Selepas Kehilanganmu

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 November 2016
Selepas Kehilanganmu

Tidak ada yang baik-baik saja dalam kehilangan. Kau harus tahu bahwa ada air mata yang terpaksa dijatuhkan setelah bibir mengucap sebuah keikhlasan. Kehilangan, entah kenapa selalu ada duka yang mengiringnya. Menjadi pengikut setianya ketika ia datang. Lalu setelah kehilangan beranjak, prajurit itu akan tetap tinggal. Sedih itu akan tetap bersemayam.

Selepas kehilanganmu. Tidak lagi ada yang sama dalam hariku. Segala menjadi berbeda dalam detikku. Fajar yang dulu selalu kita nikmati berdua dinginnya, kini menjadi beku karena tiada senyum hangatmu yang mencairkannya. Malam yang dulu selalu menjadi waktu kita untuk saling bercerita, kini menjadi kosong sebab tiada lagi suara khasmu yang meramaikannya. Aku masih di sini, pada setiap jalan yang kita lalui. Pada setiap tempat yang kita singgahi. Jalan tempat kita bermain layang-layang atau bola bersama, yang dulu pasti kauramaikan dengan teriak-teriakmu, kini terlalu lapang untuk kulalui sendiri. Teras rumah yang dulu berisik dengan suara sumbang gitar dan nyanyianmu, kini menjadi sunyi. Hanya ada dua kursi yang biasa aku dan kamu duduki untuk menghabiskan waktu bersama di sela kesibukan kita.

Bilik kamarmu kosong. Baju-bajumu tergantung teratur dalam lemari. Aroma parfum kesukaanmu masih jelas merebak hingga ke hidungku. Gitar kesayanganmu berdiri sendiri di salah satu sudutnya, seperti menunggumu kapan akan memainkannya kembali. Sayang dia tidak tahu bahwa kau tidak akan pernah menyentuhnya lagi. Foto-fotomu terpampang rapi, ah kau memang makhluk narsis. Air mataku meleleh lagi. Kamar yang dulunya tidak pernah sepi, bahkan selalu menjadi bahan teguran keluarga karena keberisikan yang selalu saja kau ciptakan, detik ini dipenuhi dengan rongga-rongga yang mengisyaratkan kehampaan maha dahsyat. Ah memang benar, kerinduan itu pasti hadir setelah ketiadaan. Dan detik ini dia datang merayapiku.

Selepas kehilanganmu. Banyak yang berkata bahwa aku seperti kehilangan semangat. Mataku meredup, warnaku memudar. Kemudian aku berkaca pada cermin kesukaan kita. Rupanya sebagian hatiku kaubawa untuk menemani dalam rumah keabadianmu. Sebagian jiwaku turut pergi seiring dengan perginya jiwamu dari jasadnya. Aku berjalan ke dapur. Kopi favoritmu masih ada di sini. Kopi yang kau beli beberapa hari lalu, isinya tinggal setengah. Untuk hal satu ini kita bertolak belakang, kau yang pecandu kopi, sedangkan aku pelarangmu untuk mencandui kopi. Tapi hari ini aku ingin tahu mengapa kau amat mencintai kopi ini. Sengaja kuseduh ia tanpa gula, lalu air mataku mengalir deras. Ternyata rasa pahit kehilanganmu lebih hebat dibanding kopi ini.

Masa kecil yang kita lalui sangat indah. Aku mengumpamakan kita seperti sepasang enzim dan substrat. Teori lock and key, begitulah adanya. Orang berkata saling melengkapi. Kau mengajariku untuk tak takut dengan keramaian, aku mengajarimu untuk mengenal keheningan. Kau mengajariku untuk tak malu berinteraksi dengan banyak orang, aku mengajarimu untuk bermonolog dengan dirimu sendiri. Kau membuka mataku bahwa aku tidak sendiri di dunia ini. “Kan ada aku.” Begitu selalu katamu.

Maka segala yang harus aku lalui kini menjadi sangat tidak biasa. Aku tidak biasa melalui fajar tanpa senyum khasmu. Aku tidak biasa melalui malam tanpa suara sumbangmu. Aku tidak biasa melalui waktu tanpa keberisikan yang kauciptakan. Aku tidak biasa melewati detik tanpa keramaian yang kaubuat. Dari alam sana, bisakah kau mengajariku untuk biasa melalui detik tanpamu?