicatat dosa juga, semua Alya yang tanggung jawab, bukan Mama atau Papa atau yang lain. Nah termasuk dengan tidak menutup aurat, dicatat juga dosanya.

Kalau Alya pakai jilbab dan menutup aurat dengan baik dan benar, maksudnya jilbab diulurkan menutupi dada, memakai pakaian yang tidak transparan dan tidak ketat, akan selangkah di depan menuju surga dibanding yang belum memakai jilbab. Sebab yang belum berhijab akan sulit mencium wanginya surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.”

Sudah menjadi kebiasaan Alya ketika gugup atau gelisah adalah memainkan jari-jari tangannya dan sesekali menggigit bibir bagian bawah. “Jadi, mama salah dong ya Kak?”

“Mama gak salah, cuma Mama lupa menjelaskan maksud ‘udah gede harus pakai jilbab’. Udah gede di sini maksudnya saat akil baligh, bukan SMA atau kuliah. Ya kalau umurnya sampai SMA atau kuliah, kalau enggak?”

“Ih kakak mah malah tambah nakutin, jahat.” Alya mengerucutkan bibirnya dan mendelik kesal. “Tapi kak, katanya yang penting hatinya dulu, setelah itu baru berhijab, gitu.”

“Itu perkaranya beda Alya, meskipun keduanya memang akan saling berkaitan. Hijab atau menutup aurat itu akan membantu kita untuk memperbaiki hati, akhlak, dan ibadah. Misalnya saat Alya sudah memakai jilbab, ke mana-mana sudah berhijab nih ya. Ketika Alya mau bentindak pecicilan, gak sopan, melanggar norma agama dan sosial, hijab Alya lah yang akan bertindak sebagai rem, hingga akhirnya Alya tidak mau menuruti ego tersebut. Itu juga merupakan salah satu bentuk sayangnya Allah untuk Alya karena Alya sudah mau menunaikan kewajiban menutup aurat yang Allah perintahkan. Alya jadi gak nambahin catatan malaikat Atid di catatan dosa-dosa, ya kan? Selain itu, hadiah lain dari Allah juga Alya diberikan rasa aman dan nyaman dari gangguan fitnah dunia. Contohnya digodain cowok-cowok yang suka resek, tindak kriminal seperti pelecehan seksual dan sebagainya. Gitu Al.”

“Tapi kata temenku, aku cantik kalau gak pakai jilbab Kak.”

“Menurut kakak sih lebih cantik kalau pakai jilbab. Makin imut mukanya. Makin kelihatan shalehahnya, makin deket juga sama surga.”

“Bisa aja sih Kakak modusnya, biar aku pakai jilbab gitu kan?” Alis Alya naik turun dengan tampang menyelidik. Lucu sekali.

“Bohong tuh dosa. Gih ngaca sana lebih cantik mana.” Ana menunjuk cermin dengan dagunya.

Sebelum Alya beranjak dari kursinya, tangannya lebih dahulu dicekal oleh Ana, “Eh mau ke mana? Ngacanya nanti aja, masih ada dua bab lagi ini materi UTS kamu. Itu nastar disimpan lagi.”

*****

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)  

  • view 182