Subjektivitas Perihal Rindu

Subjektivitas Perihal Rindu

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Desember 2017
Subjektivitas Perihal Rindu

Jika rindu ini api, mungkin aku sudah hangus terpanggang sejak berhari-hari lalu, menjadi abu dan tidak bisa kembali. Namun bukankah lebih baik begitu? Kalau aku jadi abu, aku tidak harus merangkaki detik demi detik dengan rindu yang mengerikit. Sakit.

Jika rindu ini hujan, mungkin aku sudah tenggelam sejak kemarin-kemarin, dan ditemukan mengambang tanpa nyawa, atau sama sekali hilang menjadi santapan alam. Namun bukankah lebih baik begitu? Kalau aku tenggelam, aku tidak akan lagi dihujam rindu yang kejam.

Jika rindu ini psikopat, mungkin aku sudah dimutilasi sejak hari lalu, menjadi daging cincang yang tidak lagi dapat diidentifikasi. Namun bukankah lebih baik begitu? Kalau aku dicincang, tidak akan kukenali lagi rindu perih itu.

Jika rindu ini berlian, mungkin aku sudah menjadi kaya raya, tidak lagi perlu memusingkan usai wisuda aku hendak ke mana. Bukankah itu sangat menyenangkan? Hanya dengan rindu aku bisa menjadi jutawan, tanpa perlu keringat berkucuran.

Sayangnya, rindu hanyalah rindu. Segumpal perasaan yang tidak jarang membuat si empunya bertingkah aneh.

Ada yang menangis tidak tentu rimba. Ada yang sibuk mengenang, tersenyum untuk kemudian mengeluarkan air mata.

Ada yang terkapar, menatap kosong langit kamar tanpa bisa melakukan apapun. Ada yang menatap layar ponsel, mengeceknya berkali-kali, merasa girang ketika pesan masuk untuk kemudian berpuh kecewa sebab pesan yang masuk bukan dari orang yang diharapkan.

Ada yang membuka percakapan sejak awal, membaca satu demi satu pesan yang pernah saling dikirimkan, tersenyum samar diiring gerimis dari mata.

Ada yang diam-diam mengintip akun media sosialnya, atau akun media sosial temannya hanya untuk mengetahui kabarnya, tersenyum pahit, setidaknya mengetahui dia baik-baik saja sudah lebih dari cukup.

Ada yang implisit menanyakan kabarnya, atau mendatangi tempat yang biasa dia datangi, lalu mengamatinya dari tempat tersembunyi.

Ada yang menengadahkan kedua tangan di malam pekat, menitikkan air mata, meminta pada Tuhan untuk menghapus semua kerinduan itu jika bukan dia yang kelak tertakdir.

Memang begitulah rindu. Suka sekali mengerjai hati yang lemah lunglai. Dan detik ini, rindu kembali merajuk. Menggebuk tengkuk hingga aku nyaris tak sadarkan diri. Tapi kupikir, lebih baik aku tak sadarkan diri, dibandingkan aku sadar, kedua mataku terbuka, seluruh bagian tubuhku berfungsi baik, namun harus menghadapi sayat demi sayatan rindu. Setidaknya jika aku taksadar, perih dari sayatan itu tidak terasa, meski setelah aku bangun akan meninggalkan luka yang tidak terperi sakitnya.

Untuk apa kamu merindukannya? Sedang dia belum tentu merindukanmu. Memikirkanmu saja mungkin tidak!

Aku tahu kamu benar, aku menyukai kejujuranmu meski langsung membuat gendang telingaku sakit. Tapi tidakkah kamu juga pernah merasakan rindu? Ketika datang, ia menjadi sedemikian mendominasi, sampai logika seringkali kehilangan fungsi. Aku bukan membela diri, perkataanmu benar sekali, tapi bolehkah aku mengajukan sebuah pinta? Jadi aku sebentar dan sekali saja, lalu kamu rasakan bagaimana rindu ini bekerja.

Dengan apa lagi aku menyampaikannya? Rasanya sudah terlalu sering aku menulis panjang mengenai kerinduan kepadanya. Sekarang, biar air mata yang mengambil alih kerja kata-kata.

Selamat pagi, yang aku rindu. Jika hari ini kamu merasakan bahagia, itu adalah manifestasi doa dalam rindu yang menyala. Namun jika hari ini kamu merasa duka, aku minta maaf sebab belum cukup baik dalam merayu Tuhan untuk membuatmu bahagia. Maka itu adalah tugas bagiku untuk mendoakan bahagiamu lebih dari yang kubisa.

  • view 145