Elegi Air Jatuh

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 24 November 2016
Elegi Air Jatuh

Setiap hujan, aku suka sekali menemuinya, lalu mendongakkan kepalaku ke atas berlama-lama. Tidak masalah sekujur tubuhku kuyup, bahkan ujung-ujung jari penuh kerut. Tidak masalah leherku akan pegal setelahnya, yang penting aku tidak melewatkan kesempatan itu. Memandang takzim satu demi satu titik air jatuh dari tempat yang tingginya entah berapa kaki, kemudian dengan mulusnya mendarat di atas wajahku. Menyenangkan. Lamat-lamat menghitung tetes demi tetes yang mampir di kulitku, membuat wajah basah. Membahagiakan. Sering diteriaki kurang kerjaan, aku tidak peduli. Mereka hanya tidak tahu bagaimana nikmatnya berlama-lama di bawah sini sampai saraf perasa memberi instruksi untuk menepi. Aku juga sering tidak mengerti, mengapa orang-orang itu lebih memilih menjauhi tetes-tetes penyampai pesan bahagia ini ketika ia tiba. Bukankah air ini rahmat Tuhan? Lalu kenapa justru pergi ketika rahmat itu tiba? Pantas saja jika hidup tidak sering bahagia.

Hujan waktu itu kita berdua. Nyatanya indah sekali Tuhan menggariskan pertemuan kita, sepasang anak cucu dari kakek-nenek kita yang terusir dari surga, Adam-Hawa, yang selalu mendatangi hujan saat ia tiba. Aku jadi bersyukur karena Tuhan mengusir kakek-nenek kita dari surga, andai mereka tetap di surga, mungkin kita tidak akan pernah bisa berdua di bawah hujan, bukan? Kau bahkan lebih gila, meninggalkan jam kuliah, padahal dosenmu lebih menyeramkan dari hantu yang tenar di kampus kita. Tapi dengan acuhmu kau berlari keluar menemui hujan. Seolah hujan dan jiwamu adalah satu, maka saat hujan sampai di bumi, berarti ia panggilan bagi jiwamu. Tidak ada yang kau lakukan. Hanya diam, membiarkan sekujur badan dibasuh oleh rinai yang berdebam. Lalu kau tersenyum penuh kepuasan. Dalam hal ini, aku seringkali malu kepadamu. Kau berani menebas resiko demi yang kaucintai, sedang aku? Hanya termangu pasrah, berharap cemas jam kuliah lekas usai, lalu kita menemui hujan bersama. Setidaknya menatapmu di bawah hujan dari balik kaca jendela kelasku juga sama menyenangkannya.

Hujan, bait rindu langit pada yang dicintanya, bumi. Hujan, syair kangen langit pada yang dikasihnya, bumi. Aku selalu ingat larik kalimat sederhana ini. Saat itu aku masih tidak mengerti, tapi hari ini hatiku sempurna mengamini. Kau benar, betapa menyedihkannya nasib langit dan bumi, tetapi di lain sisi betapa arif keduanya menyikapi. Mereka dengan ikhlas menanggung hubungan jarak jauh selama semesta masih ditakdirkan ada, karena pertemuan keduanya adalah binasa bagi yang lainnya. Karena itulah hujan diciptakan. Sebagai ungkap rindu dari langit saat tengah rindu-rindunya pada bumi. Andai hujan bukan cinta, mengapa tetumbuhan nampak segar sehabis hujan? Andai hujan bukan kasih, mengapa udara terasa kembali sejuk pascahujan? Tanda alam itu berarti sederhana, bahwa hujan adalah cinta yang tidak lekas bermuara pada pertemuan sehingga ia turun menyampai rindu yang sekian lama tertanam.

Entah sudah putaran jam yang ke berapa aku terpekur di bawah atap langit yang tengah membacakan bait demi bait rindu. Anggap saja sebagai hiburan. Jam tangan pemberianmu yang aku kenakan mati, mungkin sudah jengah menemaniku yang tak beranjak sejak tadi. Ah biar sajalah, kalau perlu aku luruh oleh air yang jatuh itu. Terbawa alirnya yang sudah sampai ke dalam bumipun tidak masalah, jika itu bisa mendefinisikan rindu yang detik ini bertahta manis di singgasanaku. Dan kau tahu, hujan sekarang suka sekali turunnya bersama dengan hujan di kedua indera penglihatku.

Ini sudah hujan ke berapa? Hei, pusaramu basah!

  • view 247