Ak -- Karena Cinta Tak Harus Berzina

Annisa Pratiwi
Karya Annisa Pratiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
Ak -- Karena Cinta Tak Harus Berzina

Ak -- Karena Cinta Tak Harus Berzina

?

Aku masih terus memandangi wajah pemuda di sebelah kiriku berkali-kali. Sorot matanya tajam, tetapi sesekali kosong tanpa ekspresi. Pemuda 23 tahun itu terlihat gagah dengan rambut-rambut halus yang mulai tumbuh melingkari dagunya hingga semakin menambah kesan ketampanannya.

Kulitnya putih bersih khas orang-orang Persia, tapi tak tampak seperti kulit para gadis. Bahunya begitu kokoh dengan langkahnya yang juga tegap. Dia, pemuda Kashmir itu, yang terkadang terlihat begitu sangat bergairah, tetapi bisa seketika diam tanpa aksara.

***

Pemuda itu mengusap-usap pergelangan tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

?Aku tak terlalu nyaman mengawali perjalanan di awal pagi.? Katanya.

Aku diam dan tak menggubris apa yang dikatakannya. Wajahnya datar ke arah kemudi, sama sekali tak menunjukkan ekspresi. Aku melepaskan pandangan sejauh mungkin ke arah luar jendela SUV yang kami tumpangi. Bukit-bukit hijau seperti berkejaran dan berlarian. Kami terdiam tanpa kata. Hening mengurung kami beberapa menit lamanya.

***

?Boleh aku tanya sesuatu?? Aku memecah keheningan.

?Soal apa?? Pemuda itu membalikkan wajahnya ke arahku. Wajah kami bertemu. Aku menunduk menghindari tatapannya. Dia selalu seperti itu, tetapi aku tak pernah sanggup untuk berbalik tajam menatap matanya.

?Kamu pernah jatuh cinta??

?Ya.? Dia berkata lurus ke depan.

?Apa yang kamu lakukan setelah kamu memiliki rasa kepada seorang gadis yang kamu cintai??

Mengapa bertanya demikian?? kembali tatapnya begitu dalam, hingga seolah-olah masuk ke dalam lorong-lorong di dalam mataku.

?Jawab saja jika kau ingin menjawab.? Aku berkata datar kepadanya.

Pemuda itu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Gerak bibirnya melambat dan seperti menekan semua rasa di dadanya.

?Aku tak ingin lagi mengorbankan waktu berhargaku demi sebuah ?cinta? semu.?

?Maksudnya??

?Aaliyah adalah gadis pertama yang aku ?cintai?, tapi kami tak pernah ditakdirkan hidup bersama, kanker menggerogoti kesehatannya hingga maut merenggut menyisakan duka ?cinta? teramat dalam di hatiku.? Ku dengar getar dari tiap kata yang diucapkannya dan matanya memerah.

?Setelah itu, kamu takut untuk kembali jatuh cinta dengan seorang gadis??

?Tidak.? Masih saja datar dengan mata menatap kosong ke depan.

?Aku tidak ingin mencintai siapapun sebelum aku memilikinya.?

?Soal Shahnaz??

?Aku ingin segera menikahinya setelah aku mendapatkan semua urusan duniaku, kemudian membawanya hijrah ke sebuah negeri yang diberkahi.?

Lagi-lagi ia mengungkit obsesi masa depannya. ?Jihad?, terus membayang dalam pikirannya.

?Kamu tidak ingin seperti pemuda yang lain? ?Merayakan? kasih sayang dengan sekeping coklat??

Seketika ia berbalik arah, kembali menatapku.

?Jangan mengatakan hal bodoh di hadapanku. Kami di sini tak pernah mengenal istilah merayakan cinta. Aku menginginkan seorang wanita yang mendamaikan hatiku, menyemangati masa depanku, bersama hingga akhir waktu. Kesempatan terbuka sangat luas untuk berbuat apapun, tapi aku tak pernah berminat membuka pikiran untuk ekspresi cinta yang terlalu bebas. Aku terlalu berlebihan?, tapi aku tak sedang berpura-pura?, aku ingin menjaga kemurnian cinta, hingga akhirnya dia yang ku miliki benar-benar suci.? Kali ini senyumnya mengembang.

Aku membalas senyumnya.

***

Pemuda di sampingku telah menunjukkan kedewasaan dan kematangan pikirannya. Dia bukan lagi seorang pemuda 19 tahun yang aku kenal waktu itu, yang kerap berteriak meskipun sebetulnya tak perlu, bukan lagi seorang anak kecil yang mudah terpancing emosinya.

Pemuda itu memiliki ilmu sabar melebihi yang aku punya. Waktu mengubah jalan pikirannya, waktu pula yang mematangkan mimpi-mimpinya. Aku ingin, ia menjadi seseorang yang mencari kebenaran, bukan pembenaran. Because, you?re my big son.

SUV melaju kencang, masih dengan sapi-sapi yang melenggang di kanan dan kiri jalan. Kami tak berbicara apapun setelahnya, hingga SUV berhenti pada sebuah gerbang kebun bunga nan indah, ?Nishat Mughal Garden.?

  • view 154