Bila Tidak Denganmu

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 April 2017
Bila Tidak Denganmu

Aku semakin takut. Kian hari aku semakin dihantui oleh pergumulan rasa yang tidak aku pahami. Bagaimana mungkin seorang bisa merasa begitu takut kehilangan apa yang sejatinya tidak ia miliki? Bagaimana mungkin seorang bisa begitu menggenggam erat apa yang sebenarnya bukan kepunyaannya? Padahal menggenggam itu bisa saja melukai, ketika pemilik sebenarnya merebutnya secara paksa.

Aku semakin khawatir. Tidak pada siapapun, melainkan pada diriku sendiri. Pada hatiku yang menjadi liar nyaris tidak terkendali. Susah payah aku memperingatkannya, menegaskan padanya agar tidak semakin menjadi-jadi, tetapi ia sungguh keras kepala. Aku khawatir jika pada suatu hari nanti semua ini menjadi boomerang, bukan hanya terhadapku, tetapi juga terhadapmu. Tidak masalah jika hal buruk itu menimpaku, tapi jika hal buruk itu menimpamu sebab kesalahanku, maka sepanjang hidup aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Aku merutuki diriku sendiri. Takdir memang selalu begitu, tidak peka pada perasaan yang didatanginya. Andai Tuhan memberi tahu sebelumnya bahwa seperti ini jadinya, niscaya aku tidak akan menggerakkan kakiku ke sana. Tetapi takdir membawa tubuhku, dan aku percaya begitu saja padanya. Padahal diam-diam dia sedang menghanyutkanku pada sungai yang tidak pasti arah muaranya.

Aku bukan makhluk yang pandai memulai, pun bukan makhluk yang terampil mengakhiri. Aku tidak pernah meminta siapapun untuk datang, juga tidak pernah mencegah siapapun untuk pergi. Tetapi datangmu membuatku melanggar segala prinsip yang selama ini kuberlakukan dalam hidupku. Aku juga sering bertanya-tanya, mengapa ada sebagian dari diriku yang tidak rela jika kau tidak lagi ada dalam lembar cerita yang kupunya

Aku tidak bisa seperti ini. Sekuat apapun inginku hari ini, aku tetap harus menyiapkan diriku bila suatu hari Tuhan inginnya aku dan kamu menapaki jalan sendiri-sendiri. Seerat apapun kait yang mengubungkanku dan kamu detik ini, aku tetap harus melatih diriku bila esok Tuhan memutuskan kait itu dan meminta langkahku dan langkahmu saling membelakangi. Ya, aku mengerti itu tidak mudah. Tidak sesederhana baris-baris kalimat yang aku sampaikan di sini. Pasti hatiku akan terbelit apa yang dinamakan rasa sakit, dan ngilunya akan hadir lagi saat ragaku dan ragamu kembali bertemu. Tetapi semoga dengan pembiasaan, sakit itu tidak akan lama. Lagipula hatiku juga telah memiliki ketahanan yang cukup untuk menanggung sekedar sakit dipatahkan seperti itu.

Dulu, tanpamu, aku baik-baik saja. Aku bahagia dengan hidupku. Dengan privasiku. Dengan dinding yang aku bangun begitu tinggi. Sekarang, denganmu, yang sebenarnya melanggar batas privasiku, aku juga baik-baik saja. Meski, ya, aku tidak bisa mengingkari bahwa aku bahagia. Esok, andai tanpamu (lagi), maka aku akan baik-baik saja. Akan kubangun dinding yang telah kaurubuhkan itu lebih tinggi. Lebih kuat. Lebih kokoh dari sebelumnya.