Oma, Kamsahamnida !!

Annisa Walidatus
Karya Annisa Walidatus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
Oma, Kamsahamnida !!

Tepat tanggal 2 September 2014 aku memulai praktek klinik di semester 5. Praktek Keperawatan Gerontik menjadi pintu gerbang yang paling depan dan siap menyambutku untuk menjalani semester 5 ini. Saat itu kelompokku mendapat bagian praktek di Griya Asih Lawang, Kabupaten Malang. Hari sebelumnya kami sudah melakukan orientasi ke tempat ini. Namanya juga panti jompo pasti kebanyakan milik yayasan Non Muslim, dan memang benar ketika kami ke sana sudah disambut oleh dua anjing yang lucu-lucu namanya Pepsi dan Vino *harap diingat aku nggak pernah menyentuh kedua anjing tersebut meskipun menggemaskan hahaha.

Tibalah saatnya kami menemui pemilik panti jompo ini. Tak lama, kami disambut oleh pembimbing lahan kami, Oma Cory. Beliau pun segera menyampaikan beberapa hal terkait praktek di sini. Setelah hampir 2 jam, kami pun berpamitan untuk pulang dan memulai praktek kami dua hari kemudian. Bismilahhh...

Inilah hari pertama yang harus aku jalani. Untuk jam dinas di sini berbeda dengan rumah sakit, kalau dinas pagi jam 08.00-13.00, untuk dinas sore mulai jam 14.30-17.30, wenakkkk sumprittt dinas di sini berminggu-minggu mah aku betahhh hahaha. Kegiatan di sini juga nggak terlalu banyak dan nggak bikin capek, malah lebih banyak waktu bermain dengan para oma di sini lohh. Mulai dari mengukur tekanan darah para oma di sini, khusus hari Selasa ada cek kadar gula darah bagi oma yang mau cek saja soalnya oma-oma di sini banyak yang manja. Eehh maklum ya sudah lansia jadi sifat dan sikapnya balik lagi seperti anak kecil.

Saatnya mengukur tekanan darah para oma di sini sekaligus kamu juga harus berkenalan dengan mereka. Mulai dari menyebutkan nama sampai asalnya dari mana, oma-oma di sini juga berusaha mengingat nama-nama kita meskipun sering lupa dan menanyakan setiap hari hehehe. Kami pun mulai membagi diri dan siap untuk mengukur tekanan darah mereka. Awalnya takut jga sih harus menghadapi para oma di sini karena nggak semuanya mau?welcome dan tersenyum kepada kami. Lama kelamaan kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.

Setelah mengukur tekanan darah, saatnya membawa para oma masuk ke ruang santai. Salah seorang petugas di sini membawakan alat pijat elektrik dan menyuruh kami untuk memijat beberapa oma yang mau dipijat saja. Awalnya mereka takut dan geli saat alat mulai dijalankan, tapi malah minta nambah karena enak katanya, eeh oma yaa hehehe.

Kemudian, acara pijat sudah selesai, kami pun segera mencari pasien kelolaan masing-masing. Kebetulan, pasien kelolaanku adalah pasien yang sudah tidak bisa berjalan lagi sehingga kalau ke mana-mana menggunakan kursi roda. Nama beliau adalah Oma Maryam. Oma ini merupakan oma yang paling lama looh tinggal di sini karena oma dulu bekerja sebagai perawat lansia di sini dan tuanya pun juga dirawat di sini. Aku pun bertanya kepada beliau, kenapa nggak ada anggota keluarga yang merawat, beliau menjawab nggak ada yang mau merawat beliau saat di rumah. Dan ternyata apa yang dikatakan Oma Maryam juga dialami oleh oma-oma yang ada di sini.

Beberapa jam telah berlalu, tiba saatnya makan siang untuk para oma di sini. Bel telah berbunyi tanda bahwa makan siang akan segera dimulai. Kalau setiap kegiatan di sini selalu tepat waktu dan kalau ada yang terlambat para oma di sini juga saling menegur, pembelajaran yang sangat sederhana. Meskipun sudah lansia tapi ingatan tentang 'tepat waktu' tidak hilang. Untuk menu makan di sini sama semua, ada beberapa oma yang memiliki menu makan yang berbeda dengan lainnya karena ada beberapa pertimbangan khusus. Pun demikian jika sudah selesai makan, mereka juga tepat waktu dan merapikan tempat makannya. Wah wah, yang muda jangan sampai kalah ya sama oma-oma di sini, hayooo ngaku dehh habis makan langsung dicuci apa ditumpuk doang nih hahaha...

Setelah para oma makan saatnya menutup dengan do'a bersama dan tidur siang. Kami membantu membersihkan ruang makan dan kegiatan ini terus berlanjut hingga hari terakhir kami praktek di sini. Momen-momen penting ketika di sini sangat terkenang jelas di dalam pikiranku. Saat kami melakukan permainan dengan para oma, mereka sangat antusias bahkan kami pun tertawa melihat tingkah laku mereka.

Kalian tahu apa yang membuatku terenyuh ketika praktek di sini? Karena tidak ada anak-anak mereka yang peduli dengan para oma yang tinggal di sini. Aku yakin agama manapun selalu mengajarkan kepada kita untuk berbakti kepada orang tua dan merawatnya. Sampai-sampai Oma Cory juga berpendapat demikian. Beliau mengingatkan kami jangan sampai orang tua dibiarkan seperti para oma di sini. Karena kamu harus mengingat bagaimana perjuangan orang tua dalam membesarkan kita hingga menjadi orang yang berguna dalam masyarakat. Oma Cory sedikit cerita alasan para oma dititipkan di sini, kebanyakan alasan mereka karena di rumah tidak ada yang mengurus atau menjaga, bagi Oma Cory itu hanya alasan klasik yang nggak bisa diterima.?

See? Baik yang Muslim maupun bukan sama saja aturannya, harus jaga orang tua kita. Istilahnya, jangan sampai seperti kacang lupa kulitnya ya gaes!

  • view 96