Kepada yang Tidak Kembali

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 16 Februari 2017
Kepada yang Tidak Kembali

Awan putih berarak menutup sedikit bagian langit biru. Matahari bersinar terik. Angin bertiup, menyibak daun yang nangkring manis di dahan-dahan pohon. Tidak ada yang berbeda dengan hari ini, maupun hari sebelumnya. Alam masih sama, musim di Indonesia masih dua, kemarau dan penghujan. Lazimnya hujan menjatuhkan air yang meriakkan rindu, tetapi kini terik mataharipun membakar asa yang putus untuk sebuah temu.

Bolehkah aku merasa tidak percaya tentang kepergian yang begitu tiba-tiba? Hatiku nelangsa setiap kali menolak bahwa kau telah benar-benar tiada. Aku telah menghadap nisanmu, menyaksikan langsung betapa tanah telah menelan jasadmu. Tetapi rasanya baru kemarin kita menjalani hidup bersama. Bermain di pekarangan rumah, berdandan layaknya artis India, atau kau bercerita tentang pria yang diam-diam kau damba.

Kenapa waktu begitu kejamnya pisahkan kita bahkan saat belum sempat kita rengkuh mimpi kita bersama? Ah, benar sebagai penghiburan kuyakinkan diri bahwa Tuhan lebih menyayangimu dibanding aku. Tapi tidak bisakah ada waktu yang lebih panjang agar kepergian tidak segera datang?  

Maaf. Sungguh maafkan aku yang masih tidak bisa tidak menangis saat wajahmu kembali membayang. Sungguh maafkan aku yang masih tidak bisa tidak berurai air mata saat segala kenang yang pernah kita lakukan kembali menyeruak dalam ruang pikiran. Aku menyayangimu, tentu. Sesebal apapun aku dahulu kepadamu, aku sangat menyayangimu. Ternyata kepergianmu mengajarkanku bahwa kau teramat berarti dalam hidupku. Ternyata kehilanganmu membuatku untuk semakin menghargai apa yang sekarang Tuhan percayakan kepadaku.

Saat kudengar kabar kepergianmu, rasanya sebagian jiwaku turut terpagut dengan kepulanganmu. Mungkin ikut terbang bersama ruhmu menemui Tuhanmu. Benarlah memang bahwa kehilangan seorang yang sangat dicintai juga berarti kehilangan separuh kesegaran fisik. Kau tahu? Sejak kau pergi aku menjadi begitu takut pada sepi. Sepi yang dulu teman dekatku kini seolah menjadi pembunuh berdarah dingin yang bisa saja tanpa ampun menghabisiku. Karena sepi selalu mengundangmu untuk memenuhi ruang pikirku. Bukan, bukan aku tidak mau mengingatmu, bahkan setiap detikku adalah ingatan menujumu. Tetapi aku takut kehilangan kendali akan diriku sendiri. Aku takut terlarut dalam sedihku yang tidak berujung, dan bermuara pada harap mustahil ingin bertemu dirimu.

Kau tahu? Rindu yang paling menyakitkan adalah rindu pada yang tidak pernah bisa kau gapai. Rindu yang paling menyedihkan adalah rindu pada yang pernah akan bisa kau temui. Saat kau miliki rindu itu, maka setiap hadirnya adalah sayat demi sayat pada jiwamu, iris demi iris pada pertahananmu, dan nelangsa pada hidupmu. Ini bukan tentang jarak yang menjadi masalah, tetapi ruang yang tidak mengizinkan adanya pertemuan, kecuali Tuhan berbaik hati menghadirkanmu dalam mimpiku.

Aku ingin melihat senyummu lagi. Aku ingin mendengar ceritamu lagi. Aku ingin makan bersamamu lagi. Aku ingin menjalani bulan suci bersamamu lagi. Aku ingin sahur dan berbuka denganmu lagi. Aku ingin berpapasan denganmu lagi, bukan hanya menatap kosong mengharap hadirmu kembali. Ketika setiap tempat yang pernah kita lewati membawaku kembali mengingat segala yang telah kita lalui. Ketika setiap kejadian yang aku alami membangkitkan rindu yang mencabik ulu hati. Kau tahu, ini sangat tidak menyenangkan.

Selain melalui tengadah tangan dan untai tulisan, bagaimana lagi aku bisa menyampaikan kerinduan yang menyesakkan? Di manapun kau berada, doaku selalu menujumu. Kau tahu? Jasadmu boleh termakan tanah, badanmu boleh terenggut bumi, tetapi selama Tuhan masih mengizinkanku menghirup oksigen dengan bebas, kau akan tetap hidup dalam hatiku, kau akan tetap nyala dalam jiwaku.

Aku merindumu, itu akan selalu.

16 Februari 2017

-Ann

  • view 169