Yang Kamu Lakukan ke Saya Itu...

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Juni 2016
Yang Kamu Lakukan ke Saya Itu...

“Setelah sekian purnama terlewat, semesta pun seolah mendukung pertemuan itu” – Batas - Aan Mansyur.

            Ciee ciee yang baper hihihi. Mungkin yang nulis lebih baper lagi ya *uupss. Yak, kalimat di atas sepertinya bukan kalimat yang asing untuk kita semua. Sepenggal kata-kata yang terselip dalam salah satu film yang ramai dibicarakan. Dan pada akhirnya kata-kata ini membuat semua orang baper *termasuk aku hahaha.

            Setiap orang memiliki persepsinya sendiri, ada yang berpikir bahwa jika dia melakukan perbuatan A maka akan berdampak positif kepada dirinya, sedangkan orang lain bisa saja terkena dampak positif atau bahkan yang paling buruk, dampak negatif. Apapun kegiatan atau keputusan yang diambil seseorang selalu memiliki dua mata pisau. Namun yang perlu ditekankan disini adalah lebih kepada pribadi masing-masing dalam menanggapinya.

            Mungkin kisahnya 11 12 dengan si Rangga dan Cinta ya hehehe. Ketika Rangga memilih pergi meninggalkan Cinta dengan penuh tanda tanya, setelah 14 tahun lamanya dengan gamblangnya Rangga kembali untuk mempertanyakan cintanya kepada Cinta. Helowwww? Ke mana aja mas selama 14 tahun hahaha. Yah mungkin jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari banyak yang memiliki kemiripan kisah dengan Rangga dan Cinta. Tak perlu waktu 14 tahun, mungkin dalam waktu yang singkat sudah membuat hati jengkel ya *curhat.

            Bayangin aja, ketika sudah dekat, entah dekat dalam berbagai macam arti apapun, eehh salah satunya ada yang pergi meninggalkan bekas tanda tanya. Aduh sakit men! Menimbulkan berbagai macam prasangka buruk terharap yang ditinggalkan, itu pasti. Tapi apa yang bisa diperbuat? Mau tanya tiba-tiba langsung hilang tanpa kabar, adewwww! Sok misterius banget...

            Sehingga jangan pernah salahkan pihak yang ditinggalkan jika ke depannya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Yang meninggalkan tanpa sebab salah, yang kena dampaknya juga serba salah. Mau bertahan pun harus sampai kapan? Iya kalau kembali, kalau tidak? Ya ya, itulah berbagai macam spekulasi yang muncul. Ada juga yang setiaaa banget, aku bakalan nunggu hingga dia kembali, heii mau sampai kapan? Iya kalau kembali kepada kita, nah kalau kembali hanya membawa kabar duka gimana dong *hiyahhh.

            Kembali pada kalimat sebelumnya, setiap orang memiliki pemikirannya sendiri ketika melakukan suatu hal. Mungkin dia saja yang tidak mau mengungkapkan karena berbagai macam pertimbangan. Tapi ya namanya juga manusia ya, dibilangin se-positif apapun, kalau ditinggal tanpa sebab pun akan berpikir dua kali jika harus memberikan kesempatan kedua. Mungkin pihak yang meninggalkan itu memiliki komitmen akan memberitahukan yang sebenarnya suatu hari nanti jika waktunya sudah tepat. Hei, yakin situ masih hidup pada saat yang telah ditentukan *uupss?

            Oke okee, sekarang aku ingin mengembalikan semua pilihan kepada kalian termasuk aku juga sih, harus mengambil keputusan yang mana. Tetap berpikir positif dia akan kembali atau move up? Semua keputusan selalu memiliki pertimbangan positif dan negatif. Pilihlah dengan bijak, libatkan Tuhan sepenuhnya karena kita hanya manusia biasa yang tidak bisa memegang apapun ketika dalam kondisi jatuh selain tangan-Nya. Nah lohh, kok malah jadi baper yak hehehe. Mau tambah baper? Aku kasih sebuah puisi yang sangat fenomenal ya, semoga kita bisa memaknainya dengan baik:

Batas - Aan Mansyur

Semua perihal diciptakan sebagai batas

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain

Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin

Besok batas hari ini dan lusa

 

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara, dan kantor wali kota, juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

 

Resah di dadamu dan rahasia yang memanti di jantung puisi dipisahkan kata

Begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

 

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan

Persis segelas kopi tanpa gula

Pejamkan mimpi dan tidur

Apa kabar hari ini?

Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

  • view 137