I Love the Little Things You Do (2. Sepotong Pizza)

Annisa Nursita
Karya Annisa Nursita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 September 2016
I Love the Little Things You Do (2. Sepotong Pizza)

I Love the Little Things You Do

 

2. Sepotong Pizza

 

Hari semakin sore, sudah tiga kali Ana melihat jam di tangannya, gelisah menunggu kedatangan dua muridnya yang duduk di kelas 4 SD bernama Bayu dan Andra. Pun dirinya juga sudah menghabiskan dua bab buku bacaannya, namun tak ada tanda-tanda keduanya akan datang. Hingga menit ke-20, Ana memutuskan keluar dari ruangan untuk minum dan makan beberapa keping biskuit demi mengganjal perutnya yang terasa lapar. Saat Ana ingin beranjak dari kursinya meninggalkan ruangan, terbukalah pintu di hadapannya dan terlihat dua muridnya dengan napas yang terengah-engah sambil mengucap salam.

“Maaf Kak, kita telat” kata Andra yang pertama kali datang dan membuka pintu ruangan.

“Iya Kak, maaf ya kita telat banget. Ini nih ngantrinya lumayan lama.” Bayu menunjuk barang bawaan Andra dengan dagunya. Sebenarnya tanpa bertanya pun Ana sudah tahu apa yang Andra bawa, sekaligus penyebab 20 menit keterlambatan keduanya, tapi tetap saja Ana ingin bertanya. Sesuatu yang Andra bawa itu jelas sekali adalah makanan, sebab aromanya sudah menguar tajam sejak keduanya menginjakkan kaki di ruangan. Tak sulit pula menebak makanan apa yang ada di dalam kotak persegi yang cenderung pipih tersebut, pizza.

“Itu apa Ndra?”

“Pizza Kak, hehe.” Andra menyengir cengengesan, menampilkan satu gigi taring bawahnya yang tanggal.

Penampilan Andra dan Bayu itu sangat bertolak belakang, kecuali kulit keduanya yang sama-sama kuning langsat. Andra memiliki postur tubuh yang besar dan tinggi, badannya pun bahkan bisa dibilang gemuk. Pipinya yang gembil menurut Ana tampak lebih besar dari tomat dan semakin terlihat besar karena matanya yang sipit. Lucu sekali. Dalam hal tinggi badan, Bayu kalah jauh dengan Andra. Tinggi Bayu mungkin hanya lebih tinggi dua atau tiga sentimeter dari bahu Andra. Tubuh Bayu juga cenderung kurus. Intinya Andra dan Bayu sangat berlawanan dalam hal penampilan fisik.

“Kak, kita boleh ya makan pizza dulu, sebentaaaaar aja Kak. Sepuluh menit aja deh. Beneran sepuluh menit. Pake timer juga boleh Kak. Pleaseeee.” Tangan Andra ditangkupkan di depan dada dengan mata terpejam, kepala diangguk-anggukan, ditambah muka memelas.

“Iya Kak, please. Kita lapar kak, mumpung pizza nya masih hangat, lagian pizza nya juga ukuran kecil kok Kak, jadi enggak akan lama makannya” tambah Bayu yang tak kalah memohon.

“Pizza ini yang beli kalian berdua?”

“Bukan Kak, pizza-nya aku yang beli, tapi makannya bareng-bareng” jawab Andra.

Apalah daya Ana melihat kedua muridnya memohon dengan wajah lapar selain mengizinkan keduanya untuk memakan pizza. Sejujurnya bukan hanya Andra dan Bayu saja yang lapar, Ana juga lapar. Kehadiran pizza meski dalam kotak ukuran kecil itu, semakin menambah kruyuk-kruyuk dalam perutnya.

“Oke, sepuluh menit aja ya. Habis itu cuci tangan, semua sampah dibereskan, meja dalam keadaan bersih dan sudah siap untuk belajar.”

“Horeeeee. Asiiiiiiik.....” keduanya bersorak penuh kemenangan, menyisakan Ana dengan helaan napas yang berat, menahan godaan aroma pizza yang kini sudah dikeluarkan dari kotaknya.

“Kak aku ada PR ini nih, dikumpulin besok” sela Andra sambil menyerahkan secarik kertas terlipat tak beraturan.

Ana sedikit mengerutkan keningnya seraya membuka kertas dengan perlahan karena takut robek, serta memastikan kertas yang diberikan Andra adalah benar PR-nya.

Ini kertas PR atau bungkus cabai sih, lecek amat begini Ndra?

Ana sedikit terselamatkan dari bau pizza yang sangat menyengat karena PR yang dibawa oleh Andra sedikit banyak telah mengalihkan fokusnya.

“Kak Ana, Kakak boleh ambil satu nih.”

“Hmm” gumam Ana yang masih konsentrasi membaca soal-soal sehingga mengabaikan panggilan dari Andra.

“Ini Kak, mumpung pizza-nya masih hangat” tambah Andra yang menodongkan kotak pizza tepat di depan wajah Ana. Dalam refleks yang cepat Ana memundurkan wajah dari kotak pizza di hadapannya dengan mata membola. Tersisa dua potong pizza dalam kotak, masing-masing telah memakan satu pizza.

Tahu aja Ndra, kakak lagi lapar...

“Enggak usah, buat kalian aja. Nanti kalian enggak kenyang” tolak Ana dengan mendorong balik kotak pizza tersebut.

“Enggak apa-apa Kak, ambil satu. Nanti sisanya aku bagi dua sama Bayu.”

Ambil.. enggak.. ambil.. enggak.. ambil...

“Beneran, buat kalian aja. Itu kan pizza-nya kecil lho Ndra. Katanya tadi kalian lapar?”

“Kak, serius deh enggak apa-apa, ambil aja. Kita udah cukup kok. Kalau kurang nanti pas pulang ya kita jajan lagi hehe. Ini penting Kak buat aku, harus berbagi. Kata Bunda, aku harus berbagi. Masa cuma aku sama Bayu doang yang makan, Kakak enggak makan.”

Hening.

Sesuatu menghantam keras dada Ana saat melihat binar mata Andra menawarkan sepotong pizzayang ditambah dengan embel-embel harus berbagi. Mendadak ada selaput bening yang membayangi mata Ana, pun matanya terasa panas. Sesederhana itu dirinya disentil oleh logika berbagi. Rasa lapar hilang tiba-tiba meski dirinya sudah memegang sepotong pizza milik Andra.

“Makasih ya Ndra.”

Kondisi lapar, lelah mengantri sekaligus berlari hingga ruangan tidak menutup keinginan Andra melahap pizza-nya sendirian. Ana berpikir dengan badan Andra yang cukup besar, porsi makannya juga pasti lebih besar, terlebih pizza tersebut ukurannya kecil. Berbagi pizza lebih penting dan mengalahkan rasa lapar  yang dirasakan oleh Andra.

Jika beberapa hari yang lalu Ana membaca urgensi dan indahnya berbagi dalam sebuah buku, kini Ana melihat langsung indahnya berbagi dalam sepotong pizza. Dirinya memang sudah banyak membaca artikel atau bacaan tentang berbagi, tetapi terkadang logikanya tak sejalan dengan kenyataan untuk berbagi, terutama dengan apa yang dimiliki secara terbatas dan disukainya. Namun hari ini Tuhan mengizinkan Ana untuk belajar berbagi melalui bocah kecil bernama Andra.

Saat Ana mengakhiri sesi belajar bersama kedua muridnya, Andra buru-buru bertanya, “Kak kita kok enggak belajar materi keislaman?”

Ana menjawab pertanyaan Andra dengan senyuman lebar nan lembut, “Udah kok tadi pas sesi makan pizza. Kita kan udah belajar untuk berbagi.”

  • view 268