Setelah Hari Ini

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 19 Desember 2016
Setelah Hari Ini

Kita dipertemukan dengan cinta, dipersatukan dengan cinta, dan semoga diperpisahkan dengan cinta pula.

Kita sekumpulan manusia yang berjanji untuk merenda hari yang lebih baik bersama, bukan tanpa hambat, tetapi setertatih apapun langkah yang kita punya, pada akhirnya kita sampai akhir juga.

Menjelang senja, matahari hendak terbenam, kembali ke peraduan. Dua ribu enam belasku mengesankan, entah bagaimana menjalani dua ribu tujuh belasku tanpa kalian, yang pasti kenangan akan selalu tinggal. Di manapun tempatnya, seberapapun lamanya.

Matahari yang terbit masih sama, dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Angin yang bertiup masih sama, dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Langit juga masih sama, warnanya masih biru, kecuali jika hujan menjadi abu-abu. Semesta memang masih sama, rasanya yang berbeda, atau lebih tepatnya hanya aku yang merasakan segalanya menjadi berbeda.

Setelah hari ini, segala akan menjadi berbeda. Grup pasti segera akan menjadi kosong, tidak ada lagi keributan tentang apapun itu. Tidak ada lagi yang memintaku membuat desain, mungkin. Tidak ada lagi yang menuntut agar media terus terisi. Tidak ada lagi yang meminta tolong ini, meminta tolong itu. Tidak ada lagi yang aku usili di rumah kecil kita. Karena segera setelah hari ini, kalian memiliki tempat kembali kalian masing-masing.

Dulu aku ingin segalanya segera berakhir, tapi saat segalanya mendekati akhir, aku ingin detik merambat lambat agar tidak segera berakhir. Aku membingungkan ya? Benar, manusia memang membingungkan. Tapi kenyataannya sayang itu datang saat pisah menjelang. Cinta itu hadir saat satu sama lain harus pergi. Sisanya, rindu yang terus menerus hiasi hari, temani sepinya diri.

Hakikatnya, perpisahan adalah keniscayaan. Kehilangan adalah kepastian. Kepergian adalah keharusan. Yang pernah bertemu pasti berpisah. Yang pernah mendapat pasti menghilang. Yang pernah datang pasti pergi. Begitulah siklus kehidupan, anehnya ada sedih yang selalu menjadi pengawal. Maka bila aku lebih banyak menghindar, bukan aku tidak lagi sayang, aku hanya ingin membiasakan diriku dengan perpisahan.

Aku ingin berterima kasih. Pada setiap yang kita lalui, pada segala yang telah kita lewati, pada jutaan detik yang telah kita warnai. Pada kesabaran kalian menghadapi aku yang sering membuat hati nyeri. Pada pundak yang telah kalian berikan saat lelahku menghampiri. Pada langkah kita dan genggaman kita yang seiring.

Menjelang matahari terbenam, gulita telah membayang. Saatnya tunaikan tugas-tugas terakhir, agar esok saat matahari kembali terbit, ia terbit dengan wajah tercerahnya. Maafkan aku yang belum bisa melakukan apapun. Maafkan aku yang belum bisa memberikan apapun. Maafkan aku yang belum bisa mempersembahkan apapun. Selain cinta yang semoga saja memang tulus adanya.

Menuju #MubesYangTakDirindukan

Bandarlampung, 19 September 2016.

-Ann

  • view 309