Tugas Akhir : Dia Skripsiku 2018

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Juni 2018
Tugas Akhir : Dia Skripsiku 2018

Jangan mengerjakan skripsi. Berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja.

Andai saja kalimat itu yang diucapkan oleh Dilan, ah tidak terhitung banyaknya mahasiswi yang iri pada Milea. Sayangnya Dilan dan Milea kan masih SMA, hehehe.

Berbicara mengenai skripsi, tugas akhir satu ini memang memiliki kesan sekaligus beban tersendiri bagi mereka yang menamakan diri sebagai mahasiswa tingkat akhir. Dialah pamungkas segala perjuangan, pengorbanan, air mata, hingga darah selama empat (lebih/kurang) tahun masa kehidupan sebagai mahasiswa. Bagi mereka mahasiswa postgraduate, skripsi pasti terasa biasa-biasa saja. Wajar memang, toh mereka telah melaluinya sekaligus menghadapi lagi tugas akhir lain yang lebih menantang. Namun bagi saya yang baru lulus SMA beberapa tahun lalu hanya dengan melewati ujian dengan membulat-hitamkan lembar jawaban, skripsi tentunya menjadi tantangan tersendiri.

Keluhan tentu ada. Manusiawi sekali bukan keluhan itu? Kendala yang berpotensi menimbulkan keluhan dalam menghadapi tugas satu ini bermacam-macam, biasanya seperti dosen pembimbing yang sulit ditemui, dosen pembimbing yang perfeksionis, dosen pembimbing yang sukanya memberi kode -dan sialnya kamu tidak peka-, SKS belum cukup untuk ambil skripsi, masih mengulang mata kuliah, dan kendala teknis lain yang –saya yakin- sangat banyak. Nah kabar buruknya, kendala ter-maha-besar dalam menyusun skripsi justru datang dari diri sendiri. Apa itu? MALAS! Sudah menjadi rahasia umum bukan? Sialnya, rasa satu ini masih suka dituruti oleh mahasiswa (termasuk saya).

Untuk  menutupi rasa MALAS itu, biasanya mahasiswa pandai sekali menciptakan alibi. (Ya, namanya juga mahasiswa, udah terlatih buat alibi waktu telat masuk kuliah kan, hehehe). Berikut saya paparkan sebagian kecil alibinya.

Alibi 1.

Ask      : Kenapa kamu nggak kerjain skripsimu?
Anwer: Aduh aku masih sibuk di organisasi. Lagi banyak kegiatan nih.

Alibi 2.

Ask      : Kenapa kamu nggak kerjain skripsimu?
Answer: Aduh aku sibuk bisnis nih, skripsinya ntar aja deh.

Alibi 3.

Ask      : Kenapa kamu nggak kerjain skripsimu?
Answer: Kerjaanku lagi full, capek kalau harus skripsian juga.

 

Alibi 4.

Ask      : Kenapa kamu nggak kerjain skripsimu?
Answer: Temen-temenku juga belum pada ngerjain kok, jadi santai aja!

Alibi 5.

Ask      : Kenapa kamu nggak kerjain skripsimu?
Answer: Emm aku masih sayang sama kampus ini, aku belum sanggup pisah sama dia.

Oke, contoh alibi yang terakhir itu ngawur ya, hehehe. Ada yang mau menambahkan? Boleh banget!

Memang mengerjakan skripsi itu wajib ya? Nggak wajib kok, buat kamu yang cita-citanya keluar dari kampus dengan status Drop Out. Tapi kalau kamu mau lulus baik-baik, karena dulu juga masuknya baik-baik, hukum skripsi ya jadi wajib, kecuali ada kebijakan universitas atau jurusan terkait yang membebaskan mahasiswanya lulus tanpa harus ber-skripsi-ria, misal dengan syarat menjadi juara di PIMNAS (kalau ini udah beda cerita ya, wkwkwk).

Bagi saya yang juga tengah menempuh jalan untuk menyelesaikan skripsi, skripsi bukan sekedar tugas akhir. Lebih dari itu, skripsi adalah konsekuensi moral yang harus saya terima sebab telah berani mengambil keputusan menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Konsekuensi moral itu bernama tanggung jawab. Meski tidak mutlak, skripsi bisa menjadi salah satu tolok ukur sejauh apa saya berani mempertanggungjawabkan keputusan besar yang telah saya ambil, dalam hal ini keputusan saya menjadi mahasiswa. Jika bertanggung jawab pada diri sendiri saja masih kelimpungan, bagaimana mau bertanggung jawab kepada Tuhan kelak? Patut dipikirkan.

Bagimu yang sama sepertiku, tengah menempuh tugas akhir, semoga Tuhan selalu menghadirkan keajaiban-keajaiban atas pengorbanan yang tidak sempat kau hitung-hitung lagi.

Bagimu yang sudah lebih dulu menyelesaikan tugas akhir, semoga Tuhan selalu berkenan mengiringi langkahmu ke manapun kamu menuju.

Dan bagimu yang masih tega mengabaikan tugas akhir, semoga Tuhan selalu berbaik hati untuk menghadirkan perantara yang terus mengingatkanmu bahwa tugas akhir itu penting. Sama pentingnya dengan segala hal yang hari ini kamu anggap lebih penting dari tugas akhirmu.

#Skripsi #TugasAkhir #Mahasiswa

  • view 83