Dear My Beautiful Rain

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Dear My Beautiful Rain

Dua puluh satu tahun lamanya kau menemaniku. Tak dapat dipungkiri lagi kau pula yang lebih tahu tentang aku. Aku masih ingat betapa kau sangat mendambakan kelahiranku dua puluh satu tahun yang lalu. Dengan beban yang semakin berat di punggung dan perutmu, kau tetap berdo'a kepada Tuhan agar aku selalu baik-baik saja hingga kau mampu melihatku menatap dunia. Aku tak ingat persis seberapa sering kau mengajakku berbicara saat berusia 24 minggu. Aku juga tak mampu menghitung berapa kali kau mengusap perutmu agar aku tetap bergerak dan membuatmu bahagia bahwa aku akan hidup.

Segelintir wanita yang berada persis seperti posisimu pasti menggunakan waktunya lebih banyak di rumah dan menyibukkan diri untuk membuat para malaikat kecilnya agar tetap sehat. Tapi kau tidak, kau harus tetap kesana kemari untuk membantu seorang lelaki, yang juga memberikanku kehidupan, agar ketika aku lahir kehidupanku terjamin, ucapmu. Aku bisa merasakan bagaimana kau berusaha menahan rasa sakit yang semakin hari semakin bertambah, demi aku anak pertamamu. Aku tak bisa membiarkanmu kesakitan karena menahanku. Aku bertanya pada Tuhan kapan aku bisa mengurangi rasa sakitmu? Tuhan pun menjawab, sebentar lagi ya. Kamu akan bertemu dengan seorang wanita tangguh, di mana kamu akan terus bisa menapaki jalan kehidupanmu dengan baik melalui wanita tangguh ini. Lalu aku diam dan terus menanyakan pertanyaan yang sama kepada Tuhan ketika aku merasakan kau memijat lembut bagian punggungmu.

Dan mungkin ini adalah pertanyaan terakhirku kepada Tuhan, Tuhan menjawab pertanyaanku, kamu akan ku kirimkan ke dunia. Berjanjilah satu hal pada-Ku, jangan pernah menyakiti wanita tangguhmu ini sampai akhir hayatnya. Berikan kebahagiaan yang pantas untuk wanitamu, doakan dia setiap harinya agar aku selalu berada di sampingmu dan sampingnya untuk menjaga kalian.

Akhirnya, untuk pertama kalinya aku bisa menangis sekencang-kencangnya dan menghirup udara di sekitarku. Mataku masih belum terlihat jelas, namun yang pasti aku mampu mendengar seorang lelaki membisikkan suara adzan ditelingaku dan suara wanita yang penuh haru. Apakah itu kau, wahai wanita tangguhku?

Iya memang, itu adalah wanita tangguhku. Hei, kenapa pipimu begitu basah, Ibu? Melihatku berada di sisimu, sebegitukah kau menantikanku? Rasanya tangan kecilku ini ingin mengusap air matamu dan ingin mengatakan aku baik-baik saja, tapi apa dayaku yang hanya bisa menangis. Hari demi hari aku pun banyak belajar dari wanita tangguhku. Dia mengajariku segalanya, aku pun terkesima dengan apa yang dia ajarkan kepadaku. Waktupun berlalu dengan cepat, di mana aku beranjak dewasa. Aku lebih diam dibanding dulu terhadap wanitaku. Wanitaku tetap mengajakku untuk berbicara dan membuat suasana sepertidulu kala. Tapi aku merasa, aku menjadi orang berbeda dari malaikat kecil yang ibuku kenal.

Melihat itu semua, Tuhan mengingatkanku bahwa aku punya janji untuk memberikan kebahagiaan untuk ibuku. Lantunan kalimat istighfar dan permohonan ampunan kepada Tuhan selalu ku haturkan manakala aku lupa pada janjiku. Akhirnya, sedikit demi sedikit aku mulai kembali seperti malaikat kecilmu yang dulu. Aku mulai membicarakan beberapa rencanakudalam menggapai impianku, selalu berkata jujur jika ingin bermain dengan teman-temanku, dan masih banyak lagi yang kita bicarakan. Ibu, kau tahu aku paling suka dengan keadaan seperti ini. Maafkan aku ya, beberapa waktu yang lalu aku sempat membuatmu terdiam lebih lama.

Sudah banyak kata maupun kalimat yang mendefinisikan tentangmu, tapi aku tetap 'ngeyel' untuk menjelaskan tentangmu. Bantu aku untuk terus membahagiakanmu, Bu. Jangan pernah lelah untuk selalu mendoakanku agar aku bisa membawa nama baik keluarga kita. Aku pun berusaha agar setidaknya aku bisa membayar rasa sakit hatimu dahulu dengan apa yang aku lakukan. Tetap jadi?my beautiful rain-ku ya, di mana segala pengharapandan do'a-do'a baik tumpah ruah sama seperti ketika hujan turun. Biarkan aku, kau dan Tuhan yang tahu ikatan cinta dan kasih sayang kita seperti apa.?Eomma, saranghaeo !!