Firman Tuhan, “Tunggu Saja Tanggal Mainnya!”

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 April 2017
Firman Tuhan, “Tunggu Saja Tanggal Mainnya!”

Serupa blackhole yang menghisap segala benda di dekatnya, Pilkada Jakarta benar-benar telah menyedot perhatian besar dari masyarakat tanah air beberapa waktu terakhir. Hampir semua media, baik cetak maupun elektronik, memberitakan perihal perhelatan demokrasi terakbar di ibu kota tersebut. Meski pemilihan sudah dilaksanakan tanggal 19 April kemarin, tetapi atmosfer pilkada masih terasa. Masih banyak pihak yang belum jenuh mengupas berbagai sisi dari pemilihan orang nomor satu di ibu kota ini. Namun hal tersebut terasa wajar, karena memang hasil dari pilkada versi quick count bisa dikatakan mengejutkan banyak pihak.

Pasangan calon nomor tiga dinyatakan mengungguli pasangan calon nomor dua berdasarkan quick count yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei, dan hasil dari lembaga survei ini biasanya tidak jauh berbeda dari hasil perhitungan suara sesungguhnya dari Komisi Pemilihan Umum. Namun siapa sangka selisih suara dari kedua pasangan calon bisa sejauh itu? Bahkan di hari yang sudah sangat mendekati hari eksekusi, banyak pihak yang memprediksi bahwa pasangan calon nomor dua akan memenangkan kembali pilkada meski selisihnya tipis, atau jika pasangan calon nomor tiga unggul, selisih suaranya tidak lebih dari satu persen. Elektabilitas pasangan calon nomor dua juga masih lebih tinggi dibanding pasangan calon nomor tiga pada hari sebelum Pilkada. Buktinya realita berkata lain, bukan?

Tentu masih lekat dalam ingatan bagaimana calon gubernur nomor dua melakukan kecerobohan sehingga melukai hati jutaan umat islam di negeri ini. Ucapannya tersebut, yang boleh jadi tidak disengaja atau bukan demikian maksud yang hendak disampaikannya, membuat nyaris seluruh umat islam di Indonesia geram, hingga kemudian melakukan aksi damai pada tanggal 04 November 2016 yang dimotori oleh FPI dan GNPF-MUI. Dalam aksi damai tersebut, ibu kota dipenuhi oleh lebih dari satu juta umat muslim yang menuntut diusutnya kasus dugaan penistaaan agama oleh calon gubernur bernomor urut dua.

Merasa tuntutannya tidak diindahkan,  aksi serupa –bahkan sebenarnya jauh lebih damai, yakni dalam bentuk sholat Jumat dan doa bersama- dilakukan kembali pada tanggal 02 Februari 2017, atau yang lebih sering disebut sebagai aksi 212. Banyak pihak memprediksi bahwa jumlah peserta aksi 212 tidak akan lebih banyak dari jumlah peserta aksi 411. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Jumlah peserta aksi 212 berkali lipat lebih banyak dibanding jumlah peserta aksi 411. Jika pada aksi 411 Jakarta serupa banjir manusia, maka pada aksi 212 Jakarta serupa lautan manusia. Ah, fakta memang tidak selalu seiring prediksi. Realita memang tidak selalu seiring ekspektasi. Atas keinginan Tuhan, manusia bisa apa?

Banyak pihak yang kontra terhadap aksi tersebut melontarkan pernyataan bahwa Tuhan sudah perkasa, maka tidak perlu dibela. Andai mau Tuhan demikian, tidak mungkin ada anjuran jihad dalam al-quran. Terlepas dari segala stereotip negatif mengenai jihad, toh perintah demikian memang jelas ada dari Tuhan untuk umat islam, dan aksi-aksi tersebut sebagai salah satu bentuk jihad di era modern. Wajar saja kan jika objek yang terlebih dahulu diserang melakukan pembelaan? Laa yukallifullaahu nafsan ‘illa wus’ahaa, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka yang mengubahnya sendiri. Memang Tuhan sudah perkasa, tetapi manusia tidak, sedangkan agama diperuntukkan bagi manusia bukan bagi Tuhan. Tuhan sudah tidak butuh apapun, termasuk penyembahan, tetapi manusia membutuhkan. Ada atau tidak adanya hamba, Tuhan tetap Tuhan yang tiada tanding dan banding. Tinggal manusianya mau atau tidak menjadi bagian dari keinginan Tuhan.

Pilkada Jakarta setidaknya memberi bukti sekaligus peringatan bahwa meski umat islam Indonesia tidak setaat umat islam di Palestina atau umat islam di negeri-negeri timur tengah lainnya, bahwa meski umat islam begitu mudah berseteru sebab perbedaan penentuan satu Ramadhan dan satu Syawal, perbedaan jumlah rakaat pada shalat tarawih, atau hal-hal sepele lainnya, tetapi saat akidahnya dirongrong mereka juga bisa menunjukkan taring untuk mengoyak habis, atau memperlihatkan kuku-kuku tajam untuk menerkam si perongrong. Jangan lupa bahwa negeri ini memiliki banyak ulama yang mencintai Tuhan dan dicintai oleh jutaan umat islam yang mampu menggerakkan masa jutaan umat islam tersebut dalam satu komando. Jangan bermain-main dengan umat terbesar di negeri ini, kurang lebih seperti itu pesan yang hendak disampaikan.

Tidak ada yang kebetulan untuk setiap kejadian, termasuk segala yang berkaitan dengan Pilkada Jakarta kemarin. Tuhan memang suka begitu, mengetes sejauh apa keteguhan iman orang yang mengaku-ngaku islam. Meski Tuhan sudah tahu siapa yang sungguh-sungguh imannya, siapa yang hanya bermain-main dengan imannya, tetapi Tuhan ingin semesta juga mengetahuinya. Tuhan suka berbagi, maka Tuhan tidak ingin menyimpan pengetahuan itu sendiri. Jika tidak percaya, coba buka surat al-ankabut. Awalnya memang terasa menyebalkan. Membuat kesal, gemas, bahkan bisa sampai berburuk sangka pada Tuhan. Padahal Tuhan hendak menyampaikan, “tunggu saja tanggal mainnya!”

Begitulah, Tuhan melalui semesta memiliki cara mainnya sendiri yang seringkali tidak dimengerti sebelum disingkap semua tabir yang menghalangi.

  • view 232