Alibi

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Alibi

Aku tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana. Berulang kali kutekan jajaran huruf yang terpampang dalam laptop ini, memblocknya, tekan backspace, menulis lagi, memblocknya lagi, tekan backspace lagi. Ini entah sudah hitungan yang ke berapa.

Tetiba saja tanganku terasa kaku. Jariku ngilu hanya untuk mengetik satu dua huruf pengungkap rindu. Entahlah! Hanya saja aku rasa beku mulai menjalari ujung jempol kaki hingga ujung ubun yang ada di kepalaku. Air hujan saja tidak pernah mampu membuatku sedingin ini. Hanya satu yang bisa.

Kau.

Siapa sangka bahwa di balik canda ada rasa yang diam-diam menelusup dan mengetuk pintu yang telah lama tertutup? Siapa kira bahwa di balik bincang ada benih tersemai, tumbuh dengan baik, akarnya menguat, batangnya meninggi, daunnya merimbun? Siapa tahu bahwa di balik setiap tatap ada degup yang memburu, meretas detak dalam wadah yang seperti hendak retak? Siapa pikir bahwa di balik pesan-pesan yang terkirim ada harap cemas menanti balas, lalu bibir terulas lebar ketika balasnya telah tiba?

Bagiku kata-kata adalah dinding. Bagiku kata-kata adalah tameng. Dinding tempatku bersembunyi. Tameng tempatku berlindung. Sengaja. Kau tidak tahu bahwa aku ada di baliknya bukan? Tapi aku tahu kau. Besembunyi di balik kata. Berlindung di balik tameng. Hanya dengan ini aku leluasa mencintaimu sekehendak hatiku.

Tulisan ini mungkin sebagai permintaan izin dariku. Izin untuk menulismu selalu dalam cerita-cerita yang aku terka. Izin untuk menjadikanmu tokoh utama dalam kisah-kisah yang aku reka. Izin untuk memakaimu sebagai objek pewujud imajinasiku yang terkadang menggila. Karena aku tidak menemukannya selain padamu.

Jangan sebut bahwa kau belum istimewa karena aku belum pernah merangkaikan huruf demi huruf untukmu. Jangan sebut bahwa kau belum berharga karena aku belum pernah menyulamkan huruf demi huruf untukmu. Kau bahkan selalu hadir dalam tulisanku, termasuk di sini. Aku hanya sengaja menyamarkannya. Tentu saja tujuannya agar kau tidak mengetahuinya. Ada sudut yang memang sengaja aku tutup. Ada bagian yang memang sengaja tidak aku tampakkan. Karena aku rasa itu cukup menjadi konsumsiku sendiri.

Kau itu milikku. Kau itu kepunyaanku. Meski hanya dalam cerita, setidaknya kau tetap milikku bukan? Meski hanya dalam kisah, setidaknya kau tetap kepunyaanku bukan? Tidak peduli orang lain mengklaim bahwa kau milik mereka, bagiku kau tetap milikku. Maklumi kekeraskepalaanku ini. Aku hanya ingin memilikimu dalam ceritaku. Itu saja.

  • view 200