Kalian!

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Maret 2016
Kalian!

Suara detakan jam dinding itu terus berjalan memutar. Tak peduli seberapa banyak orang melihat ke arahnya, dia tetap optimis untuk memutar tiap detik dan tiap cerita hidup. Berpasang-pasang mata menantikan sebuah keajaiban datang agar?putaran jam tersebut menjadi lebih cepat. Raut muka penuh dengan kecemasan, entah itu cemas karena memikirkan sesuatu yang lain atau cemas karena jam mata kuliah belum juga berakhir.

Semakin lama semakin bergelayut suara seseorang yang berada di depan kelas. Ah, mungkin konsentrasiku saja yang mulai menurun. Ayolah, hanya tinggal beberapa menit saja aku pasti bisa menahan mataku yang begitu beratnya dan sesekali menggodaku untuk menjatuhkan dirinya. Dan pada akhirnya, aku menyerah dengan semua itu. Apa salahnya memejamkan mata sejenak, pikirku.

Hanya beberapa detik saja aku memanjakannya. Tak lama kemudian, tangan jahil teman yang berada beberapa sentimeter?dari arah kiri dan kananku melayangkan bolpoin ke arah punggung tangaku. Tampa disuruh, aku pun terbangun dan menyadari ketika mereka mengeksekusi kedua tanganku dengan bolpoin. Aku tak bisa menghindarinya. Coretan demi coretan terurai indah mengukir kedua tanganku. Aku hanya tersenyum melihat cara mereka membangunkanku dari godaan mataku.

Tepat setelah kedua temanku mengeksekusi kedua tanganku, berakhirlah kuliah hari ini. Kami pun bersiap-siap untuk pulang. Tentu saja, aku harus membersihkan kedua tanganku sebelum pulang. Ckckck, kejahilan mereka lantas tak membuatku marah sama sekali. Nggak masalah selagi hal itu sifatnya positif, yaitu membangunkanku di saat aku tak sengaja tertidur hahahaha!

Kami semua pulang ke rumah masing-masing dan siap berkutat dengan setumpuk?deadline yang harus kami kerjakan. Seperti biasa, kami saling mengucapkan kata perpisahan sebelum pulang. Meskipun kami semua lelah, tak ada salahnya untuk bertegur sapa satu sama lain demi kebersamaan.

Sebenarnya, kami bukanlah geng atau membuat suatu perkumpulan tertentu. Tapi, kami adalah insan-insan manusia yang sengaja dipertemukan oleh-Nya untuk saling memotivasi satu sama lain. Jumlah kami ber-13. Mungkin, sebagian orang berpikir angka "13" itu angka keramat. Bagiku tidak dan sudah banyak buktinya bahwa itu sebuh mitos yang terlalu berlebihan.

Awalnya, pertemuan kami hanya sebuah kebetulan. Saat awal kuliah, kami tidak pernah membayangkan bahwa kami bisa akrab hingga sekarang. Entah mengapa, mungkin juga sudah menjadi garis hidup kami, kami dipersatukan sedemikian rupa sehingga menambah warna dunia ini. Saat-saat apapun, entah saat suka maupun duka, kami selalu mendengarkan dan memotivasi semampu kami. Canda dan tawa silih berganti menambah cerita hidup kami. Memang, bukanlah suatu hal yang sangat mudah untuk menyatukan ke-13 karakteristik yang berbeda dalam satu lingkup kekeluargaan. Tapi, dengan aneka ragam cerita yang telah kami lewati, akan menambah rasa keterikatan ini.

Disaat ada salah satu di antara kami yang sedang mengalami suatu masalah, mereka datang dengan membawa cahaya masing-masing di tangan mereka. Cahaya-cahaya itu mengelilingi dan semakin terang ketika cahaya tersebut mendekatik. Seakan dewi fortuna berpihak kepada kami, berpendarlah segala ke-galau-an yang menyelimuti. Dan cahaya itu terus berada di sekeliling kami meski lilin mereka telah padam.

Kami selalu berbagi cahaya kami untuk sesama. Segala kata-kata mutiara dan filosofi selalu merasuk pada lubuk hati kami masing-masing. Segala gelak tawa menguasai suara-suara dunia ini sehingga suara penuh kegelapan hilang seketika. Bukan hanya itu saja, tapi kami juga saling memotivasi untuk terus berjuang merajut mimpi-mimpi kami. Ketika tugas kuliah mengejar, terkadang kami lelah untuk mengerjakannya. Tapi, ada saja salah satu dari kami yang selalu memberikan cahayanya untuk membuat kami bangun lagi.

Segala kesedihan selalu terurai ketika cahaya-cahaya itu datang. Meski sedikit memalukan, hanya itu senjata yang kami miliki dan merupakan satu-satunya jalan terakhir dalam mengungkap perasaan yang terpendam. Kami tak pandang seberapa besar kemelut yang menyelimuti kesedihan kami. Kami hanya yakin "dunia adalah satu langkah menuju surga di seberang sana", sehingga kami selalu mengisi hari-hari kami dengan berbagai cerita.

Aku hanya ingin menyampaikan kerinduanku kepada kalian, yang sudah sibuk dengan dunia baru masing-masing. Akan ada saatnya kita bersama, ada saatnya untuk berpisah sementara waktu. Karena semua memiliki takdir yang berbeda, memiliki tujuan dan?goal yang berbeda. Aku dan kalian sudah sepakat tidak keberatan jika perpisahan memang jalan yang baik untuk menentukan masa depan masing-masing. Hanya ingin mengingatkan saja, jangan pernah memutus tali silahturahim yang sudah terjalin ini, Kawan! Aku yakin, kita masih mengingat janji kelingking yang sama-sama kita tautkan dulu.