Perjalanan Gelembung Sabun

Anna Rakhmawati
Karya Anna Rakhmawati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
Perjalanan Gelembung Sabun

 

“Cemara! Ayo tidur siang, Nak! Jangan main terus.”

Seorang ibu muda keluar menuju halaman rumah yang sebagian besar ditumbuhi rerumputan dan semak-semak. Seorang anak perempuan kecil berusia 6 tahun dengan rambut bob seperti dora muncul dari balik semak-semak sambil tertawa. Kaki dan tangannya kotor sehabis bermain tanah. Ibunya segera menggendongnya ke kran di samping rumah. Membilas kaki tangan gadis kecilnya lalu menggendongnya ke kamar tidur. Ibunya tahu, Cemara sangat sulit jika disuruh tidur siang. Akhirnya ibunya mengunci pintu kamar Cemara dari luar. Namun Cemara tidak kekurangan ide, ia menyelinap keluar kamar melalui jendela perlahan-lahan. Beruntung jarak antara jendela dan tanah tidak terlalu tinggi, sehingga ia tidak sampai jatuh. 

Cemara menuju ke tempat persembunyiannya semula, di balik semak-semak. Ternyata di tempat itu, ia menemukan sebuah kotak seperti kotak makan yang terbuat dari plastik berisi air sabun yang sangat harum. Di dalamnya juga ada alat untuk membuat gelembung sabun. Awalnya Cemara hanya melihatnya saja karena ia tak tahu, kotak air sabun itu milik siapa. Kemudian ia memberanikan diri untuk mengaduk dan membuat gelembung dari air sabun harum itu. Munculah gelembung sabun yang berwarna-warni dengan ukuran yang cukup besar. Ia memandang gelembung sabun itu dengan takjub. Di dalam gelembung itu, Cemara melihat bayangan sebuah rumah mungil dengan taman yang dipenuhi aneka bunga berwarna-warni. Tak seperti gelembung sabun kebanyakan, gelembung-gelembung ini tidak meletus dan terbang sesuai dengan arah angin bertiup. Dengan penuh rasa penasaran, Cemara mengikuti arah ke mana gelembung sabun itu terbang melintasi pagar halaman rumahnya, ke jalan setapak, melewati jembatan, dan padang rumput.

Tak terasa Cemara pun sampai di sebuah tempat yang asing dan dikelilingi oleh pepohonan yang cukup tinggi. POP!!! Tiba-tiba gelembung-gelembung sabun tadi meletus serempak.  Cemara terkejut. Ia merasa takut. Tidak ada seorang pun di sana. Sesaat kemudian ia melihat rombongan kupu – kupu putih. Ia mengikuti ke mana kupu-kupu itu terbang. Ia mencium bau harum seperti aroma pengharum ruangan di rumahnya.

“Wah! Indah sekali!” teriaknya penuh kekaguman. Gadis kecil itu merasa sangat senang dan melupakan ketakutannya sesaat. Di seberang sana, tampak sebuah rumah mungil yang dikelilingi oleh taman yang dipenuhi aneka warna dan macam bunga-bunga seperti yang ia lihat pada bayangan yang ada di gelembung tadi. Ada banyak macam bunga yang tumbuh di sana, seperti dandelion, daisy, azalea, krisan, mawar, tulip, dan lain-lain. Rombongan kupu-kupu putih tadi bergabung bersama rombongan kupu-kupu lainnya menari-nari di sekitar bunga-bunga dengan formasi yang sangat cantik. Seakan ada lagu merdu yang mengiringinya. Kemudian seorang wanita tua muncul dari dalam rumah mungil sambil membawa sebuah keranjang. Ia menaburkan bubuk berwarna keemasan ke atas bunga-bunga cantik itu. Lalu terdengar sebuah lagu yang merdu mengalun dari sana. Cemara berpikir bahwa wanita itulah yang menyanyi. Indah sekali suaranya.

“Aku ingin ke sana,” bisik Cemara. Ia berlari-lari kecil, namun kemudian ia terjatuh. “Aduh sakit!” rintihnya. Ternyata kakinya tersandung akar pohon yang melintang di jalan setapak itu. Lututnya berdarah namun tak banyak. Sementara itu, ia baru tersadar bahwa akar pohon itu bisa bergerak melilit benda yang menyentuhnya. Akar itu sudah melilit kaki kirinya, menyebabkan sandalnya tidak bisa keluar. Setelah bersusah payah membebaskan diri dari lilitan, tanpa memakai sandal ia berlari sambil memegangi lututnya yang terluka.

Wanita tua itu bernama Sofia. Setelah menyapa bunga-bunganya, ia pergi sambil membawa keranjang tadi. Sesampainya di halaman rumah berbunga itu, Cemara mencari-cari ke mana Nenek Sofia pergi. Pandangannya tertuju pada setangkai dandelion putih yang sangat cantik. Dengan gemasnya ia memetik dandelion cantik itu. Aneh sekali! Tiba-tiba bunga cantik itu berubah menjadi layu dan berwarna coklat. Lalu terdengar suara isak tangis di taman itu. Cemara ketakutan. Siapa yang menangis? Ia tak melihat seorang pun selain dirinya yang berada di taman itu. Ternyata bunga dandelion yang ada di tangannya itulah yang menangis. Pada kelopaknya yang rontok itu ada tetes air seperti air mata. Kemudian ia mendengar suara ratapan lirih, “Jangan petik aku, Gadis manis. Aku ingin tumbuh bersama kawan-kawanku yang lain.”

Cemara semakin takut. Ia heran mengapa bunga-bunga di sini bisa bicara. Akhirnya ia meletakkan tangkai dandelion itu di tanah. Ia semakin terkejut ketika nenek Sofia datang dengan wajah penuh tanda tanya. Dengan penuh penyesalan, Cemara pun akhirnya meminta maaf pada Nenek Sofia.

“Nenek, maafkan Cemara yang telah memetik bunga dandelion milik Nenek. Cemara tidak tahu kalau bunga ini bisa menangis dan berbicara seperti manusia.”

  Nenek Sofia tidak menjawab. Cemara takut kalau-kalau Nenek marah padanya. Ia memberanikan diri memandang wajah nenek. Ternyata Nenek Sofia hanya tersenyum kemudian menggandeng tangan Cemara untuk masuk ke rumah mungilnya. Nenek Sofia menghidangkan secangkir teh madu dan sepotong roti bolu. Saat sedang asyik menikmati hidangan, mereka berdua dikejutkan dengan suara gaduh di luar rumah. Ada suara orang tertawa-tawa yang diikuti dengan suara tangis dan orang marah-marah. Ternyata di luar ada segerombol kurcaci dengan rambut kepang dua sedang berfoto sambil berlarian di taman bunga. Mereka menginjak bunga-bunga yang masih kecil. Mereka tak peduli dengan tangisan dan amarah bunga-bunga itu karena mereka tak bisa mendengarnya. Nenek sofia geram sekali. Ia bergegas ke luar rumah sambil membawa sekantong serbuk berwarna keemasan. Ia taburkan serbuk itu di atas bunga-bunga. Tiba-tiba saja, para kurcaci itu ketakutan karena mendengar suara tangisan dan jeritan bunga-bunga. Mereka yang semula tertawa-tawa akhirnya lari keluar dari taman setelah mereka melihat wajah Nenek Sofia yang penuh dengan kejengkelan. Mereka bahkan tidak meminta maaf dan meninggalkan taman yang kacau itu.

Kemudian Nenek Sofia menyiram bunga-bunga tersebut lalu ia menebarkan serbuk keemasan tadi. Seketika bunga-bunga yang layu tadi mekar kembali dan ia mengajak Cemara untuk menari berkeliling taman. Cemara senang sekali, ia mendengar sebuah nyanyian yang sangat merdu mengiringi tariannya. Ternyata nyanyian itu berasal dari bunga-bunga cantik yang kini bahkan terlihat bergoyang-goyang ikut menari ditemani hembusan angin. Nenek Sofia hanya tersenyum. Ternyata ia tidak bisa berbicara, namun Cemara dapat merasakan bahwa Nenek Sofia sedang bercerita kepadanya, tentang keindahan taman bunganya. Setelah lelah menari, Cemara tertidur di bangku taman.

Hal aneh terjadi lagi. Cemara terbangun di balik semak-semak tempat ia menemukan kotak air sabun tadi. Apakah itu tadi mimpi? tanya Cemara.  Alangkah terkejutnya ia, ketika menemukan sebuah botol kecil yang berisi biji bunga matahari di tangan kanannya. Ada sebuah kertas menempel di botol kaca itu, ”Tanam dan rawatlah dengan penuh cinta.” (Nenek Sofia). Cemara tersenyum senang. Ia melihat kotak air sabun itu masih ada. Ditiupnya gelembung-gelembung sabun itu. Tampak bayangan Nenek Sofia pada gelembung sabun itu. Ia sedang melambaikan tangan sambil tersenyum pada Cemara. Kemudian terdengar bunyi “POP!!” Gelembung sabun meletus. Cemara tak bisa lagi menemukan Nenek Sofia dan taman bunganya. Ia pun segera berlari ke jendela kamarnya. Di dalam kamar ternyata ibunya telah menunggunya di balik pintu dengan muka jengkel seperti Nenek Sofia yang menghadapi para kurcaci tadi. Cemara hanya bisa tersenyum memamerkan gigi susunya sambil menunjukkan botol biji bunga matahari tadi pada ibunya. Entah mengapa tiba-tiba ibu Cemara merasa sedih dan menitikkan air mata saat menerima botol itu. Kemudian ia memeluk Cemara dengan penuh cinta. “Nanti kita tanam dan rawat bersama biji ini ya, Sayang,” bisik ibunya. Cemara mengangguk sambil tersenyum.  Botol itu mengingatkan Ibu Cemara pada masa kanak-kanaknya yang sering membantu ibunya menanam dan merawat bunga matahari.

 

  • view 227