Malaikat Tanpa Sayap

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2016
Malaikat Tanpa Sayap

Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar... laailaahailalla huallahuakbar... Suara takbir bergema sedari malam Minggu kemarin. Alhamdulilah, setelah satu bulan penuh kami menjalani kewajiban kami menjalankan puasa wajib di bulan Ramadhan, kami pun dipertemukan dengan hari kemenangan kami. 1 Syawal 1435 Hijriyah menjadi saksi bisu kemenangan seluruh umat Muslim dari seluruh penjuru dunia ini. Kemenangan yang tak hanya membawa kenikmatan di dunia, melainkan kenikmatan surgawi yang tak akan mampu dijelaskan dengan ucapan. Hanya subhanallah, alhamdulillah dan allahuakbar yang mampu kami ucapkan untuk mengagungkan nama-Mu ya Rabbi atas kemenangan yang kami dapat sekarang ini.

Celoteh pagi yang selalu menghiasi rumah kami mulai terdengar lagi setelah satu bulan vakum. Mendengar ibu berusaha keras membangunkan kedua adikku untuk sholat Subuh dan mandi serta betapa repotnya beliau ketika di dapur. Aku, meski tak ikut dicelotehi oleh ibu, juga ikut nimbrung meramaikan suasana pagi itu. Yang satu ribut karena baju yang belum disiapkan, yang satu ribut karena sarapan yang masih panas, yang satu masih jadi pertapa di kamar mandi.

Suara sound dari lapangan terdengar semakin keras, bertalu-talu memanggil seluruh umat Muslim untuk segera berkumpul melaksanakan Sholat Ied berjamaah di lapangan. Tepat pukul 05.45 kami berangkat menuju tempat sholat. Masih terlihat hanya segelintir orang yang sudah mengambil posisi di lapangan tersebut. Termasuk aku dan ibu yang lebih memilih di depan barisan jamaah wanita. Gema takbir terus mengalun lembut mengelilingi lapangan ini. Terpantul jelas di dinding tembok putih itu dan semakin keras ketika berada di luar lapangan.

Kami pun duduk dan menunggu waktu sholat berjamaah. Semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan dan memenuhi barisan sholat. Aku pun mengamati orang-orang yang berseliweran menentukan tempat sholatnya. Tiba-tiba pandanganku berhenti pada salah satu bapak yang menggandeng anaknya. Awalnya aku tertarik melihat baju mereka?couple-an, lucu sekali melihat model baju dan hiasannya yang sama, berwarna ungu dengan campuran hijau dengan model yang unik. Tapi, bukan itu yang membuatku tertarik kepada mereka.

Aku melihat sorot kebahagiaan terpancar di wajah bapak tersebut ketika menggandeng anaknya. Terlihat sekali beliau tidak malu mengajak anaknya ke tempat yang ramai meskipun ku lihat anak yang digandengnya adalah ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Beliau juga ikut senang melihat anaknya berbisik padanya dan tertawa. Sepertinya, si anak berbisik tentang kegembiraannya melihat orang berkumpul untuk sholat berjamaah.

Aku pun tersenyum melihat pasangan bapak dan anak itu. Secara tak langsung beliau mengajari anaknya agar tahu bahwa dunia di luar rumah itu seperti ini sehingga ke depannya si anak tidak merasa minder jika bersosialisasi di luar rumah. Setelah mengamati bapak dan anak tersebut, perhatianku teralihkan segera ketika imam mengatakan bahwa sholat Ied akan segera dimulai. Aku pun bersiap untuk melaksanakan sholat dan berfokus untuk berpasrah sepenuhnya pada yang Maha Kuasa.

Alhamdulillah, sholat berjamaah ini selesai juga. Dan sekarang saatnya untuk mendengarkan khotbah dari penceramah. Sambil mendengarkan, tak sengaja ada seorang anak kecil yang berlari di sebelahku. Sepertinya, dia berlari dari arah belakang barisan. Dia pun berlari menuju jamaah laki-laki dan di sana ada seorang bapak yang bersiap menangkap anaknya yang tengah berlari ke arahnya. Kemudian, beliau mengambil beberapa helai koran dari tumpukan koran dan menggelar korannya di sebelahnya. Beliau duduk dengan meletakkan anaknya di atas pangkuannya.

Kau tahu, ada sebuah pelajaran lagi di sini. Seorang ayah tak malu ketika menggendong anaknya meski dia harus duduk di atas helaian koran agar anaknya tak duduk di atas tanah. Sampai-sampai, beliau menjadi pusat perhatian orang-orang di sini ketika menepi untuk duduk bersama anaknya. Beliau pun juga ikut mendengarkan khotbah meski sesekali mendengarkan anaknya berceloteh dan mencium pipi anaknya. Seakan-akan, dunia milik mereka berdua dan beliau juga tak peduli pandangan orang yang melihatnya.

Entah mengapa kedua peristiwa yang terjadi di lapangan tadi membuatku sedikit?flashback, saat aku begitu akrab dengan ayahku. Dan kini aku merasakan terasa jauh dari beliau. Mungkin memang sudah naluri seorang manusia, dia akan begitu terasa nyaman dan?intens ketika dihadapkan dengan seseorang yang berjenis kelamin berbeda dengannya.

Mungkin juga karena faktor perkembangan, istilahnya "sungkan" jika anak cewek terus-terusan dekat dengan ayahnya. Semakin dewasa, aku hampir melupakan beliau yang hampir tiada dimakan usia. Terlihat wajahnya yang semakin tua, rambut yang berubah warna dari waktu ke waktu, pendengaran yang semakin menurun. Apa yang telah ku perbuat selama ini pada beliau yang semakin renta? Aku termasuk anak yang egois, selalu ingin dituruti permintaanya. Tetapi, ketika beliau meminta sesuatu kepadaku, terkadang aku tak mendengarkannya.

Kata apa yang dapat mewakili keegoisanku selain kata?astagfirullah berulang kali ketika melakukan hal tersebut pada beliau. Sewaktu aku kecil, beliau yang selalu setia mengantarkanku ke sekolah, mengambil raporpun juga beliau. Dan satu hal yang membuatku terus mengaguminya hingga sekarang, beliau tak pernah marah bahkan membentakku sedikitpun. Jika marah atau kesal, dengan tutur kata yang lembut beliau memberitahuku yang benar bagaimana dan tak sekalipun memarahiku.?

Kadang, ketika beliau berkata untuk menunda apa yang aku pinta, aku kesal dan ingin marah karena tak segera dituruti. Tapi entah mengapa ketika beliau bertutur kata yang lembut, kekesalanku langsung hilang dan aku pun juga langsung berfikir logis bahwa memang aku harus bersabar dalam mendapatkan sesuatu.

Apa lagi sekarang yang kurang darimu, Ayah? Kau mengajarkan kepada anak-anakmu, agar kelak jadilah orang tua yang bersabar dalam mengahadapi anak-anaknya. Kau dan ibu adalah kombinasi dua manusia yang saling melengkapi. Terutama untuk ayah, meski sering ku dengar cercaan dari orang lain yang menyepelekanmu, tapi kau selalu bilang pada kami "iya sudah biarkan, jangan didengarkan". Begitu emasnya hatimu, seakan-akan telingamu tak terbuat untuk mendengarkan cercaan orang lain.

Sudah terlalu banyak gambar dan kata yang terangkum dalam memorimu. Memori tentang keluarga kecilmu yang kau bangun dengan segenap hatimu. Kalau ada kesempatan, bolehlah aku bertanya kepadamu? Apakah kau bahagia? Atau malah sebaliknya? Aku penasaran dengan jawabanmu. Dan bolehkah aku sedikit menerka apa jawabmu? "Aku bahagia, tentu saja! Karena aku punya kalian" Apakah demikian??

Bolehkah aku bercerita sedikit kepadamu? Tentang sebuah film, ya aku akan menceritakan sedikit tentang film tersebut. Ada sebuah film yang berjudul "Malaikat Tanpa Sayap". Meski aku hanya sedikit mengetahuinya, tapi judul film tersebut cocok untukmu. Bagiku, kaulah malaikat tanpa sayap itu. Terkadang, kau selalu tak terlihat?tapi kaulah malaikat untukku, ibu dan adik-adik. Kau emmang tak terbang dan menunjukkan kasih sayangmu, tapi kau tetap mendapat sebutan malaikat dan itu memang kau, Ayah.

Kasih sayang berbalut ke-jaim-an itu yang membuatmu terlihat sebagai sosok yang kokoh dan tangguh untuk menjadi imam dan kepala rumah tangga yang baik untuk keluargamu. Karena aku tahu bagaimana seorang lelaki menunjukkan kasih sayangnya kepada keluarga kecilnya. Bagaimanapun rupa, sifat dan takdirmu, kau tetaplah malaikat tanpa sayap bagiku.

  • view 198