Mengejar Bayangmu

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Mengejar Bayangmu

Aku berada di antara persimpangan jalan. Di depanku ada dua jalan yang sama namun dengan tujuan yang berbeda. Sama-sama jauhnya, sama-sama susahnya, namun apa yang dituju berbeda. Aku diam cukup lama, memikirkan langkah apa yang selanjutnya akan aku ambil. Maksudku, jalan mana yang akan ku pilih? Jalan yang ada di sebelah kanan atau kiriku? Pilihan yang tidak susah sebenarnya, tapi aku terjebak di dalamnya.

Kembali ke belakang rasanya tidak mungkin. Aku sudah terlanjur berada di titik ini. Sudah sangat jauh melangkah, tidak mungkin dengan mudahnya aku menyerah dan berlari ke arah belakang lagi. Satu-satunya cara adalah memilih kedua jalan tersebut.

Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memilih jalan yang ada di sebelah kiri. Melangkah dengan pasti dan penuh keyakinan bahwa apapun yang terjadi aku harus menghadapinya. Ketika aku sudah masuk ke dalam jalan yang ku pilih, aku menemukan sosokmu, lebih tepatnya bayanganmu. Aku pun menerka-nerka apa yang kamu lakukan dengan memancingku seperti ini? Lalu aku pun berjalan perlahan namun bayanganmu tiba-tiba menghilang.

Hilang, aku pun mencari ke kanan dan ke kiri, tetap saja bayanganmu telah hilang. Apa maksudmu? Kesal rasanya ketika sudah berada di depanku tiba-tiba saja kamu menghilang tanpa jejak. Padahal aku sudah ingin sekali bertemu denganmu.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan demi menemukanmu. Dan selama kau berjalan selalu saja ada pemandangan yang tidak menyenangkan. Kamu bersama dengan yang lain, bukan denganku. Dengan senyum merekah seperti kamu tak memerdulikan aku melihatmu. Dengan santainya pula suara yang kamu ucapkan seakan tidak pernah ku dengar. Apa maksudmu? Membuatku cemburu, begitukah?

Tak hanya sampai disitu saja, aku melihat kamu dengan yang lain lagi. Bahkan ini bukan dengan orang yang tadi aku lihat. Kamu tetap tersenyum seakan aku tak melihat kelakuanmu. Bahkan, kamu pun tertawa lepas jika bersama mereka. Mengapa tidak begitu jika denganku?

Aku pun gontai dan sepertinya tak sanggup melangkah lagi. Aku terlalu takut untuk melihat pemandangan yang tak menyenangkan lagi jika aku maju ke depan. Tapi mau sampai kapan berada di sini? Sudah terlanjur memilih jalan yang ini, sudah bertekad untuk menerima segala halangan yang ada, apakah harus mundur lagi? Ini bukan sekedar 1 ditambah 1 sama dengan 2, melainkan lebih dari itu.

Sudah cukup mengeluhnya! Aku harus melanjutkannya, demi bertemu denganmu. Akhirnya, aku pun berdiri dan berjalan lagi dan terus berharap di tengah jalan nanti masih menemukan bayanganmu.

Aku pun berjalan, tiba-tiba ada awan gelap datang menghampiriku. Apa ini? Akankah hujan datang dengan derasnya? Namun aku salah sangka, itu hanya awan hitam yang bergelayutan di atasku. Entahlah, seakan dia mengikutiku berjalan, aku merasa suasana menjadi gelap. Aku kira semakin lama aku berjalan kegelapan yang terus mengikutiku ini akan menghilang, nyatanya tidak. Seakan kamu dan kegelapan ini ingin bermain denganku atau memang sengaja ingin membuatku lebih terpuruk lagi?

Sepertinya sudah terlalu jauh berjalan, awan masih gelap, tiba-tiba aku mendengar suara lantunan musik. Indah sekali, alunan piano yang dimainkan secara harmoni. Aku pun berhenti, mencari ke kanan dan ke kiri untuk lebih dekat dengan sumber suara. Nyatanya tidak, aku tetap tidak menemukan alunan suara itu dan hanya bisa mendengarkannya saja.

Sampai kapan aku terus berjalan? Aku sudah terlanjur meminum racun yang kamu tumpahkan kepadaku, dengan mudahnya kamu menghilang tanpa memberikan penawarnya untukku. Apakah takdir kita seperti ini? Terlalu misterius jika ditebak. Terlalu tinggi tembok di antara kita, terlalu jauh jarak antara kita berdua. Sampai hati aku bertanya, apakah hanya aku yang berjuang dan kamu tidak? Sejujurnya, aku terlalu bodoh untuk mengatakan bahwa aku merindukanmu.