Kesempatan

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 April 2016
Kesempatan

Tidak dapat dipungkiri, semua orang dibelahan dunia manapun selalu percaya dengan adanya 'kesempatan'. Entah itu berupa kesempatan yang baik atau buruk sekalipun, semua orang tidak akan pernah munafik dengan satu kata ini. Meski masing-masing individu memiliki kesempatan yang berbeda satu sama lain, tetap saja tidak akan pernah merubah mind set secara harfiah tentang 'kesempatan'.

Pernahkan kita berpikir sejenak tentang hal ini? Maksudku adalah tentang kesempatan. Pernahkah diantara kalian bahagia atau bahkan menyesali dengan kata kesempatan? Aku tidak tahu pasti data statistik yang menunjukkan berapa persen yang memilih bahagia atau menyesal. Ya benar, setiap langkah di dalam hidup kita tidak pernah lepas dari yang namanya pilihan. Pilihan baik atau buruk, semua orang pasti harus mengalaminya dan sepenuhnya memegang kendali atas semua itu.

Apalagi soal kesempatan, termasuk yang manakah kalian dengan hal ini? Mana yang lebih kalian pegang, pilihan baik atau buruk? Sekali lagi, aku tak mengetahuinya secara pasti. Entah kalian setuju atau tidak, kadang kesempatan itu datang karena memang sudah ditakdirkan dalam garis hidup masing-masing individu. Ada yang bilang bahwa kesempatan datang karena kerja keras oleh individu itu sendiri. Mana yang lebih ku pilih? Aku lebih memilih spekulasiku yang pertama, karena takdir.

Bukan bermaksud untuk menyerah dan pasrah dengan apa yang terjadi, tapi memang menurutku seperti itu adanya. Aku jadi teringat peristiwa yang terjadi kepadaku beberapa tahun silam, masih tentang kesempatan. Pada saat itu, aku lebih memilih untuk mengalah pada hal yang menurutku benar daripada terlalu memaksakan suatu kehendak yang bahkan bisa menyakiti orang-orang sekitarku. Saat itu, pilihan masa depan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya dan tak pernah terucap serta tertulis di dalam buku harianku itu harus ku pilih.

Pertanyaan demi pertanyaan mendatangiku, tapi semua pertanyaan itu merujuk pada satu kalimat "tidak adakah rasa penyesalan setelah kau maemantapkan hati dengan pilihanmu?" Iya memang! Aku menyesal, aku kalut sekali saat itu sehingga tidak bisa berpikir jernih. Itu jawabanku dahulu ketika aku masih belum dewasa. Tapi sekarang, tidak lagi dan ku buang rasa penyesalanku telah melontarkan jawaban tersebut.

Lalu bagaimana kelanjutannya? Aku tetap memegang teguh apa yang ku pilih dan berjalan sesuai dengan alur yang telah digariskan kepadaku. Dan pada akhirnya, aku tidak sampai menyakiti perasaan orang-orang disekitarku. Sekarang pun, aku menghargai atas kesempatan yang pernah ada di dalam hidupku yang dahulu. Life must go on, right?

Dan beberapa bulan yang lalu, untuk yang kesekian kalinya aku harus menghadapi kesempatan yang cukup sulit. Cuku sulit jika orang yang tak mengerti jalan pikiranku mengalaminya. Mungkin teman-temanku mengatai dalam hati mereka bahwa aku terlalu pendek dalam berpikir jauh. Itu menurut mereka, tapi tidak bagiku. Aku lebih memilih kesempatan yang lain daripada harus memilih kesempatan yang mungkin ke depannya bakal ku sesali. 

Cukup membuatku pusing saat itu karena pada kenyataannya aku yang harus menanggung pertanyaan serupa dengan beberapa tahun yang lalu, "tidak adakah rasa penyesalan setelah kau maemantapkan hati dengan pilihanmu?". InsyaAllah tidak, aku sudah memantapkannya. Bahkan, kesempatan yang aku tinggalkan itu terus melontarkan pertanyaannya "kesempatan yang kuberikan padamu tidak akan datang kedua kalinya. Apa kau yakin?" Sekali lagi aku menjawab dengan yakin, iya!

"Just keep taking chances and having fun" - Garth Brooks

Sepertinya aku dibuat jatuh cinta dengan quote ini. Aku menyukai apa yang sekarang ku pilih. Setiap orang memiliki pilihan untuk mengambil kesempatan yang ada. Jangan pernah menghakimi atas yang dipilihnya, apalagi sampai mengatakan bahwa kesempatan yang dipilihnya adalah salah. Kita tidak tahu ke depannya kita akan menjadi apa dengan kesempatan yang kita ambil. Keep moving forward and having fun with your chance!