Trea – Teen -- Mimpi Itu…

Annisa Pratiwi
Karya Annisa Pratiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Februari 2016
Trea – Teen -- Mimpi Itu…

?Mimpi akan tetap menjadi sebuah mimpi dan tidak berarti apa-apa jika kamu tidak memberinya kesempatan untuk menjadi nyata.?

?Khayalan dan mimpi tak menyisakan batas, tapi memberi perbedaan pada dinding ruang dan makna. Maka khayalan tetaplah menjadikanmu penidur ulung, sedangkan mimpi?mengajakmu mencari celah untuk menggapainya.?

?Kalianlah mimpi-mimpi itu.?

?Sorot tajam yang terpatri sekian tahun. Segenap menyisakan rasa penasaran, tetapi terkadang menghadirkan bunyi-bunyi rindu.?

?Tak ada yang tak mungkin, jika Yang Maha Kuasa telah mengizinkan-Nya, dan itulah yang dikatakan takdir.?

***

Perjalanan menembus batas dimulai hari ini. Sejak semalam telah ku kemasi beberapa lembar pakaian ke dalam koper hitam besar. Tidak hanya itu, berkali-kali ku ciumi pakaian batik yang akan ku berikan sebagai hadiah, juga sebuah sprei batik untuk wanita yang ku kenal kebaikannya.

Hadiah kecil, tapi semoga kalian akan mengingatku, mengingat sebuah negeri yang terkenal santun dan luhur berbudaya, sebuah negeri dengan batik terbaiknya di dunia, sebuah negeri yang konon memiliki pemahaman keislaman yang sangat baik. Dan, semoga kalian terus mengingatku dengan seringai senyum yang tak lagi hanya kalian lihat di ruang-ruang obrolan semu tanpa arti. Segera?

***

Jalanan Jakarta yang tak pernah sepi membuatku berkali-kali harus menahan nafas karena khawatir. Khawatirku seakan berlebihan. Akankah pesawat itu meninggalkanku dengan tanpa mempedulikan derai tangis yang berjatuhan.

Pukul 11.30, aku masih harus dipaksa menyaksikan jalanan Jakarta yang padat merayap, nyaring klakson tanpa henti memekakkan telinga. Jam dinding yang tergantung di depan kemudi membuatku semakin kalut.

Pesawat pertama memang dijadwalkan akan terbang pada pukul 14.30, tetapi nyatanya pukul 12.00 siang ini aku masih tetap duduk manis di dalam bis Damri yang sedang membawaku menuju bandara.

Apakah aku yang salah perhitungan? Hingga seolah-olah waktuku begitu tipis antara berhasil atau tidak, antara aku beruntung atau tidak. Aku mencoba menguasai diri dan mengendalikan kepanikanku.

Bulir-bulir kepasrahan mulai menyergap. Ingin rasanya kembali mundur, aku mulai putus asa, tetapi sekejap kemudian suara parau dalam hati mengajak untuk tak mudah menyerah. ?Hadapi dulu Annisa.? Seperti itulah kira-kira bisikan yang terus menggema.

***

Tepat pukul 12.20 siang, bis memasuki area bandara. Sejenak keringat dingin membasahi telapak tanganku. Lega?, ternyata aku masih memiliki harapan. Aku meminta seorang petugas bis untuk memberitahukan soal di terminal berapa aku harus turun. ?Nanti di terminal II,? katanya sangat yakin.

***

Tiba di terminal II, segera ku raih koper hitam itu, berat dan ribetnya seperti menggendong tiga orang bayi sekaligus dalam satu waktu.

?Hap? aku melompat kegirangan, ingin segera berlari bergegas menuju pesawat.

?Maaf mbak, ini untuk penerbangan domestik, sementara untuk penerbangan internasional berada di terminal III.? Petugas maskapai menginformasikan itu.

?Lantas??

?Mbak bisa menumpang bis bandara untuk melanjutkan ke terminal III, tunggu saja di depan sana,? katanya sambil tersenyum.

Aku menelan ludah, seketika kakiku melemah.

***

Ku lihat jam yang melingkar di tanganku. Jarum-jarumnya menunjuk ke angka 12.30, sedangkan pesawat direncanakan terbang pukul 14.30. Bukanlah penerbangan internasional mengharuskan para penumpang untuk menyudahi semua administrasi yang diwajibkan, mulai dari check-in, timbang bagasi, hingga akhirnya duduk manis menunggu boarding time, tiga jam sebelum pesawat take off?

Ini perjalanan tunggal pertamaku ke negeri luar, tanpa panduan dari agen travel, seperti yang aku pernah lakukan sebelumnya. Aku mengurus semuanya mandiri.

Pukul 12.30 aku masih menunggu bis bandara yang tak jelas jam berapa akan tiba. Aku mencoba terus berdoa, mencoba berpasrah diri, mencoba memaklumi jika memang kesialan itu harus terjadi.

Jika bis bandara terlambat tiba, maka terlambat pula penerbanganku. Jika jadwal pertama ini batal, maka batal semua penerbanganku. Maka tak ada India, tak ada Kashmir, dan lupakan mereka. Aku telah siap dan mantap atas konsekuensi itu.

***

Aku semakin pusing menyaksikan manusia yang lalu lalang di hadapanku. Sepasang kekasih bule itu malah asyik berciuman di belakang. Mereka saling memagut bibir. Ingin rasanya aku memukul mereka. ?Ini negeri Indonesia! Dan, budaya ketimuran masih dijunjung di sini!? Aku menyimpan marah dalam hati.

Bapak dan anak asal Malaysia yang berada di sampingku pun sepertinya seru sekali saling melemparkan candaannya. Mereka tak tahu bahwa aku sedang dalam kondisi teramat bingung. Apa peduli mereka. ?Itu urusanmu!? Mungkin itu yang akan mereka jawab jika aku beritahu kondisi yang sebenarnya.

***

Pukul 12.45 bis bandara tiba. Rasanya ingin segera melompat untuk naik ke atas bis. Namun, kembali aku harus menahan nafas panjang, menunggu seluruh penumpang yang akan turun satu per satu. Tinggal nyonya berperawakan gemuk yang kelihatan kesusahan turun dari bis itu.

?Hap? aku melompat sambil menyeret koper beratku. Sepasang kekasih bule itu tepat pula berada di belakangku untuk menumpang bis yang sama.

Andai saja aku tak membawa oleh-oleh atau mengangkut beberapa barang pesanan seorang teman, rasanya enggan untuk menenteng koper yang membuatku merasa kesulitan bergerak. Rok model payung yang aku kenakan pun sebetulnya sudah membuatku berkali-kali tersangkut dan tersandung.

***

Tiba di terminal III, aku berlari untuk bergegas menuju tempat self check-in, menimbang koper, kemudian mendapatkan boarding pass. Lega?.

Ternayata aku malah masih memiliki sisa waktu lima belas menit untuk menunggu bis maskapai yang akan mengantar ke dalam pesawat, ku gunakan sisa waktu untuk menjamak shalat.

?Akankah kamu tahu ketegangan-ketegangan yang aku hadapi dan lewati hingga akhirnya bisa betul-betul menemuimu??

?Pengorbanan beratku sudah dimulai sejak pertama kali meninggalkan Indonesia.?

?Berjalan tertatih, hingga berpacunya gemuruh di dada dengan penuh kekhawatiran pesawat meninggalkanku dan melesat tanpa ampun.?

?Betapa berkali-kali aku menyerah, tetapi betapa berkali-kali itu pula aku mencoba mendamaikan perasaanku untuk tetap mengikuti rencana bersama waktu.?

?Jika kau beruntung maka kau akan berangkat. Maka, jika tidak, kuburlah mimpi dan anganmu semampu kau bisa.?