Shatvooh – Chobbees -- Dulha dan Dulhan

Annisa Pratiwi
Karya Annisa Pratiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
Shatvooh – Chobbees -- Dulha dan Dulhan

[(....)]

Para wanita telah berdiri di depan pintu rumah dulhan. Seorang wanita yang merupakan kerabat dari pemilik rumah melemparkan permen warna-warni. Aku pun ikut berebut lincah dengan anak-anak kecil.

Anak kecil berkerudung marun itu memandangiku dengan tatapan heran dan seolah-olah jijik dengan tingkahku menyerobot permen yang seharusnya sudah berada di tangannya. Anak itu hampir menangis. Aku hanya mengedipkan mata sambil mengusap pipinya. Anak kecil itu tak lepas memandangiku hingga ke depan pintu.

?Annisa, dulha sudah datang.? Shahnaz berbisik ke telingaku.

Aku mendekat ke arah kerumunan wanita dan anak-anak yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri kini. Mereka berkumpul bersama-sama untuk menyaksikan pria paling tampan di hari itu. Pria yang mungkin harum semerbak dengan kepala yang dipenuhi oleh aroma-aroma bulan madu. Aku dag?, dig?, dug?, menunggunya. Haha, mengapa aku yang jadi gemetar menantikan dulha tiba.

***

Aku melihat seorang pria berkemeja biru lengan panjang yang digulung hingga ke siku, mengenakan celana jins dan bersendal jepit sambil menenteng kresek merah memegangi tangan dulha. Santai sekali dandanannya, sedangkan di sampingnya berjalan dulha berbaju kuning emas komplit dengan turban yang melingkar-lingkar seperti ular juga sorbannya yang menjulur hingga menyentuh tanah, sepatu berujung lancip bak Abunawas di cerita dongeng ?Seribu Satu Malam.?

Dulha berjalan tanpa senyum dengan wajah yang dikelilingi jenggot-jenggot yang tak dirapikan sebelumnya. Inilah dulha yang sedari tadi kita tunggu kedatangannya.

Seorang wanita yang sejak tadi berdiri di sampingku mulai meneriakkan yel-yel, ?Mahraaz?, Mahraaz?.? Wanita yang lain di sampingku pun mengikutinya, ?Mahraaz?, Mahraaz?,? Seseorang menepuk pundakku.

?Ikuti.? Katanya.

?Mahraaz?, Mahraaz?,? Aku mengucapkan kata tersebut berkali-kali tanpa mengerti sama sekali artinya. Mereka terlihat senang ketika aku mengikuti mereka, dan aku tak ubahnya bocah kecil yang baru saja belajar bicara, aku lebih banyak lagi mengucapkan dengan mimik girang tapi bodoh. Mereka terlihat senang.

?Mahraaz? Mahraaz?? Aku mengulanginya lagi. Akan tetapi, perempuan yang tadi memintaku mengucapkan ?mahraaz?, kini malah berbalik melarang mengucapkan kata itu.

?Ssst?, jangan ucapkan kata itu lagi, karena dulha sedang berjalan mendekat ke arah kita.?

?Memang kenapa jika kita ucapkan kata itu?? Aku berbisik kepadanya.

?Ssst?, kamu tidak ingin disangka sedang memanggil dulha untuk mendekat ke arahmu kan?? Issh?.

?Sekarang, lebih baik kau ucapkan, ?Siba?, siba?,? katanya kepadaku setengah berbisik.

?Tidak!?

?Kenapa??

?Kau sajalah.?

Dan, mereka kompak megucapkan, ?Siba?, Siba?.?

Aku diam saja dan Iqbal melirikku sambil tersenyum. Sepertinya dia lucu melihat tingkahku yang seperti orang bodoh.

***

?Lihat?, lihat?, yang dinanti akhirnya tiba.? Perempuan yang dari tadi di sampingku kembali menepuk pundakku.

Dulhan keluar berpakaian hitam pekat dengan gaun biru menyala dengan manik-manik mengintip dari bagian bawah abaya hitam yang ia kenakan. Dengan kedua tangan digandeng oleh dua orang laki-laki tua.

Dulhan terlihat kesulitan melangkah. Selain gaunnya yang menyeret-nyeret tanah, juga matanya tertutup rapat dengan burqah hitamnya. Bagaimana mungkin seorang pengantin keluar malah seperti seekor burung gagak.

?Mengapa seperti itu?? Aku bertanya pada perempuan yang rajin sekali menepuk pundakku itu.

?Memang seperti itu pengantin Kashmir, maksudnya supaya si pengantin pria merasa terkejut ketika melihat penampilan pasangannya saat ia membuka burqah-nya.?

?Oh?.?

?Mobil pengantin tiba berhiaskan pita merah, putih, dan kuning menyala.?

?Menjemput dulha dan dulhan yang siap mengecap madunya pernikahan.?

?Bersanding-sanding di istana baru mereka.?

?Tak perlu bagi keduanya bersanding di pelaminan layaknya raja dan ratu sehari.?

?Memajang-majang wajah mereka dengan kilatan blitz di mana-mana.?

?Tak ada riuhnya sutradara amatiran spesialisasi hajatan, yang sibuk mengatur gaya para tetamu undangan.?

?Tak ada hingar bingar musik, maupun minuman berjenis sirup terhidang di meja para tamu.?

?Hidangan istimewa hanya diperuntukkan bagi tamu khusus yang diundang oleh keluarga pemilik hajat.?

?Bertelekan kain panjang yang dibentangkan di atas karpet, maka di sanalah hidangan-hidangan lezat itu diletakkan.?

?Aroma asap yang mengepul, dan cita rasa yang menggugah selera.?

?Selamat untuk kedua mempelai.?

?Semoga Allah senantiasa merahmati kalian berdua.?

Aku bergegas mencari Iqbal dan mengajaknya kembali ke rumah. Mata-mata memandang ke arah kami berdua.

  • view 227

  • Annisa Pratiwi
    Annisa Pratiwi
    6 bulan yang lalu.
    Ahhh jadi malu nih.. semoga bs lebih baik lagi mendeskripsikan alur cerita yg saya buat ya mba umie.. terima kasih sudah berkenan membaca.. bersama kita berkarya yuksss...

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    6 bulan yang lalu.
    Ammi .... saya jadi ikut ngerasain, jadi manten perempuan di kashmir gerah banget pasti yaa _^

    Keren deh, jadi bisa membayangkan suasana yang ada di sana lewat cerita ini _^