Indonesia dan Membaca

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Januari 2017
Indonesia dan Membaca

Surga dunia seorang yang memiliki hobi membaca itu sederhana, perpustakaan atau toko buku. Deretan buku dengan bermacam pengetahuan di dalamnya adalah daya tarik terbesar bagi si hobi baca. Kalau yang punya pacar, bisa jadi pacarnya kalah menarik dibanding buku. Kalau yang jomblo macam yang menulis curhatan ini, ya justru perpustakaan atau toko buku itu jadi destinasi wisata paling menarik di tengah kejombloannya. Hei bukankah buku itu paling enak dinikmati saat seorang diri? Begitulah.

Karena sering tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku-buku bacaan yang saya sukai, maka hampir setiap hari jika ada waktu kosong dua jam atau lebih saya pasti akan memilih ‘nongkrong’ di perpustakaan kampus. Kenapa harus waktu kosong dua jam? Saya memiliki alasan untuk itu, pertama jarak dari fakultas ke UPT perpustakaan cukup jauh ditempuh oleh pejalan kaki seperti saya. Butuh waktu sekitar 15 menit, jadi kalau pergi dan pulang menjadi 30 menit. Di perpustakaann 30 menit? Terkadang mencari buku yang ingin dinikmati saja sudah memakan cukup waktu, jadilah waktu untuk menikmati buku tinggal beberapa menit.

Selain banyak buku, perpustakaan juga tempat yang sangat nyaman. Setiap ruang sirkulasinya full AC, tempat duduk nyaman, dan dilengkapi dengan wifi. Meski sudah dikondisikan sedemikian nyamannya, toh di setiap hari pengunjung perpustakaan ya segitu-gitu aja. Oh mungkin saya tidak setiap hari ke perpustakaan sehingga saya salah. Bisa demikian. Tetapi setiap saya ke perpustakaan dan melihat daftar hadir pengunjung, di situ pasti hanya berbilang ratusan. Tidak sampai lah ribuan, padahal jumlah mahasiswa di universitas tempat saya kuliah untuk semua angkatan mencapai bilangan puluhan ribu, dan yang berkunjung ke perpustakaan hanya bilangan ratusan? Hemm..

Jika memang alasan untuk sulit mengunjungi perpustakaan adalah kuliah, ah kuliah juga rasanya tidak full dari pagi hingga sore. Biasanya ada jeda beberapa jam. Kalaupun ada yang full jam kuliahnya dari pagi hingga sore, itu mungkin di hari-hari tertentu saja. Tidak setiap hari. Baiklah mungkin punya kesibukan lain, tapi menyempatkan ke perpustakaan paling tidak satu bulan satu kali saja, tidak bisa? Menyedihkan ketika ada yang sudah menjadi mahasiswa semester 3 atau lebih tapi cara meminjam buku di perpustakaan saja tidak mengerti. Bahkan tidak sedikit mahasiswa lama yang mengaku baru sekali ke perpustakaan, yakni saat pengenalan perpustakaan ketika Propti (Program Orientasi Perguruan Tinggi).

Jumlah ratusan pengunjung dalam sehari itu belum tentu semuanya membaca. Lebih banyak yang ke perpustakaan dengan tujuan ngadem sambil wifian, terutama (mungkin) buka youtube bagi para pecinta youtube. Jadi makin sedikit saja ya yang benar-benar memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat membuka jendela-jendela dunia.

Memang kamu tidak pernah seperti itu, Na?

Hemm, memang sih saya pernah ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas tapi itu tidak sering. Saya lebih suka dan lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca, bukan untuk mengerjakan tugas. Karena mengerjakan tugas itu lebih nyaman di tempat kos, setidaknya itu menurut saya. Kalau kamu tidak setuju, itu hakmu, saya juga tidak meminta persetujuanmu.

Kenapa saya nyinyir curhat hal seperti ini? Sebenarnya saya hanya merasa sedih akan terlampau minimnya minat baca orang Indonesia. Baiklah mungkin membaca tidak harus dilakukan di perpustakaan, tapi saya hanya berpikir bahwa jika orang Indonesia ini minat bacanya tinggi pasti perpustakaan itu ramai. Di luar negeri sana, terutama di negara maju, bahkan saat tengah dalam perjalanan mereka pasti menyempatkan membaca buku bukan gadget (padahal saya juga lebih sering buka gadget sih kalau lagi di jalan, hehehe)

Maka tidak heran kalau Indonesia menempati urutan ke-60 dari 62 negara dalam hal minat membaca (kalau saya tidak salah ya). Itu baru pengamatan kecil saya di lingkup kampus tempat saya kuliah, yang katanya lingkungan akademisi, orang-orang cerdas, minat bacanya saja rendah, bagaimana di masyarakat umum? Bagaimana ya?

Karena itu tidak salah ketika ada yang mengatakan bahwa penulis di Indonesia itu orang-orang yang nekat. Sudah tahu orang Indonesia tidak suka membaca, tapi masih saja menulis. Lalu siapa yang akan membacanya? Untuk mendapat jawaban, mungkin harus seperti Ebiet G. Ade terlebih dahulu, menanyakan pada rumput yang bergoyang.

Sekian! Kalau ada manfaatnya Alhamdulillah.

-Ann

  • view 124