Bermain Dengan Takdir

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 April 2016
Bermain Dengan Takdir

Betapapun besarnya usaha yang dilakukan oleh seorang manusia, sekuat apapun tenaga dan waktu yang telah dikorbankan, jika berbicara dengan takdir, siapa yang bisa melawan kehendak-Nya? Takdir sendiri terbagi dalam dua, yaitu takdir yang memang sudah menjadi garis hidup manusia dan yang kedua adalah takdir yang bisa diubah. Lalu, kamu atau aku lebih memilih yang mana? Aku memilih keduanya karena sama-sama baik. 

Mungkin salah satunya adalah tentang pertemuan, hingga sekarang masih meninggalkan tanya dalam pikiranku. Apakah aku salah berada dalam lingkaran ini atau memang sudah seharusnya seperti ini? Pertemuan antara aku dan kamu bukan sebuah kebetulan, bagiku itu merupakan salah satu perjalanan yang harus aku lalui, agar hati ini lebih peka dan tahan banting jika bertemu dengan pertemuan yang salah.

Untuk pertama kalinya, aku dan kamu bertemu. Sebelumnya aku tak pernah bermimpi bahkan bertemu dengan wajahmu. Ya benar, kita saling bertatap muka saat itu. Aku dan kamu saling berbalas senyum dan saling mengenalkan diri masing-masing. Kecanggungan pasti ada, awalnya aku dan kamu malu-malu untuk saling berbicara banyak. Tapi ternyata lama kelamaan hilang sudah rasa canggung diantara kita. Dan aku menyadari bahwa kamu lebih banyak bicara daripada aku yang lebih memilih untuk diam dan tersenyum.

Mungkin ini yang disebut dengan kecanduan saat jumpa pertama. Saat itu, aku hanya memiliki kesempatan untuk bertatap muka denganmu hanya dua kali. Setelah itu kamu pergi, tanpa sadar bahwa kamu telah meninggalkan candu dalam setiap pertemuan kita. Dan saat itu pula aku hanya bisa mengenang setiap topik obrolan kita dan tidak berharap banyak akan pertemuan selanjutnya.

Hari demi hari ku lalui seperti sebelum kita bertemu. Aku mengerjakan apa yang seharusnya aku kerjakan, kamu pun demikian. Dan pada satu titik, aku pun mencoba mencari tahu tentang dirimu tanpa harus bertanya pada orang lain. Nyatanya, itu semua tidak membantu banyak. Ini mungkin kesalahanku juga, membiarkan kamu pergi tanpa tahu siapa kamu. Pencarianku hanya berbuah sia-sia karena aku belum tahu banyak tentangmu. Akhirnya aku menyerah, berusaha melupakan semua yang telah terjadi dan fokus dengan yang ada di depanku sekarang.

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar dari teman dekatku bahwa kamu akan datang lagi. Enah aku harus menanggapinya seperti apa, yang jelas di balik punggung temanku aku tak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Bahwa aku akan bertemu lagi denganmu untuk yang ketiga kalinya. Aku berusaha menyembunyikan ulasan senyumanku dari temanku, lebih tepatnya dari dunia. Dan maaf bila aku egois karena tak membagi kegembiraan yang ku rasakan.

Ba'da maghrib, seperti biasa aku menunggu kamu dan pengunjung datang. Berulang kali aku melihat pintu keluar-masuk, entah melihat apa, mungkin berharap agar kamu segera datang atau menunggu pengunjung. Tak lama setelah itu, kamu pun datang dan untunya kamu tak melupakan wajahku. Kamu masih ingat namaku, bagaimana cara tersenyum terhadapku, iya kamu masih ingat. Cukup lega melihatmu masih mengingatku, semoga kali ini kamu tidak pergi dengan meninggalkan penasaran dalam benakku.

Pertemuan ketiga ini, aku semakin tahu tentangmu. Lebih cerewet dari yang ku bayangkan, jauh dari gelar yang telah kamu dapatkan selama mengenyam pendidikan kemarin. Tapi di sisi lain aku senang melihat ke-cerewet-anmu, setidaknya aku dan kamu tidak lagi canggung denganku.

Pertemuan berikutnya, tepatnya pertemuan keempat, kamu semakin menarik perhatianku. Aku tidak tahu apakah ini caramu dalam memecah keheningan atau kamu memang orangnya seperti itu? Apapun itu, saat pertemuan keempat ini aku merasa terhibur dengan segala leluconmu. Bahkan pengunjung pun terhibur dengan setiap kata yang kamu lontarkan. Tuhan, sepertinya aku jatuh cinta dengannya!

Memang benar apa yang dikatakan oleh oarng-orang bahwa setiap pertemuan menyebabkan kecanduan. Aku sangat berharap kita dapat bertemu dipertemuan berikutnya, tapi nyatanya takdir berkata lain. Sepertinya takdir mencoba bermain dengan kita, kita tidak bertemu pada pertemuan kelima ini. Apa karena aku yang terlalu berharap? Mungkin, bisa jadi.

Aku hanya seorang perempuan yang tidak tahu harus bagaimana jika perasaan jatuh cinta ini mendatangiku. Jika kelewat senang, tapi apa yang kita harapkan tidak sesuai kenyataan jadinya sakit hati sendiri. Tapi jika hanya ditanggapi dengan kesedihan, sayang sekali tidak bisa menikmati apa yang telah diberikan oleh-Nya, berupa perasaan jatuh cinta. Berharap? Tentunya hal itu yang bisa aku lakukan sekarang. Menyandarkan segala pengharapan hanya pada-Nya dan berdoa sebaik mungkin.

Tak kalah pentingnya adalah harus memperbaiki kualitas diri sendiri sehingga apa yang kita harapkan bisa sejalan dengan yang kita usahakan. Hidup, mati, jodoh, rejeki, sejatinya sudah ditetapkan sejak sebelum kita lahir. Aku selalu meyakini bahwa hatiku akan berlabuh pada pelabuhan yang tepat, orang yang tepat, waktu yang tepat, dan cara yang tepat. Semoga aku dan kamu bisa bertemu lagi, tidak hanya pada pertemuan kelima saja melainkan pertemuan-pertemuan selanjutnya.