Rumahku Surgaku

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 September 2016
Rumahku Surgaku

Ada hal yang tidak bisa dipungkiri dalam hidup ini, yaitu status kelahiran kita. Status disini berkaitan dengan dari mana kita berasal, lebih tepatnya dari keluarga mana kita berasal. Satu hal yang menarik tentang “keluarga”, iya keluarga, tempat pertama kali kita mengenal orang yaitu: ayah, ibu, dan saudara kandung. Definisi yang kurang absolut sepertinya, namun setidaknya mewakili apa arti keluarga bagi kita, termasuk aku yang memaknainya secara implisit.

            Sedikit pembukaan tentang keluarga ya dan sekarang mengulas lebih dalam apa arti keluarga bagiku, termasuk tentang hal-hal indah yang bisa dicontoh dari keluargaku. Setiap keluarga memiliki cerita uniknya masing-masing, tidak akan pernah ada yang sama karena peran dari orang-orang di dalamnya pasti akan berbeda satu sama lain. Seperti kata sebuah peribahasa, lain ladang lain belalang itu memang benar. Misalnya, peran sebagai seorang ayahku dengan ayah temanku. Mereka sama-sama berperan sebagai seorang ayah di dalam keluarganya, sama-sama sebagai pemimpin keluarga, namun apakah memiliki cerita yang sama pula? Jawabannya pasti tidak.

            Kalau dari sudut pandangku sebagai seorang anak pertama, peran yang dipegang masing-masing oleh anggota keluargaku telah berhasil dipegang namun belum secara utuh. Bukan karena apa-apa, tapi memang kami masih belajar bersama-sama apa arti keluarga yang sebenarnya. Hal ini terus mengingatkanku pada kejadian beberapa hari yang lalu dan sepertinya aku “ditampar” secara tidak langsung oleh Tuhan. Bahwa aku, sebagai anak pertama sekaligus berperan sebagai anak pertama, tidak boleh egois dengan kepentingannya sendiri tanpa memikirkan kepentingan adik-adikku.

            Ceritanya begini, saat itu aku minta dibelikan sesuatu oleh ayahku. Kebutuhannya termasuk tidak mendesak, tapi aku tidak menyadarinya sampai tiba saatnya ibuku memarahiku hehehe. Yah namanya juga ibu ya, apalagi sifat beliau sangat ketat dan keras, sangat berbeda dengan sifat ayahku yang kalem dan tidak pernah marah. Awalnya bukan masalah besar namun menjadi besar karena sifat ibuku. Beliau mulai membicarakan kalau aku adalah kakak yang egois, meminta barang yang bukan proritas kebutuhan, tidak memikirkan adik-adiknya daaann seterusnya. Untung saja ayah selalu diam dan tidak ikut “ngompor-ngompori” saat ibu marah wkwk.

            Esensinya bukan terletak pada sikap ibuku terhadap perbuatanku, namun ketika ayah lebih memilih diam ketika ibu marah. Dan hal ini terus menerus terjadi sepanjang tahun hingga sekarang. Namun setelah itu, ibu kembali ke keadaan seperti biasanya dan kita juga melakukan aktivitas sehari-hari. Tidak ada yang mengungkit kejadian kemarin dan mencairkannya dengan suasana baru. Nah, dari sinilah salah satu hal yang bisa aku contoh dari kedua orang tuaku.

            Aku adalah anak pertama yang lebih tahu jatuh bangunnya keluargaku sebelum dan sesudah ada adik-adikku. Aku juga yang paling tahu saat-saat dimana keluargaku jatuh di titik terpuruk namun kita bersama-sama kembali bangkit lagi dan memulainya dengan baik. Aku tahu ketika ibu sudah tidak tahu lagi harus bagaimana sedangkan ayah hanya bisa diam saja, dan aku juga tahu ketika itu beliau hampir kehabisan kesabarannya dalam menghadapi suatu ujian dari-Nya. Aku sangat tahu bagaimana perkembangan keluargaku.

            Namun dari semua hal yang kami lalui bersama, tidak pernah menjadikan beban hidup dan kami terus berjalan menuju ridho Allah. Mungkin inilah yang disebut keluarga, tetap satu misi dan visi untuk masuk ke dalam surga-Nya. Sehidup sesurga, kata itulah yang bisa mewakili keluargaku. Ketika ibu dan ayahku memutuskan untuk hidup bersama, mereka juga berkomitmen untuk selalu bersama dalam keadaan apapun di depan para saksi dan yang terpenting dihadapan Allah.

            Surga Allah itu indah, namun hanya orang-orang kuatlah yang mampu mencapai surga-Nya termasuk keluargaku insyaAllah. Segala hal yang menempa kami merupakan hal yang perlu diberikan oleh-Nya agar Dia tahu seberapa tangguhnya kami untuk mencapai surga-Nya, apakah pantas atau tidak. Tinggal kita saja yang menentukan bagaimana membalut setiap perjalanan ini dengan cara yang bagaimana. Dan tak terlupakan juga bagaimana membangun keimanan dalam diri ini agar terus membimbing keluarga kita sehingga menuju surga-Nya dengan cara yang baik.