Jangan Rusak Dunia Mereka

Anna Halimatus Sa'diyah
Karya Anna Halimatus Sa'diyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2016
Jangan Rusak Dunia Mereka

Memutar memori ke belakang, teringat kenangan-kenangan indah saat masih menjadi anak-anak. Tentu saja kita ingin kembali ke masa-masa itu bukan? Bagaimana tidak, betapa indah dan mengesankannya masa-masa itu, masa dimana kesedihan terberat hanya sebatas kalah saat bermain bekel, atau saat harus terus menerus menjadi kucing ketika bermain petak umpet. Hanya sebatas itu, kesedihan sederhana layaknya seorang anak-anak.

Miris rasanya jika dibandingkan dengan anak-anak jaman sekarang, mereka tak pernah merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan dulu. Masa kecilnya saja sudah dipenuhi dengan kesedihan, patah hati, kekerasan, dan kenakalan lainnya seperti dalam cerita-cerita sinetron. Hilang sudah sifat kekanak-kanakannya.

Hal tersebut tentu saja bukan sepenuhnya salah anak-anak itu sendiri, karena pada dasarnya begitulah sifat anak-anak cenderung ingin selalu meniru apa yang ia lihat. Ibarat sebuah spons, dia menyerap begitu saja segala yang ia lihat tanpa peduli itu baik ataupun buruk. Bagaimana anak bisa memiliki sifat kekanak-kanakannya jika lingkungannya sendiri pun tidak memfasilitasi mereka untuk tumbuh sebagai anak-anak yang sewajarnya, rasanya tak disediakan tempat untuk dunia kekanak-kanakan mereka. Yang ada anak-anak hanya mendapatkan tayangan dengan kesenangan-kesenangan semu dan tidak cocok untuk usia mereka, tapi tentu saja "menarik" untuk ditiru oleh anak-anak.

Sekali lagi ini miris sekali, bahkan odong-odong keliling yang seharusnya menjadi salah satu permainan yang menyenangkan bagi anak-anak pun telah berubah menjadi permainan yang memutarkan lagu-lagu dewasa, soundtrack sinetron-sinetron yang sering mereka dengar,hingga mereka teriak-teriak dengan lantangnya menyanyikan lagu cinta-cintaan seolah mereka paham apa yang mereka nyanyikan. Tapi justru berbanding terbalik saat diperdengarkan lagu anak-anak pada mereka, mereka terheran-heran ini lagu apa katanya seperti anak-anak saja. Padahal jelas-jelas mereka ini anak-anak, itu lagu mereka. Sedih, mereka sendiri pun tak mengenali dunianya.

Tak hanya itu, pergaulan mereka pun menjadi semakin bebas. Tak ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Seumuran anak SD pun berani pegang-pegangan, rangkul-rangkulan ditengah jalan, seolah tak ada malu. Dari mana lagi mereka bisa melakukan hal-hal demikian kalau bukan dari tayangan-tayangan yang tak layak untuk usia mereka yang bahkan belum bisa membedakan mana yang harus diikuti dan mana yang tidak.

Oleh karena itu, hal ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak, khususnya orangtua sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya yang tentunya harus lebih mengawasi tontonan anak-anaknya, mengawasi pergaulannya diluar rumah, dan juga menanamkan pendidikan agama sejak dini karena jika anak sudah ditanamkan nilai-nilai agama sejak dini tentu saja ia tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik dilingkungannya. Dan yang paling penting adalah menyediakan tempat bagi dunia kekanak-kanakan mereka, menjadi orang tua yang menyenangkan bagi mereka, orangtua yang selalu membacakan cerita-cerita dongeng, orangtua yang tak pernah sungkan untuk diajak bernyanyi-nyanyi, orangtua yang selalu memberikan pujian atas hal-hal baik yang dilakukan anaknya, dan berhanti menjadi orangtua yang cuek dan mengabaikan apa yang mereka ceritakan walaupun kadang yang mereka bicarakan adalah hal-hal tidak penting yang sebetulnya tidak perlu dipertanyakan.

Mari ingatlah, dunia kanak-kanak itu indah. Jangan rusak dunia mereka, biarkan mereka merasakannya :)

  • view 216