BERCERMIN KE BAWAH

Annisa Harahap
Karya Annisa Harahap Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 Mei 2016
BERCERMIN KE BAWAH

Bercermin Ke Bawah

By : Haynannisa Ayano

 “Karena melihat ke bawah lebih sakit daripada melihat ke atas, seperti halnya yang ditinggalkan lebih sakit daripada yang pergi”.

Kala itu cuaca tidak sepanas musim kemarau, tidak juga sedingin & selembab musim hujan, cuacanya “yang sedang-sedang aja” hehehheh namun kesibukan merayap di pelabuhan Bakauheni-Merak mampu merubah atmosfir menjadi panas, gerah, dahaga, & lapar. Maklumlah...namanya saja tempat penyeberangan. Saya berjalan santai dengan ransel di pundak & tas selempang/cangklong di lengan. Sementara orang-orang disekitar berpacu dengan waktu semenjak bus Raja Basa-Bakauheni yang saya tumpangi menghamburkan penumpang alias sampai di pelabuhan “Hhhh....(desahan nafas) kamu sekarang sudah berada di koordinat paaaaalingggg ujung pulau Sumatera, dengan waktu hanya ± 2,5 jam kamu akan menyeberangi Selat Sunda Nisa, & letak geografismu juga akan berpindah pulau dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Lantas apalagi yang membuatmu gundah?”, monolog dalam hati sambil sesekali memperhatikan aktivitas sekitar. Saya berjalan gontai karena suasana hati gundah (maklumlah, keberangkatan kali ini ada something problem). Saya memasuki Indomart atau Alfa ya? Lupa hehehheh yang jelas minimarket di pelabuhan dehh. Perlahan langkah menuju antrian pemesanan tiket. Antrian mengular, hal tersebut tidak terjadi di depan pembayaran tiket kapal, namun terjadi di depan toilet ahhahaha. Terlihat wajah-wajah familiar (karena satu bus) pada antri di depan toilet. Sebelum menuju dermaga, saya duduk sebentar di kursi tunggu sambil menyeruput air mineral, seraya menyusun & memastikan benda-benda yang saya bawa.

Siippp let’s go...langkahku mantap memasuki dermaga. Ada seorang Ayah beserta dua orang putrinya kebingungan rute menuju kapal, sehingga karyawan di pelabuhan berteriak, “Pak pak pak....bukan lewat situ...lewat sana, lewat sana”. Tergopoh Bapak tersebut putar haluan, beban yang ia bawa lumayan banyak dan berat, padahal kedua putrinya juga telah membantu membawa sebagian tas dan perlengkapan lainnya.

“Darimana & mau kemana yaaa....Bapak ini?”, tanyaku dalam hati. Saya mempercepat langkah mendahului mereka dengan maksud agar mereka tidak salah jalan lagi. Kasian kan udah bawaannya berat & banyak masih tersesat. Pasti lelah, belum lagi ketika menaiki tangga menuju dermaga dengan beban sebanyak itu.

          Satu persatu anak tangga berhasil kunaiki dengan cepat, sementara banyak orang tertinggal di belakang. Padahal mereka duluan mencapai anak tangga paling bawah. Maklumlah, diantara mereka tidak sedikit membawa koper. Kan lumayan berat dan agak susah ngangkat koper di tangga. Bahkan ada yang sudah bawa tas, bawa koper, bawa kardus pulaaaa....Mau mudik, pindahan apa gimana Pak/Bu?

          Semakin dalam langkahku memasuki dermaga, ± 5 meter dari pandangan, kulihat seorang Kakek tua menaikkan posisi ransel hitam di lengannya. Ransel hitam lusuh dan kempot. Setelah beberapa langkah, “Gubrakkk” ransel tersebut jatuh dengan sendirinya di tengah lalu lalang orang yang sedang berjalan. Kakek tersebut terkejut, begitu pula saya. Segera ia memungut ransel yang talinya sudah putus tersebut, kemudian menyingkir dari rombongan. Kulihat ia menuju sebuah bangku lalu memperhatikan tali ranselnya yang putus, sesekali ia pasang-pasangkan talinya. “ Siapa tau bisa diperbaiki atau dijahit kembali ”. Mungkin begitu dalam benaknya. Hhhhh....saya mendesah, masih dengan tatapan ke belakang namun langkah maju ke depan sambil memperhatikan Kakek tersebut. Pasti ia sangat malu atas peristiwa tadi, atau ia kecewa karena ransel tersebut bukan sembarang ransel. Siapa tau ransel tersebut mempunyai banyak kenangan. Entahlahhh.  

          Namun potret-potret tersebut tidak sekedar terlintas di pandangan saja. Melihat kesusahan mereka, saya sadar....hidup tidak selamanya bisa diraih dengan cara instant. Bisa saja seorang Ayah tadi, atau Bapak/Ibu dengan segudang beban tersebut menaiki bus langsung ke tempat tujuan sehingga tidak perlu berlelah-lelah dengan segudang beban, atau bahkan lebih instant lagi menaiki pesawat. Melalui mereka, saya belajar bahwa, “Mereka yang sudah berumur saja masih sanggup meniti kehidupan ini dengan sisa-sisa tenaga mereka. Saya masih muda & single malah bermalas-malasan? Semua inginnya serba instant. Mungkin mereka menghemat biaya, sehingga tidak menaiki bus langsung atau pesawat, (red;ngeteng). Seharusnya mereka duduk santai bercengkerama dengan anak, menantu, dan cucu mereka, namun entah apa tuntunan aktivitas mereka sehingga masih saja bersusah payah melakukan perjalanan yang melelahkan ini.

Saya melepas ransel yang daritadi bertengger di pundak, “Huahhhh lega rasanya, tidak ada lagi beban”. Ransel yang saya beli di salah satu distro Bandar Lampung (pamer, pamer, pamer) hahaaah. Ransel yang sempurna, ia cantik dengan gantungan kunci khas Tionghoa. Berbahan dasar merah dan warnanya belum pudar. Masih setia menemani kemanapun saya pergi. Saya tertegun, mengingat peristiwa si Kakek tadi. “Kakek tadi duduk dimana ya?” (celingak celinguk), tak kudapati jua sosok tersebut. Maka nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan Nisa, seonggok daging ini berbisik kemudian.

Kapal masih bersandar. Saya memilih kelas ekonomi karena harus berhemat. Sebenarnya ingin sekali istirahat di ruang bisnis atau lesehan, namun ada tambahan biaya, belum lagi jika sewa bantal. Terlihat pedagang asongan mulai mempersiapkan barang dagangan yang akan dijajakan selama di dalam kapal, ada tas selempang, ada minyak angin, ada mainan anak-anak, ada permen mint, kacang, buku, dll. Para penumpang juga mulai membuka bekal makan siang masing-masing. Selain itu, di sudut ruangan tampak sekitar 4-6 orang perempuan modis berdandan ala biduan. Mataku melirik ke sampingnya, haduuuhhh iya juga ada orgennya. Saya sarankan, jika anda menaiki kapal dan terpaksa memilih ruang ekonomi, perhatikan dulu sekitar ruangan apakah ada alat musik yang bernama orgen. Jika ada, sudah dipastikan pasti akan ada dangdutan nantinya.

Waktu berjalan, kapal pun mulai berlayar. Pusing dan mual mulai terasa, ditambah lagi orgen dangdutan yang memekakkan telinga (saya bertahan disana tidak lebih dari 30 menit). Ada yang senyam-senyum menikmati para biduan bernyanyi sambil joget, ada yang malah meladeni dengan request lagu, ngasih saweran, bahkan ke depan untuk disco, ada juga yang tatapannya sinis memperhatikan penampilan tersebut, antara ia menikmati atau menggerutu dalam hati.

Tampak seorang pria request sebuah lagu tembang kenanga, kemudian request lagi disco Dj, dangdut, dll. Alangkah banyaknya request-an pria tersebut, setelah ia puas, ia menyelipkan uang 10.000-an di telapak tangan salah seorang biduan. “Hah???”, pekikku dalam hati. Cuma 10.000? Melihat permintaan ini dan itu pria tersebut, saya pikir ia akan menyodorkan setidaknya lembar 50.000-an lah.....Haduhhh, terlihat biduan tersebut geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka pria tersebut akan se-pelit itu, maybe...

Saya sama sekali tidak menikmati acara tersebut, yang saya perhatikan adalah seorang lelaki muda, mungkin masih single hehehh. Ia yang memainkan alat musik orgen tersebut. “Itu kan lelaki yang papasan di mushola tadi?”, lagi-lagi monolog dalam hati. Di bahu kanannya seorang biduan menggelayut sambil mengisap rokok disela bibirnya. Melihat perawakan biduan tersebut, sepertinya masih remaja, masih sekitaran SMP atau baru masuk SMA, mungkin. Sementara 2 orang biduan lainnya, sudah dewasa, mungkin umur 30-an lah...bernyanyi sambil joget, masih ada 2 orang lagi masih terlihat seperti ABG (Anak Baru Gede). Lagi-lagi potongan ayat yang sering diulang-ulang dalam suroh Ar-Rahman tersebut kusebut dalam hati.

Jika bicara jujur dari hati yang terdalam, mungkin mereka juga tidak sudi mencari sesuap nasi dengan cara yang demikian. Tapi harus bagaimana lagi? Inilah hidup, inilah kenyataan, inilah pilihan, dan inilah keputusan. Yang terbersit dalam hati malah rasa iba, bukan tatapan cemooh atau wajah sumringah karena menikmati hiburan yang mereka persembahkan. Tidak pantas rasanya saya men-judge, melempar mereka dengan tudingan-tudingan miring. Saya sadar, saya hanyalah makhluk yang diciptakan juga, ada yang lebih berhak menilai, yang bisa saya lakukan hanyalah Istigfar dan Hamdalah. Istigfar memohon ampunan agar jangan sampai membuat keputusan dan pilihan hidup yang bertentangan dengan-Nya, hamdalah untuk segala nikmat yang masih bisa dinikmati hingga detik ini.

Terlepas apa yang mereka lakukan dan bagaimana pergaulan mereka, saya percaya masih ada setitik cahaya di sudut nurani. Begitu pula dengan orang sekejam dan sebengis Hitler, para koruptor, teroris, dan para kriminal lainnya. Begitu pula dengan para LGBT yang masih jadi perbincangan hangat. Mengingatkan saya sejarah kaum Nabi Luth dan Alan Turing.

Sangat-sangat bersyukur bagi orang-orang yang masih dalam keadaan normal, berkecukupan, kalangan baik-baik, dan mempunyai iman di hati. Lantas bukan berarti orang yang sangat beruntung tersebut bebas menghakimi ini dan itu bagi mereka yang banyak kekurangan. Manusia adalah khalifah, pemimpin, bukan hakim. Hakim yang sebenarnya hanya Allah SWT. Seharusnya kita saling mengulurkan tangan dan merangkul.

Kenyataannya adalah, saling mencaci. Masih segar diingatan saya hot news beberapa bulan terakhir tentang fenomena bangkitnya kebudayaan kaum Nabi Luth. Ada yang pro & ada yang kontra. Ricuh, saling menghujat, memperkeruh keadaan bukan menjernihkan keadaan. Yang satunya meminta kebebasan, dan yang satunya melarang menyalahi kodrat. Saya juga teramat bingung dengan solusinya, namun setidaknya jangan memperkeruh keadaan dengan berbagai cemoohan terhadap mereka yang memang kurang beruntung. Sebisa mungkin yang masih mempunyai iman dan berakal sehat membantu, mengulurkan tangan, dan merangkul. Saya yakin dalam lubuk hati mereka menjerit, “Wahai orang yang sangat beruntung, bantulah kami keluar dari kesesatan, kegelapan, kebodohan, dan kemerugian ini ”.

Sesuai dengan tausiah Ust. Felix Siau :

“ Seringkali pelaku kemaksiatan bukan tak mau bertaubat dari dosa, tapi putus asa oleh dakwah yang menghakimi dan tak berikan harapan. Kita tak boleh menghalalkan yang haram pada pelakunya, namun bukan berarti tak boleh berlembut dalam menuntunnya. Dakwah ini tentang berusaha dan hanya berharap pada Allah. Dakwah itu mengumpulkan manusia lalu menyampaikan kebenaran, bukan tentang membubarkan manusia karena takut akan kebenaran”.

                Selain itu, tertuang juga dalam ayat Al-qur’an, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk (Q.S. Az-Zumar : 23)”.

“ Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya (Q.S. Al-Kahf : 17)”.

          Finally, saya memutuskan untuk pindah. Saya mengingat ada deretan kursi bagi penumpang di lantai paling atas bagian belakang kapal, tepatnya di samping mushola. Mataku berkeliling, mencari tempat duduk yang kira-kira pas. Ahaa......deretan kursi depan masih banyak yang kosong, hanya ada seorang Nenek sambil menikmati Pop mie yang masih mengebulkan asap. Perlahan saya mendekat, tampaknya ia sadar saya akan duduk di sampingnya. Refleks ia menggeser tas sandang besar ke kolong kursi, agar saya duduknya lebih leluasa. Saya duduk seraya tersenyum padanya. Jarak kami tidak kurang dari 30 cm. Sekali lagi Allah menegur saya lewat Nenek tersebut. Ketika pandangan kami beradu, saya menatap matanya yang teduh dan lelah, yang menjadi fokusnya adalah mata sebelah kanannya. Meskipun background saya bukan dari kalangan medis, saya tahu bahwa selaput putih agak tebal yang hampir menutupi seluruh kornea matanya adalah katarak. Saya tidak berani mengambil kesimpulan lebih, namun bisa saja mata sebelah kanannya tidak berfungsi lagi alias buta, maybe....Saya langsung teringat Novel Tere Liye “Moga Bunda Disayang Allah”, yang pembuatan novel tersebut terinspirasi dari kisah Helen Keller.

“Darimana?”, suaranya seperti tercekat di tenggorokan.

“Saya dari Bandar Lampung, mau ke Bekasi Nek. Nenek mau kemana?”

“Purwokerto”, jawabnya singkat.

“Apakah nenek ini sendirian?”, pekikku dalam hati. Kualihkan pandangan ke laut lepas. Pusing, mual, campur lelah masih terasa, ditambah lagi suara kebisingan mesin kapal, setidaknya tidak lagi kebisingan musik orgen heheehhhe. Beberapa menit kemudian, Nenek tersebut berjalan gontai sambil berteriak memanggil lelaki di samping tangga. Lelaki tersebut menoleh dan terkejut, kemudian ia meraih lengan Nenek tersebut. Menuntunnya menuju toilet. Oh....syukurlah, ternyata si Nenek tidak sendirian.

Hhhhh.....helaan nafas yang kesekian kalinya. Sekarang saya mengerti, mengapa saya tetap ingin pergi walaupun hati gundah gulana. Karena Allah ingin saya bercermin ke bawah, bukan melulu bercermin ke atas. Bercermin ke atas memberikan semangat dan motivasi Wowww (takjub).....namun bercermin ke bawah memberikan teramat banyak rasa syukur. Kapal akhirnya bersandar juga di pelabuhan Merak. Good Afternoon Java Island.

  • view 178