Bayangan retak

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Desember 2016
Bayangan retak

Ketika aku berkaca, yang aku lihat hanya retak. Bukan cerminnya, melainkan bayangku sendiri. Bayangku retak, seperti sedang menunggu waktu untuk hancur. Bayangku retak, seolah sedang menunggu saat untuk lebur. Bayangku retak, seakan menunggu masa untuk luruh. Oh masihkah aku akan kembali utuh? Jika saja jiwa bisa kuajak bicara, akan kutanya ia, “apa yang sebenarnya kau ingini? Hingga membuat seonggok daging ini menjadi seperti ini. Apa yang hendak kau capai? Hingga sepotong tulang berselaput kulit ini kau buat begini.” Aku jengah!

Aku malu pada bayangku sendiri, terlebih pada-Mu. Adakah niat ibadah ini memang dalam rangka mencari ridho-Mu? Adakah perbuatan yang aku anggap kebaikan ini memang dalam rangka mendekati-Mu? Adakah jalan yang tengah aku tempuh ini memang jalan lurus menuju-Mu? Ataukah itu semua hanya ilusi yang aku cipta sendiri? Imajinasi yang aku reka sendiri? Demi menyenangkan diriku bahwa yang aku lakoni bukan sebuah kesalahan.

Ketika Robiatul Adawiyah sedikitpun tidak pernah mengharap imbalan berupa surga, padahal taatnya tidak perlu dipertanyakan. Hanya satu harapnya, ridho-Mu. Cukup. Sedang aku? Aku kembali bertanya pada diriku sendiri. Apa yang aku cari? Ridho-Mu? Rasanya terlalu munafik jika aku mengatakannya, sedang dalam beribadah aku masih berharap imbal berupa pahala. Sedang dalam setiap yang aku perbuat, aku masih bermimpi surga. Ah makhluk macam apa aku ini? Tampil begitu manis di mata manusia, tetapi di hadap-Mu aku jauh dari berharga. Terlihat begitu baik di mata sesama, tetapi di hadap-Mu aku begitu nista. Makhluk macam apa aku ini? Berlagak menjadi paling baik sedunia, padahal justru aku menyimpan kejahatan yang tak terhingga. Berlakon menjadi paling suci sedunia, padahal justru aku yang paling hina.

Andai Kau membuka aibku, menampilkan dosaku, menampakkan cacatku, tentulah tidak ada satupun yang mendekat padaku. Aku sungguh iri pada mereka yang bisa berlari mengejar-Mu, sedangkan aku yang mereka anggap telah berlari ternyata masih stuck di sini. Aku malu pada-Mu, sering merasa diri paling baik, sok mengingatkan perihal kebaikan, padahal itu semua alibiku untuk mengingatkan diriku sendiri. Seorang yang masih suka abai dengan perintah Tuhannya, mengharap istiqomah lalu khusnul khotimah? Haihata!

Aku lelah harus tetap menampilkan senyum, padahal aku ingin menangis meraung. Aku lelah harus tetap berdiri tegak, padahal aku hendak tumbang. Aku lelah harus menampakkan sosok setegar karang yang tidak karam meski terus dikikis air laut, padahal aku lebih rapuh dari kayu tua lapuk yang menjadi santapan rayap. Aku lelah menelan kekecewaan demi kekecewaan itu sendiri, karena selain-Mu tidak ada lagi tempatku berbagi. Aku lelah pada kekeraskepalaanku sendiri. Aku lelah pada kemampuan yang aku buat-buat sendiri. Menganggap diri berkapasitas, bisa menyelesaikan bermacam urusan, nyatanya nol besar. Jika ada nominasi orang paling dzolim, mungkin akulah pemenangnya. Ambisi yang seringkali mengalahkan nurani.

Pada sisa waktu yang masih ada, aku tidak ingin banyak. Aku hanya ingin maaf-Mu. Aku hanya mau ampun-Mu. Aku tidak khawatir akan jodohku, karena aku yakin Kau telah memilihkannya. Aku tidak khawatir akan rizkiku, karena aku yakin Kau telah menakarnya. Kecuali pada mati dan nasib usai matiku, akankah seindah yang aku mau? Sedang nikmat-Mu tak terukur seiring dengan dosaku yang tak terhitung. Justru ketakutan terbesar dalam diri itu adalah Kau meninggalkanku. Mengacuhkanku di masa saat aku tidak memiliki siapa-siapa selain Kau.

Tuhan, masihkah maaf-Mu berlaku padaku?

 

Tertanda,

Seorang yang berpura-pura taat.

  • view 246