Like A Melody

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Februari 2016
Like A Melody

Suara menderu dari balik tembok gedung. Entahlah, aku tak begitu memahami apa perbedaan antara suara sopran, bass dan lain-lain. Yang aku dengar adalah sebuah lantunan melodi yang dibungkus dengan rapi dan menimbulkan suara yang indah untuk didengar. Berbagai jenis suara berkumpul menjadi satu dalam bait-bait setiap lagu dan membuat siapa pun yang mendengarnya hanya bisa terdiam dan hanyut dalam alunannya.

Selang beberapa menit, lantunan melodi itu berhenti diikuti suara tepuk tangan meriah dari pendengar, termasuk aku yang mendengarkan meskipun dari balik tembok. Aku pun tersenyum, ah andai saja. Sungguh aku hanya berandai-andai saja, alunan melodi tadi bisa menghiasi ruangan yang akan ku temui esok hari. Bisakah aku tetap mendengarkan suara sopran bertalu-talu di dalam ruanganku nantinya? Dan jawabannya hanya satu, pasti TIDAK!

Sesuatu yang belum terbiasa pasti akan membuat kita menjadi terbiasa. Yah seperti itulah saat aku menjalani praktek Departemen Keperawatan Anak.?Oh mind, I can't imagine that! Berada di tengah sekumpulan anak-anak yang sedang menunjukkan bakatnya dalam melantunkan melodi, aww! Hemm baiklah, tapi seru kok mendengarkan suara polos mereka *sambil masang headset hehehe. Yah balik lagi seperti kalimat pertama, pasti akan terbiasa.

Saat itu aku masih semester empat, aku dan anggota kelompokku mendapat Ruang Perinatologi di sebuah rumah sakit.?Babies? Waoww, lihat para bayi seperti di foto-foto pasti kalian akan membayangkan semua bayi itu lucu. Iyaa memang, mereka lucu dan menggemaskan. Tapi, apa pendapat kalian melihat bayi yang sedang sakit? Apa kalian masih tetap dengan argumen kalian? Bagiku IYA!

Ketika aku dan anggota kelompokku melakukan orientasi di ruangan tersebut, jujur saja, suara melodi yang kudengar kemarin hilang sudah. Bukan sopran, apalagi bass melainkan suara 'lain'. Iyaa suara tangisan maksudku, suara dengan melodi yang beraturan *menurut si dedek bayi hehehe. Dan siap-siap aja yaa, telingaku pasti akan terbiasa dengan suara 'lain' ini kok hihihi *uupsss.

Benar saja, saat itu aku sedang jaga?malam. Aku pikir, dengan datangnya malam para?dedek bayi ini akan tidur dengan tenang. Tapi sepertinya dugaanku salah besar hahaha. Bukannya tidur, dengan santainya mereka mengeluarkan suara 'lain' dengan indahnya. Yeahhh, ini adalah malam 'terindah' dimana aku terpaksa harus mendengarkan suara mereka. Bagus atau jelek, aku harus mendengarkan mereka. Mengerti atau tidak, aku harus memahami maksudnya. Namanya juga bayi, apa yang bisa mereka lakukan selain itu untuk menyampaikan maksudnya kepada kita.

Tentu saja hal ini berlanjut hingga aku menyelesaikan praktekku di ruangan tersebut. Aku pun mengambil kesimpulan bahwa suara 'lain' para bayi ini unik. Mereka mengajarkan kepadaku bahwa segala macam suara yang ada di dunia ini tidak ada yang bisa menandingi betapa hebatnya suara yang mereka lantunkan. Mereka berusaha menyuarakan suara mereka dengan berbagai intonasi yang berbeda meskipun tujuan mereka sama, yaitu ingin didengarkan. Meskipun bagi kita suara mereka?awful banget dan berisik (mungkin), anggap saja itu merupakan latihan bagi kita, sebagai calon orang tua *uhukkk untuk terbiasa mendengarnya. Sekali lagi, suara mereka itu unik!

  • view 175