I Love the Little Things You Do (1. Dimanakah Allah?)

Annisa Nursita
Karya Annisa Nursita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2016
 I Love the Little Things You Do (1. Dimanakah Allah?)

 I Love the Little Things You Do

1. Dimanakah Allah?

Hari itu seperti biasa, Ana sudah siap untuk bertemu dengan murid-muridnya untuk belajar matematika. Proses belajar mengajar selalu ia buka dengan doa yang kemudian dilanjutkan dengan percakapan ringan seputar kegiatan mereka di sekolah dan di rumah, atau sekadar mendengarkan celoteh lucu para muridnya. Ada waktu sekitar 10-15 menit yang dipakai Ana untuk menyisipkan materi keislaman setiap proses belajar mengajar, dan materi yang Ana ingin sampaikan hari ini adalah tentang keberadaan Allah.

“Ada yang tahu Allah itu ada dimana?” tanya Ana memulai materi keislamannya.

Satu detik, dua detik, tiga detik...

“Di surga, Kak” jawab Kahfi.

“Di langit, Kak”, susul Aisyah yang duduk di sebelah Kahfi.

Gendys tidak mau kalah dengan dua jawaban temannya. “Menurut aku Allah ada di mana-mana, Kak”.

“Kalau kata aku sih, Allah ada di hati kita Kak.” Jawaban terakhir ini datang dari siswa bernama Nida.

Ana tersenyum geli mendengar satu per satu jawaban para siswa yang ternyata tidak ada satu pun jawaban yang sama. “Wah, jawaban kalian beda-beda semua ya.”.

“Ya kali Kak, Allah ada di mana-mana. Masa di kamar mandi Allah juga ada? Kamar mandi bukannya tempat tingal setan ya Kak?” celetuk Kahfi dengan berapi-api.

Gendys yang merasa jawabannya disalahkan oleh Kahfi tidak mau berdiam diri, “Buktinya Allah tahu apa yang kita lakukan, bahkan Allah tuh bisa melihat apa yang kita lakukan meskipun sampai ke lubang semut sekalipun. Ya kan, Kak? Nah itu kan artinya Allah ada di mana-mana tau”.

“Menurut aku Allah itu ada di surga. Kan kalau kita meninggal terus masuk surga, kita bakal ketemu Allah. Jadi Allah itu ada di surga”. Kahfi tetap pada pendiriannya.

“Udah sih, Allah itu ada di setiap hati kita. Allah tuh bisa dengar semua doa-doa kita walaupun kita doanya di dalam hati. Nah artinya Allah ada di hati kita kan?” Akhirnya Nida angkat suara juga.

“Nih ya, kalau Allah ada di setiap hati kita atau Allah ada di mana-mana, masa Allah banyak? Kan Allah itu satu. Allah Maha Esa. Nggak mungkinlah Allah kayak gitu”. Lagi-lagi Kahfi kekeuh mengelak jawaban kedua temannya.

Aisyah yang dari tadi hanya menjadi pendengar mulai bersuara,“Iiish, malah pada berantem. Kak Ana, kasih tahu jawabannya aja deh, daripada mereka ribut terus tuh”.

Mereka lucu banget sih.

Sejujurnya Ana merasa senang mendengar diskusi kecil murid-muridnya. Tidak menyangka jawaban mereka akan semenarik ini. Semua pendapat mereka tidak sepenuhnya salah, Ana hanya perlu meluruskan sedikit saja. “Sebenarnya jawaban kalian tidak sepenuhnya salah, dan tidak sepenuhnya benar juga. Jadi mungkin kita bisa mulai dengan QS Taha ayat 5. Coba Kahfi dibaca terjemahannya”. Ana menyerahkan sebuah Al-quran kepada Kahfi.

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arsy”.

“Nah di surat Taha ayat 5 dikatakan Yang Maha Pengasih, sudah pasti yang dimaksud adalah Allah Subhanallahu ta’ala. Kemudian dikatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Artinya keberadaan Allah ada di atas Arsy. Bukan di surga, bukan juga di hati kita, atau bukan di mana-mana” kata Ana memulai penjelasannya. Tampak jelas kening semua murid mulai berkerut, mungkin asing dengan nama Arsy.

“Hmm.. ada yang tahu Arsy itu apa?” tanya Ana yang dijawab dengan gelengan kepala semua muridnya. “Arsy adalah makhluk ciptaan Allah, ia merupakan makhluk terbesar yang Allah ciptakan, ia merupakan makhluk yang berada di atas langit ketujuh.”

Ana mengambil jeda dalam penjelasannya, sembari mengamati ekspresi murid-muridnya satu per satu. Semuanya menatap Ana dengan wajah serius dan mimik polos khas anak-anak. Kahfi dan Nida sudah mengganti posisi duduk tegaknya menjadi melipat tangan di atas meja sedangkan Aisyah dan Gendys memilih meletakkan kedua sikunya untuk menopang kedua pipinya. Sepertinya mereka sudah tidak sabar mendengar penjelasan Ana selanjutnya.

Kok bisa samaan gini sih posisinya? Gemas rasanya Ana melihat keempat muridnya saat ini.

“Sesungguhnya langit memiliki tujuh lapisan dan di atas langit ketujuh terdapat samudra, kemudian Arsy ada di atas samudra tersebut, ia merupakan makhluk yang Allah tempatkan di tempat yang paling tinggi dan Allah Mahatinggi di atas semua makhluk-Nya, tidak ada yang mampu untuk menyamai bahkan menandingi Allah.

Arsy merupakan singgasana yang memiliki beberapa tiang yang dipikul oleh beberapa malaikat yang agung. Ia menyerupai kubah bagi alam semesta. Arsy juga merupakan atap seluruh makhluk. Arsy Allah dipikul oleh para malaikat yang sangat besar. Saking besarnya ukuran mereka sampai-sampai jarak antara pundak malaikat tersebut dengan telinganya memiliki jarak sejauh 700 tahun perjalanan.

Rasulullah bersabda, “Telah diizinkan bagiku untuk bercerita tentang sosok malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang bertugas sebagai pemikul Arsy. Sesungguhnya jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh 700 tahun.”*

“Kak, berarti malaikatnya gede banget dong?” Semua mata melirik Kahfi yang tiba-tiba bertanya setelah Ana menjelaskan apa itu Arsy.

“Sangaaaaaat besar. Bayangkan jarak perjalanan Jakarta-Bandung yang mungkin hanya beberapa jam kemudian jika dibentangkan dari tanah hingga ke angkasa. Tinggi sekali kan? Hanya jarak daun telinga dengan bahunya saja mencapai 700 perjalanan, bagaimana tinggi keseluruhannya, pasti sangat besar dan tinggi. Kita saja sebagai manusia rata-rata usianya hanya 70 tahun.” ujar Ana sambil memandangi keempat muridnya lekat-lekat. Ana merasa setelah ini akan ada pertanyaan susulan dari muridnya yang lain.

Nah kan benar Aisyah mengangkat tangannya.

“Kak, tujuh lapisan langit itu sama tidak dengan langit yang ada kita lihat kalau sedang naik pesawat?”

Duh jawab apa nih?

“Sejujurnya Kakak kurang tahu Aisyah, mungkin nanti coba Kakak cari tahu ya. Tapi sejauh ini menurut Kakak langit yang sering kita lihat dengan tujuh lapisan langit yang Allah maksud sepertinya beda, tapi wallahu’alam bisshawab.”

“Hmm.. Kak. Kalau menurut aku juga beda deh, antara langit yang biasa kita lihat dengan tujuh lapisan langit itu. Kan tadi Kakak bilang kalau di atas lapisan ketujuh ada samudra, padahal Kakak juga pernah menjelaskan kalau bumi itu terdiri dari lima lapisan. Lapisan bumi itu paling bawah adalah lapisan inti dalam bumi, di atasnya inti luar bumi, mantel bumi, kerak bumi dan lapisan paling luar itu lapisan atmosfer. Nggak ada tuh samudranya. Iya kan Kak?”

Ah Kahfi, selalu saja berpikir kritis. Ana selalu kagum dengan Kahfi, cara berpikirnya kritis dan cerdas. Pertanyaan dari Kahfi sering membuat Ana kewalahan mencari jawaban yang sesuai dengan pemahaman anak usia 10 tahun. Namun tak jarang pula pendapatnya membuat Ana merasa terbantu dengan pertanyaan kritis murid lainnya, seperti sekarang ini.

“Sepertinya begitu” ujar Ana seraya mengangguk dan tersenyum.

“Tapi Kak, keren juga ya di atas langit ada samudra. Samudra gitu lho Kak. Ada ikannya nggak ya Kak?” Anak-anak tetaplah anak-anak. Daya imajinasinya luas sekali. Ana hanya terkekeh dengan pertanyaan Kahfi tersebut.

“Kakak, aku nanya dong.” Kini giliran Gendys yang mengacungkan tangannya dan semua tatapan beralih ke arah Gendys. “Kubah itu yang seperti setengah lingkaran untuk atap masjid kan ya? Jadi bentuk Arsy bulat setengah lingkaran seperti itu Kak?”

Kritisnya anak-anak, haaah.

“Pengertian kubah yang kita ketahui memang seperti itu, tapi bisa jadi itu tidak berlaku untuk Arsy, Gendys. Bukankah Kakak tadi bilang ‘menyerupai kubah’? Artinya bukan berarti bentuknya setengah lingkaran atau seperti bentuk kubah masjid kan. Waallahu ‘alam bisshawab. Hanya Allah yang tahu.”

Ana menunggu beberapa detik jikalau ada pertanyaan lainnya sambil memperhatikan ekspresi muridnya, tapi sepertinya tidak ada yang berniat untuk bertanya lagi.

“Kalau Kakak tidak salah menyimak, tadi ada yang bilang bahwa Allah itu dapat melihat apa saja yang kita kerjakan meskipun ada di lubang semut sekalipun, dan Allah dapat mendengar apa yang kita doakan atau kita katakan meskipun dalam hati, betul?”

Semuanya mengangguk setuju.

“Pernyataan itu benar. Benar sekali. Itulah yang disebut dengan ilmu Allah. Maksudnya dengan ilmu Allah adalah, Allah mengetahui segala sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi, sehingga di mana pun, dan kapan pun kita berada, Allah akan selalu bersama kita, melihat apa yang kita kerjakan dan mendengar apa yang kita suarakan. Namun Allah kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk.”

Ana menghela napas, menyapu tatapannya pada keempat muridnya kembali. Lagi-lagi Ana menunggu apakah masih ada yang ingin ditanyakan atau tidak.

“Baiklah, sampai di sini, ada yang mau bertanya lagi mungkin?” Serempak keempat muridnya hanya menggelengkan kepalanya.  

 “Oke, kalau tidak ada pertanyaan lagi. Jadi, kalau ada yang tanya ke kalian Allah itu ada di mana, apa jawabannya?”

Mereka kompak menjawab, “Arsy”.

 

Sebagai seorang muslim pastinya wajib untuk meyakini bahwa Allah itu ada, Allah itu hanya satu, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Namun terkadang yang sering luput dari keyakinan tersebut adalah, dimanakah keberadaan Allah. Ana memang tidak memiliki ilmu yang cukup mumpuni untuk menjelaskan keberadaan Allah secara detail kepada murid-muridnya, hanya saja Ana merasa perlu menyampaikan apa yang pernah ia dengar dan baca tentang keberadaan Allah kepada murid-muridnya. Semoga penjelasan Ana kepada murid-muridnya tidak terlalu berat untuk dipahami dan dapat menambah keyakinan mereka pada Allah.

*Hadist shahih diriwayatkan Abu Dawud (no. 4727)


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sudah baca dua kali.

    Penulisnya sangat berani memilih judul ini.
    Bagaimanapun tema ini akan jadi perdebatan di kalangan ulama, sufi dan filsuf Islam sampai akhir zaman.

    Pernah membaca tentang ini, sebuah kisah Pangeran yang mencari ilmu hikmah. Dan, jawaban dari pertanyaan ini bertingkat sekaligus menjadi perdebatan orang yang berada di tingkatan yang berbeda.

    Jawaban ini benar. Mengapa? Dalilnya kuat. Begitu pula pendapat orang lain yg mungkin berbeda.

    Intinya, Allah berbeda dengan Makhluk. Dia Maha Agung. Tak dapat disifati seperti Makhluk. Tak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Tak dapat 'diruangi' dan 'dibatasi'. Dia dekat dengan makhluk-Nya. Sangat dekat. Jangan pernah 'menghayalkan' bahwa Allah 'duduk manis' di singgasana-Nya. Mirip Raja Dunia. Serta berhati-hati jangan sampai mengarah ke Panteisme (baca tulisan Pak Ahmad Nurcholish).

    >tak ada maksud menggurui yah, mari kita sama-sama mencari, semoga sekaligus menemukan jawaban dari pertanyaan mendasar seperti ini.

    Tulisan yang menarik...
    Salam Perenungan

    • Lihat 3 Respon

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Dimanakah => Di manakah

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    Kalau menurut pendapat saya, Allah itu tidak ada dimanapun, tapi DIA ada di mana-mana......karena Allah itu meliputi segala sesuatu......Allah itu tidak terikat oleh ruang dan waktu, apalagi berada di suatu tempat.......Surga, Arys, langit ketujuh, semuanya adalah makhluk/ciptaan Allah.....dan merupakan suatu tempat......tak mungkinlah Allah berada di suatu tempat.....karena Allah itu maha besar......kalau memang Allah berada di Arsy.....itu artinya Arsy lebih besar dari Allah......padahal arsy itu cuma makhluk Allah.....
    .
    .
    .
    .
    .Referensi :
    Dan Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. (QS.Al-Baqoroh : 186)
    .
    dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS.Qof : 16)
    .
    maka kemanapun kamu menghadap di situlah "wajah" Allah. (QS Al Baqarah 115)
    .
    "Dan DIA bersamamu dimanapun kamu berada, (QS. Al hadid : 4).
    .
    .
    *Hanya pendapat saja.....bukan kebenaran yang sebenar-benarnya......karena apapun yang kita katakan/tulis...semuanya itu hanyalah persepsi pikiran kita sendiri......yg saya tulis diatas juga cuma persepsi pikiran saya saja......


    .
    >kalau menurut kamu itu salah......maka tolong abaikan saja......

    • Lihat 2 Respon

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    *baca sambil makan coki coki dulu deh*

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    ^_