Keinginan atau Kebutuhan?

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Mei 2016
Keinginan atau Kebutuhan?

Alur kehidupan setiap manusia itu tidak ada yang pernah tahu, hanya Tuhan yang tahu. Tapi terkadang kita sebagai manusia biasa sangat penasaran sekali bahkan memaksakan kehendak agar kehidupan yang kita jalani sekarang bisa berjalan sesuai dengan keinginan. Ada yang bilang untuk apa memusingkan masa depan yang tidak jelas kita ketahui, lebih baik jalani seperti apa adanya. Ada yang bilang masa depan itu  harus direncanakan jauh-jauh hari, entah nanti ke depannya tidak sesuai rencana itu terserah Tuhan. Lalu kalian memilih pendapat yang mana? Menjadi seseorang yang pasrah saja atau menjadi orang yang aktif dalam menjalani kehidupan ini?

Dalam menjalani kehidupan ini, ada saatnya kita bersikap pasrah, namun perbandingan dengan menjadi individu yang aktif jangan sampai berat sebelah, berat pada sikap pasrahnya saja. Berat ya? Iya memang, perbekalan yang harus kita siapkan untuk ke kehidupan selanjutnya harus lebih dari cukup, karena semua langkah kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya.

Baiklah, aku setuju dengan pendapatmu dengan memperbanyak perbekalan dengan menjadi individu yang aktif. Tapi bagaimana jadinya jika kita sudah merencanakan suatu hal namun tidak terwujud? Adakah yang perlu disalahkan? Tidak, tidak ada yang salah jika Tuhan sudah berkehendak. Tinggal kita sebagai manusia mampu menyiapkan lapangan hati yang sangat luas dalam menerima setiap kenyataan.

Sakit ya kalau ekspektasi tidak sesuai dengan realita? Aku sangat mengerti bagaimana rasanya karena aku sering mengalami hal yang demikian, mungkin beberapa hari yang lalu *curcol dikit hehehe. Nggak papa sih ya bagi-bagi pengalaman, tapi perlu diyakini oleh semuanya *termasuk aku, bahwa Tuhan sudah memiliki rencana yang baik sekali untuk kita. Awalnya memang nggak terima, marah-marah bahkan mungkin ada yang bilang ”Tuhan nggak adil sama aku” *helowww tahu dari mana Tuhan nggak adil? Tapi pada akhirnya kita akan melewati kedua masa itu dan masuk ke dalam fase “tawar-menawar”.

Kalau dalam dunia kesehatan, jika ada suatu keinginan tidak terwujud atau kita merasa kehilangan, setidaknya kita harus melewati lima fase dalam menerima kenyataan yang ada. Fase pertama adalah Denial atau lumrahnya bisa dibilang fase “nggak terima”. Fase kedua adalah Angry atau marah-marah. Nah setiap individu ini berbeda-beda dalam menerima hal-hal yang tidak diinginkan, ada yang langsung marah-marah ada juga yang masuk ke dalam fase Denial lalu Angry. Fase ketiga yaitu Bargaining atau proses tawar-menawar, eh ini bukan tawar-menawar ala ibu-ibu pasar loo, tapi beda tipis-tipis hehehe. Disini seseorang akan melakukan tawar-menawar dengan dirinya sendiri, apakah stagnan berada di fase Bargaining, atau malah mundur di fase Denial dan Angry. Semua tergantung motivasi, penguatan terhadap diri sendiri, dan orang-orang disekitarnya.

Fase keempat adalah Depression, wah ngeri ya judul fasenya hehehe. Nah dalam fase ini bisa menjadi tolak ukur individu apakah dia berhasil menanggulangi masalahnya atau tidak. Fase ini juga yang menjadi acuan dalam Keperawatan Jiwa apakah individu tersebut bisa melewatinya atau tidak. Biasanya nih kalau nggak kuat iman orang akan terjebak dalam fase ini, loh kan ngeri ya, urusan ke depannya hemm you know what I mean lah ya..

Dan fase terakhir adalah Acceptance atau tahap penerimaan. Jeng jeng jenggg, selamat kalian sudah berhasil melewati lima fase tersebut! Nggak susah kan sebenarnya, tergantung kita mau menjalaninya bagaimana. Wah enak banget ya kalo ngomong, iyadong dimana-mana namanya ngomong juga enak hehehe. Tapi beneran kok, jika kita selalu meyakini bahwa setiap kejadian yang terjadi dalam hidup ini memang yang terbaik, kita akan menjadi individu yang sangat kuat. Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Semoga bisa mengerti ya perbedaan diantara keduanya..

  • view 213