Terlalu Baik

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Agama
dipublikasikan 05 November 2016
Terlalu Baik

Catatan Kecil Seorang Penonton

04 November 2016. Ibu kota banjir manusia! Ratusan ribu kepala dari berbagai penjuru bangsa tumpah ruah dalam satu wadah yang disebut Jakarta. Bukan sebagai kaum urban yang akan semakin menambah kesesakan ibu kota, atau sebagai wisatawan penikmat bising dan pengapnya Jakarta. Jauh di atas itu semua, mereka tiba dengan satu tujuan. Membangunkan penegakan keadilan yang selama ini tertidur pulas.

Seperti tindakan-tindakan fenomenal lainnya, maka aksi ini juga tidak lepas dari dua saudara tetapi berlawanan, yaitu pro dan kontra yang datang justru dari umat islam itu sendiri. Kamu bersikap begitu kok seolah rela agamamu dinistakan. Kalau aksi ini tidak tepat, lalu apa tindakan yang tepat menurutmu? Menunggu pihak berwenang mengusutnya? Ah, kau seperti tidak mengerti saja. Jika kau tidak bisa membantu perjuangan saudaramu secara langsung, setidaknya jangan henti mendoakannya. Jika kau tidak suka dengan apa yang dilakukan saudaramu, setidaknya jangan mencacinya. Toh kau juga diam saja, kan? Entahlah, aku hanya tidak menemukan alasan mengapa aku harus tidak mendukung aksi ini. Maka menyedihkan sekali ketika melihat agama ini dinistakan, tapi jauh lebih menyedihkan melihat mereka yang mengaku umat agama ini justru membela si penista.

Umat yang entah mengapa saya ingin menyebutnya sebagai umat yang terlalu baik. Mungkin karena terlalu sempurna ajaran agama yang diyakininya. Apa kabar saudara umat ini yang hidup sebagai minoritas di luar sana? Lalu apa kabar umat lain yang hidup di negara yang mayoritas dihuni oleh umat yang terlalu baik ini? Dapat dibandingkan.

Masih ingat sejarah kemerdakaan negara ini? Bagian perumusan Pancasila, tepat pada sila bagian pertama. Saya kira bunyi silanya tidak perlu saya tulis, bisa cari sendiri kan? Apa yang terjadi pada perumusan sila pertama? Ya, umat yang terlalu baik ini memilih mengalah! Jika mereka memaksakan, pasti mereka menang. Tapi demi ‘persatuan’, mereka memilih mengalah.

Catatan kecil seorang penonton hari ini.

Ketika jantung berdegup kencang karena gema takbir yang membelah atmosfer ibu kota. Ketika alir darah semakin cepat sebab lautan massa di titik-titik penting ibu kota. Mengamati dari layar kaca, sembari tidak henti berdoa untuk kebaikan saudara yang tengah berjuang di sana. Doa tidak berbatas jarak kan? Maka biar Allah yang menyampaikannya.

Saudara yang dipertemukan atas dasar iman, yang melawan terik membakar, aspal panas memanggang, tapi tidak padam kobaran api semangat yang nyalanya terlanjur membesar. Biar saja si kuffar dan muanafiq itu menertawakan, mencibir, dan meremehkan, ada Allah yang tidak tidur dan tidak akan diam. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat. Jangan khawatir! Sesungguhnya Allah bersama kita. Barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan meneguhkan kedudukannya. Setidaknya itu kepastian yang telah termaktub dalam alquran.

Terus berdiri, meski rongrongan tiada henti

Terus bertahan, meski tekanan tidak terbilang beratnya

Lihatlah bagaimana Nabi Nuh yang 950 tahun hanya mendapat 12 pengikut, bahkan anaknya kafir. Nabi Luth yang kaumnya memiliki nafsu menyimpang, bahkan istrinya sendiri menjadi perantara penyimpangan itu. Nabi Ibrahim yang dibakar oleh Namrud. Nabi Isa yang menjadi perburuan Bani Israil. Dan lihat bagaimana dakwah fase Mekah itu berlangsung. Maka dibanding mereka, sesungguhnya masih belum ada seujung kuku perjuangan di masa ini.

Seorang tokoh berkata, “demo bukan rahmatan lil alamin.” Tertegun mendengarnya. Ludah terasa begitu pahit untuk ditelan, tapi rupanya kenyataan jauh lebih pahit. Bisakah tunjukkan bagaimana rahmatan lil alamin itu sebenarnya? Apa dengan hanya duduk diam sambil berdoa si penista masuk penjara? Memang Allah memerintahkan hamba untuk berdoa, tetapi Allah juga memberi rambu tidak akan mengubah nasib jika tiada tindakan yang menyertai doa.

Terlalu baiknya umat ini, bahkan ketika aparatur negara menembaki dengan gas air mata, pemimpin-pemimpinnya tetap menginstruksikan untuk tetap tenang. Tidak tersulut emosinya oleh keadaan yang memanas. Sami’na wa atho’na. Tetapi, jahat dan baik itu seperti sepasang sandal, selalu berpasangan meski tidak pernah bersamaan. Saling mendahului. Maka begitulah, provokator pasti ada dalam setiap aksi. Menebar provokasi-provokasi yang memancing emosi. Aksi yang hitungan massanya hanya sampai digit tiga saja pasti ada provokatornya, apa lagi aksi yang hitugan massanya sampai berkali lipat digitnya?

Presiden menyesalkan kerusuhan yang terjadi di aksi damai. Headline beberapa berita hari ini. Lalu kemarin pergi ke mana? Penyesalan memang selalu datang belakangan, kalau datangnya di depan mungkin disebut sebagai pendaftaran. Sudahlah, yang ada hanya kecewa dan marah membahas bagian ini. Bagaimanapun presiden tetap pemimpin yang baiknya dihormati, bukan?

Allah selalu menitipkan hikmah di setiap kejadian. Tinggal manusianya peka atau tidak terhadap hikmah itu. Fenomena al-maidah ayat 51, dengan sentilan kecil saja umat islam langsung berpadu menjadi satu kesatuan yang mengagumkan. Menggentarkan siapa saja yang melihatnya. Sebuah kenyataan yang membuat haru, bahwa umat yang terlalu baik ini belum sepenuhnya terpecah belah. Bahwa walau masih sedangkal apapun pemahaman akan agamanya, tapi di hati masih tersemat ketulusan membela jika ada yang merongrong kesempurnaan agamanya, insyaAllah. Semoga menjadi bagian dari yang berhati tulus itu.

Wallahu a’lam bisshowab.

  • view 191