Indonesia Bangkit, Indonesia Sehat

Annisa Nursita
Karya Annisa Nursita Kategori Kesehatan
dipublikasikan 24 Mei 2016
Indonesia Bangkit, Indonesia Sehat

Indonesia Bangkit, Indonesia Sehat

 

Saat itu matahari memang belum terlau tinggi mengangkasa, hanya terasa hangat menerpa. Tubuhku yang terasa sangat ringan mulai berjalan gontai mendekati salah satu fasilitas pelayanan kesehatan primer yang letaknya hanya satu kilometer dari rumah. Sepertinya aku menyerah untuk bertahan dari serangan sakit kepala dan demam yang kurasakan semenjak satu minggu terakhir ini, yang parahnya tak kunjung menghilang setelah dua-tiga kali mencoba untuk minum obat warung. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk datang ke sini.

Ketika kaki terhenti di pintu gerbang utama, entah mengapa reaksiku hanya diam mematung untuk beberapa menit, memandangi apa yang tertangkap oleh retina. Sejauh mata memandang, tempat ini dipenuhi oleh puluhan manusia yang mungkin memiliki tujuan yang sama denganku, yaitu berobat. Bertemu dengan dokter ahli kesehatan kemudian berharap ia dapat memberi solusi terhadap kondisi kesakitan kami saat ini.

Meskipun diliputi kegamangan apakah bisa berobat atau tidak – mengingat tempat ini sangat penuh oleh orang yang mau berobat -, kuputuskan untuk tetap melangkahkan kaki masuk ke dalamnya. Ternyata diriku disambut oleh sebuah kotak yang di dalamnya telah tersusun rapi potongan kertas nomor antrian pendaftaran. Tujuh puluh satu, adalah nomor yang kuambil dan memang nomor itulah yang menjadi urutanku saat ini. Tak lama berselang, terdengar panggilan dari dalam ruangan pemeriksaan, “Nomor enam....tujuh....”. Alhamdulillah hanya empat nomor lagi hingga giliranku tiba. “Nomor enam....gak ada nomor enam? Nomor tujuh...” Mendadak kaki terasa lemas setelah mendengar kalimat terakhir yang disuarakan dari dalam ruangan pemeriksaan dengan pengeras suara itu. Nomor antrian saat ini masih berada di urutan enam atau tujuh, masih ada berpuluh-puluh pasien yang harus mendapat haknya sebelum tiba giliranku. Sepertinya aku harus mencari tempat duduk sebelum aku benar-benar lemas dan kesulitan untuk berdiri. Sayangnya di sekitar ruang pemeriksaan tidak ada satupun tempat duduk kosong yang tersisa, bahkan terlihat banyak yang bersedia menunggu dengan tetap berdiri. Mencoba beralih ke area depan gedung, tampak beberapa tempat duduk yang masih kosong, namun sayangnya matahari sudah mulai tinggi mengangkasa dan rasa hangatnya sudah berubah menjadi panas terik. Bingung dengan kondisi seperti ini, aku melupakan bahwa aku belum mendaftar di bagian loket registrasi pasien. Ternyata nomor antrian pendaftaran masih berada di urutan 20. Itu artinya masih ada 50 nomor lagi yang belum diproses untuk sekadar mendaftar.

Sudah cukup aku tidak kuat menunggu selama itu, tubuhku seperti meraung untuk minta direbahkan saat ini juga. Segera kuusap layar ponsel pintar dan kutekan langsung simbol untuk terhubung dengan adikku di rumah agar menjemputku. Beginikah rasanya mengantri panjang untuk mendapat layanan kesehatan dengan menggunakan akses gratis dari pemerintah. Sejauh ini, aku hanya menyaksikan pemandangan serupa dari balik layar televisi saat menonton tayangan berita.  Memang yang terjadi di depanku saat ini tidaklah seburuk yang kulihat di televisi, tapi aku saja sudah tidak sanggup bagaimana dengan mereka, terlebih mereka yang sudah lanjut usia. Miris rasanya melihat kesehatan Indonesia masih belum bangkit seperti ini. Sungguh seuntai doa kuselipkan kala meninggalkan tempat itu, bagi mereka yang menjalaninya dengan ikhlas akan mengalir kebaikan yang didatangkan langsung oleh Sang Kuasa.

Kali ini, cerita datang saat aku mengunjungi klinik karena ketertundaanku mendapatkan layanan kesehatan yang sudah kujelaskan di atas. Masih dengan mengakses layanan pemerintah gratis biaya pengobatan, sampailah diriku berhadapan dengan seorang dokter yang mungkin usianya lebih dari separuh baya. Di akhir pemeriksaan saat ingin memberikan resep, beliau menanyakanku, “Di rumah ada paracetamol?”. Bingung, dahiku sedikit mengerut dan berpikir sejenak sebelum kuajukan jawaban yang malah terdengar sebagai pertanyaan “Paracetamol itu mereknya atau obat sejenisnya Dok?”.

“Ya, pokoknya yang ada paracetamol-nya” ujar si dokter sesekali menatapku dan menatap kertas resep yang ada di tangannya.

“Oh kalau obat warung yang buat demam atau pusing itu ada paracemol-nya juga kan ya, Dok? Kalau itu sih saya punya stok di rumah”

“Iya yang itu, ya sudah saya tidak kasih resep obat pusing dan demam lagi saja ya. Kamu minum itu saja yang ada di rumah. Pokoknya kalau sakit kepala langsung minum saja. Besok-besok juga kalau ada sedikit keluhan pusing atau sakit kepala langsung minum obat itu saja.”

“Memang kalau setiap merasa ada keluhan dan langsung minum obat, tidak ketergantungan obat ya Dok?” tanya saya kemudian.

Sambil melepas kacamatanya, beliau menatap saya dengan pandangan dalam dan tajam, “Misal kalau kamu lapar, apa yang kamu lakukan? Makan kan pastinya? Itu artinya kamu ketergantungan dong dengan makanan? Begitu?” Beliau menggangtungkan pertanyaannya sementara kedua alisku tanpa sadar mulai menyatu sambil berusaha memahami maksud dari perkataan beliau. Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya, “Itu namanya bukan ketergantungan. Itu namanya kebutuhan. Sama dengan obat, kalau kamu merasakan keluhan pusing sedikit saja ya misalnya, langsung saja minum obat pusing. Memang itu kebutuhannya. Tidak perlu takut dengan dosisnya atau efek sampingnya. Obat yang sudah dijual di pasaran sudah aman dan tidak perlu dikhawatirkan.”

Sungguh aku melongo di tempat. Sesaat apa yang beliau katakan benar adanya, tapi untukku yang sudah terbiasa dengan konsep preventif dan promotif, ini bukan solusi dari kesehatan yang kuinginkan. Bagaimanapun obat tidak akan selamanya akan menjadi solusi dari setiap permasalahan kesehatan yang ada. Tidak adakah keinginan untuk bergerak dari perspektif “menyembuhkan sakit” menjadi “mencegah sakit”. Bukankah “tetap sehat” lebih baik dibandingkan “sehat setelah sakit”? Kalau bisa mengusahakan untuk tetap sehat, mengapa harus memilih sehat dengan melalui sakit terlebih dahulu?

Indonesia memang memerlukan perhatian yang sangat khusus terutama di bidang kesehatan, mengingat Indonesia memiliki ratusan atau mungkin ribuan pulau dengan ratusan juta penduduk di dalamnya yang memang layak untuk sehat.  Pun saat ini Indonesia juga sedang bergerak membenahi semua permasalahan kesehatan, menuju Indonesia yang lebih sehat. Namun, bagaimana jika Indonesia mencoba bangkit untuk mengambil tawaran konsep “mencegah sakit” dan “mempromosikan kesehatan” agar tidak ada lagi kasus menunggu berjam-jam demi mendapatkan layanan kesehatan atau membebankan sebagian organ tubuh dengan zat kimia yang diminum terus menerus? Memang konsep “mencegah sakit” dan “mempromosikan kesehatan” seperti layaknya menjual es di tengah musim hujan, sulit untuk diterapkan. Mengapa? Karena saat ini layanan bebas biaya pengobatan dan layanan kesehatan lainnya lebih terlihat menjanjikan dibanding dengan “mencoba sehat tanpa harus berobat”. Saya teringat dengan konsep Puskesmas yang diutarakan oleh dosen saya, di mana puskesmas saat ini sudah terlihat jauh lebih maju dengan beberapa tambahan alat medis yang canggih lagi mumpuni. “Sekarang puskesmas itu bukan lagi sebagai Pusat –Kesehatan Masyarakat – namun sudah berganti menjadi Pusat Kesehatan – Masyarakat. Konsep untuk memacu masyarakat menjadi sehat dengan cara preventif diubah menjadi kuratif atau menyembuhkan.” Entahlah ini hanya perspektif diriku sebagai seorang yang menginginkan Indonesia sehat dengan cara yang berbeda.

Mampukah kami, Indonesia memasyarakatkan kesehatan dan menyehatkan masyarakat? Kesehatan Indonesia harus bangkit. Menuju Indonesia sehat, kebangkitan Indonesia.

 

Sumber gambar : http://img.picturequotes.com/2/2/1504/health-is-not-valued-till-sickness-comes-quote-1.jpg

  • view 130

  • Almunadia Muned
    Almunadia Muned
    1 tahun yang lalu.
    Iyaa setuju mbak, trkdng skrg plyanan medis sngat dikhwtirkan ????

    • Lihat 1 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Bener mbak..keren..
    Ada kalanya sakit itu perlu analisa apa sebabnya dan disembuhkan atau dihindari penyebab sakit agar tidak terulang..
    Dan obat yang dibeli di warung mungkin hanya pereda rasa sakit..

    • Lihat 2 Respon