Stranger Man, I Mean: Different Man

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Stranger Man, I Mean: Different Man

Pernahkan atau mungkin sering melihat seseorang di pinggir jalan raya sedang mondar mandir nggak jelas? Atau mungkin orang tersebut hanya terdiam, menunduk, tidur dan tak peduli dengan lingkungan sekitar beserta pakaian yang tak beraturan? Aku yakin kalian pasti sering menemukan sosok orang yang seperti ini di mana pun, termasuk aku juga sih hehehe. Dan aku yakin?ngets *halah, ketika kalian sudah melihatnya meskipun hanya berjarak 500 meter, kalian pasti akan lari terbirit-birit, hayoo pada ngaku dehh??

Ya ya ya, maksudku adalah?stranger man atau kalau orang awam bilang 'orang gila'. No no no! Perlu perbaikan kata di sini rupanya untuk melabeli orang yang seperti itu. Jadi teringat beberapa tahun silam saat aku mengikuti kuliah tamu, tepatnya semester tiga. Waktu itu pembicara dalam kuliah tamu tersebut adalah seorang noni berkebangsaan Belanda. Beliau adalah seorang psikiater yang mendalami tentang psikogeriatri, jadi lebih mendalami tentang bagaimana sih psikologis seseorang yang sudah lanjut usia dan perubahan-perubahan yang terjadi.

Beliau menceritakan beberapa kisanya bersama orang-orang lanjut usia yang mengalami perubahan pada psikologisnya. Selang beberapa wakttu, kuliah pun selesai dan aku mengambil kesimpulan dari kuliah yang beliau sampaikan. Mereka, entah lansia, dewasa, remaja, yang memiliki masalah dengan psikologisnya bukanlah 'orang gila' atau?stranger man. Konsep itu dulu yang harus ditanamkan terhadap orang-orang apalagi bagi kami, tenaga kesehatan. Baru nanti jika konsep itu sudah merasuk ke dalam pengertian yang benar, kita pasti akan?enjoy ketika menghadapi orang yang memiliki masalah psikologis.

Masalah psikologis tidak sama dengan fisik. Kalau fisik bisa dilihat dengan mata, tapi kalau psikologis? Hanya dia dan Tuhan yang tahu *lohhh hehehe, eh bener sih. Sehingga tidak salah kalau prang yang mempunyai masalaha tersebut lama untuk sembuh total karena masalahnya nggak kelihatan. Hanya dengan berkomunikasilah yang bisa menuntun mereka untuk bisa berpikir secara rasional.

Waktu itu aku dan kelompokku melaksanakan praktek klinik Departemen Keperawatan Jiwa di salah satu rumah sakit. Weewwww, awalnya sih takut juga. Jaga di ruangan yang penuh dengan pasien-pasien yang sakit karena psikisnya itu sesuatu?ngets hihihi. Pasti mikir yang macem-macem kan, nanti kalau begini lah begitu lah. Namanya juga belum tahu yak hehehe. Kami pun ditempatkan di sebuah ruang rawat inap khusus laki-laki dimana pasien-pasien ini sudah dalam keadaan stabil.?

Aku pikir bakalan menyeramkan, eh tapi ternyata nggak lohh. Lucu juga lihat tingkah mereka, apalagi pasiennya laki-laki semua pasti pada caper (cari perhatian) sama kita nih, kaum hawa lahh. Ada yang tukang ngerayu dan ngegombal, jadi tiap hari telingaku seperti sudah kebal dengan rayuannya hahaha. Ada yang cuman dieeem aja sambil ngelihatin aktifitas teman-temannya.Ada yang senyum senyum sendiri, entahlah mungkin dia sedang berfantasi di dalam pikirannya. Pokoknya lucu-lucu deh tingkah mereka, rasanya praktek selama dua minggu di sini cepet banget.

Nggak hanya itu aja, di sini aku lebih banyak belajar dari mereka. Saat itu, aku dan kelompokku mengerjakan laporan selama praktek di sini. Pastinya kita harus melihat bagaimana riwayat mereka hingga bisa sampai di ruangan ini. Astagfirullah, kagetnya bukan main! Kalau dibaca satu per satu, sebenarnya masalah yang mereka hadapi sangatlah sepele. Mulai dari ditinggal pacarnya menikah*hayoooo awas tingkat galaunya diilangin, kemudian karena tidak dibelikan sebuah benda, lalu adanya masalah dalam keluarga. Ya Allah, kita sebagai orang yang masih diberi kesehatan lahir dan batin jangan pernah luput dari rasa bersyukur yaa.

Mungkin bagi mereka, masalah seperti ini merupakan hal yang berat untuk dihadapi sehingga muncullah koping yang maladaptif. Bersyukurlah kita bisa membuat koping yang adaptif dalam menghadapi berbagai macam masalah yang ada.

Maka dari itu, kita juga harus memaklumi dan ikut serta dalam menyembuhkan mereka yang sudah terjerat dengan koping maladaptifnya. Jangan anggap mereka sebagai?stranger man melainkan anggaplah?different man. Mereka butuh untuk disembuhkan dan diyakinkan, jangan dijauhi. Yukk, mulai sekarang ketika ada atau bahkan orang-orang terdekat kita yang sudah mengalami masalah psikisnya, bantu mereka untuk membentuk koping adaptifnya. Dan kita juga bisa belajar dari mereka bahwa segala permasalahan pasti ada solusinya, sehingga kita bisa lebih menjaga diri kita dari jeratan koping maladaptif.

Semoga?quote yang aku kutip ini bisa membantu untuk menanamkan konsep kita terhadap mereka:

"Never give up on someone with a mental illness. When 'I' is replaced by 'We', illness becomes wellness."--Shannon L. Alder

  • view 93