Bu

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Oktober 2016
Bu

Sekedar memberitahukan, malam ini hujan turun, Bu. Aspal menjadi basah, tanah menjadi becek, udara terasa lembab, hawa terasa dingin. Aku di kamar ini sendiri, Bu. Ah tidak, aku tidak sendiri. Aku ditemani oleh dia yang aku namai rindu. Rindu yang aku racik bersama kopi kesukaanku. Asapnya mengepul, memenuhi langit kamarku, merambati dinding bilik kecilku ini.

Ibu, tetiba aku jadi rindu. Pada masa kecil yang aku lalui bersamamu. Pada kemarahanmu yang memuncak karena aku yang sulit menangkap apa yang tengah kau ajarkan. Pada suaramu yang meninggi karena aku yang lambat mengerti apa yang tengah kau berikan. Karena rupanya suara marahmu itu indah, Bu. Setidaknya suara marahmu itu tidak lebih menyakitkan dibandingkan suara marah dari selainmu yang aku temui saat ini.

Ibu, tetiba aku jadi rindu. Pada ambisimu yang selalu menuntutku menjadi yang terbaik di sekolahku. Aku ingat sekali, Bu, ambisimu itu membuatku sudah bisa membaca meski usiaku masih di kisaran angka 3. Aku ingat sekali, Bu, gurat kecewamu saat aku ada di posisi kedua di sekolah. Ambisimu yang selalu menginginkanku menjadi yang pertama. Saat itu aku lelah memenuhinya, Bu. Aku tumbuh menjadi anak yang dipenuhi rasa takut akan kegagalan. Aku tumbuh menjadi anak yang tidak peduli akan hak-hak tubuhku, sekaligus menjadi anak yang ambisius. Tapi nyatanya ambisimu itu indah, Bu. Setidaknya untuk memenuhi segala ambisi itu tidak lebih sulit dibandingkan memenuhi deadline tugas kuliahku esok.

Ibu, beberapa bulan lagi aku sudah berkepala dua. Ah, anakmu yang kemarin masih kau kepangkan rambut panjangnya, masih kau suapi makannya, masih kau antarkan ke sekolahnya, sudah memasuki usia dewasa. Aku masih ingat sekali, di 17-ku, saat bulan tepat di atas kepala, kau memberi kejutan sederhana untukku. Kau memelukku erat, seolah akulah satu-satunya kepunyaanmu di dunia ini. Ah, rupanya kebahagian tak melulu soal mewah dan mahal ya, Bu. Kita membuktikannya. Bukan, tetapi cintamu membuktikannya. Sekarang? Bahkan belum sempat aku belajar banyak darimu, tapi waktu mengejarku untuk segera mendewasa, Bu.

Ibu, rupanya menjadi dewasa itu melelahkan ya. Aku kira dulu, menjadi dewasa itu menyenangkan. Aku melihat orang dewasa itu bebas memerintah mereka yang lebih muda, atau dengan kata lain anak kecil seperti aku. Ternyata penilaianku dulu salah sekali, Bu. Menjadi dewasa tidak semenyenangkan yang aku kira. Lebih menyenangkan berjaga untuk petak umpet dibandingkan berjaga untuk menanti sebuah kepastian. Lebih menyenangkan bermain lompat tali dibandingkan bermain dengan hati. Lebih menyenangkan menarik ulur layang-layang dibandingkan menarik ulur perasaan. Lalu bagaimana bisa kau begitu kuat, Bu? Ajarkan aku untuk kuat juga sepertimu. Bukan hanya kuat raga, tapi juga jiwanya.

Ibu, apakah sekarang aku boleh mencapai segala yang kumau? Apakah sekarang aku boleh mengejar segala yang kuingin? Aku telah memenuhi ambisimu saat di sekolahku dulu. Ketika sekarang aku menyadari bahwa aku baru mendapatkan aku yang sebenarnya, apakah aku boleh menjadi aku tanpa intervensi dari siapapun, Bu? Bukan, aku bukannya hendak melawan atau membangkang. Bahkan Allahku melarang meski sekedar berkata “ah” kepadamu, Bu. Aku ingin membahagiakan ibu, dengan versiku sendiri. Aku ingin menyenangkan hati ibu, dengan versiku sendiri. Itu saja.

Sekedar memberitahukan, hujan telah reda, Bu. Tulisan ini juga sudah usai. Selamat malam, Bu.

Terinspirasi dari lagu Sekuat Hatimu – Last Child.