Tuan Bermata Sendu

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Desember 2017
Tuan Bermata Sendu

Selamat malam, Tuan bermata sendu. Saat tanganku tengah menari di atas papan tombol laptop ini, apa yang sedang Tuan lakukan? Ah, aku memang masih selalu ingin tahu tentangmu, Tuan. Padahal seharusnya aku tidak boleh melakukannya, bukan? Sebab salah satu rukun dari melupakan ketiadaan pertemuan, juga perhubungan. Sayangnya, Tuan, rindu tidak semudah itu diatur. Ia lebih banyak membelot, semaunya sendiri.

Tetapi Tuan tidak perlu mengkhawatirkan aku, ah tapi bukankah Tuan memang tidak pernah mengkhawatirkan aku? Aku sudah biasa bergelut dengan hujaman rindu pada Tuan, yang bahkan tidak jarang membuatku lumpuh total. Tidak bisa melakukan apapun, hanya menatap ke langit, lalu tersedu sedan. Bukan menangisi ketidakhadiran Tuan, melainkan sayatan rindu memang terasa sedemikian pedih di badan.

Aku kira dengan menyibukkan diri, tidak membiarkan ada luang lewat dalam waktuku, aku bisa melupakan Tuan. Rupanya aku salah. Bagaimana mungkin aku bisa menghapus bayang Tuan jika bayang Tuan telah melebur menjadi bayangku sendiri? Bagaimana mungkin semua kesibukan itu bisa meluruhkan Tuan, jika dalam setiap detik yang kulalui bersama kesibukan itu masih saja Tuan yang terbayang?

Memang semua ini belum seharusnya tumbuh, aku sangat mengerti itu, Tuan. Kedekatan dan keakraban itu tidak seharusnya ada hari ini. Seharusnya pula sejak awal aku menepis Tuan, bukan justru menyambut baik hingga sedemikian banyak Tuan mengambilalih, akan tetapi siapakah aku hendak menolak takdir kehadiran Tuan? Siapakah aku hendak mengatur dengan siapa hatiku jatuh? Bahkan untuk bertemu Tuan pun, aku tidak pernah memprediksi sebelumnya.

Maka, ajarkan aku juga Tuan, untuk menjauh tanpa menjadi pesakitan. Untuk membuat jarak tanpa menggerus kesadaran. Untuk melepaskan tanpa merasa kehilangan. Bukankah Tuan terbiasa melakukan itu kepadaku? Bagilah ilmunya sedikit saja kepadaku, Tuan. Aku juga hendak melupakan, bukan Tuan saja.

Apa lagi yang bisa aku sampaikan, Tuan? Jika ternyata air mataku jauh lebih lincah dalam berujar. Kepada Tuan, yang dalam matanya selalu ingin ku bersemayam. Selamat malam, Tuan bermata sendu.

  • view 158