Just Be Yourself!

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 24 September 2016
Just Be Yourself!

Saya sebetulnya kurang setuju juga dengan statement yang menjudge bahwa orang yang curhat di media sosial itu buruk, salah, atau sejenisnya. Menurut saya pribadi, tidak setiap curhatan itu buruk kok, pun juga tidak setiap orang yang menaruh curhat itu kurang kerjaan. Tinggal bagaimana sudut pandang dari si pembaca itu sendiri. Seharusnya yang dipandang adalah pelajaran apa yang bisa diambil dari curhatan tersebut, bukan justru sebaliknya. Tapi ya itu semua kembali lagi ke pribadi masing-masing ya.

Kenapa saya menulis kalimat pembuka tulisan ini seperti itu? Ya karena saya memang ingin curhat dalam tulisan ini. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil, kalau tidak ya saya bisa apa?

Apa rasanya ketika hobi sama sekali tidak mendapat dukungan dari orang tua? Apa rasanya ketika impian tidak disetujui oleh orang tua? Kira-kira begitulah.

Ibu adalah seorang yang boleh saya katakan ‘ambisius’. Well setiap orang tua memang selalu ingin anaknya menjadi yang terbaik bukan? Kerasnya didikan beliau membuat saya yang ketika itu masih berusia tiga tahun sudah lancar membaca, meski belum lancar menulis. Suatu hal yang masih sangat jarang terjadi di lingkungan sekitar saya. Usia lima tahun saya sudah memasuki bangku sekolah dasar. Meski terbilang lebih muda dibanding yang lain, namun saya bisa mengikutinya. Bahkan saya selalu menjadi bintang kelas sepanjang karir saya menjadi siswa.

Sering teman-teman bertanya, “kamu belajarnya gimana sih Na bisa juara terus?” Oh Allah, mereka hanya tidak tahu betapa lelahnya saya memenuhi ambisi itu. Pernah suatu ketika saya yang semula juara umum, tergeser di posisi kedua. Tidak terkatakan betapa kecewanya ibu saya saat itu. Sebagai anak yang belajar berbakti kepada orang tua, tentu hal itu menjadi pukulan telak bagi saya. Karenanya saya tumbuh menjadi anak yang penuh ketakutan bila nilai saya tidak sempurna. Saya tumbuh menjadi anak yang penuh kekhawatiran bila peringkat pertama tidak di tangan.

Keadaan itu membuat saya hampir tidak mengerti akan jadi apa saya nanti. Cita-cita saya berubah-ubah sesuai mood. Saya memang masuk di jurusan IPA saat SMA, tapi jujur saya tidak begitu expert dalam bidang itu. Selama ini saya hanya mengikuti aturan, menuruti cara main yang telah ditetapkan. Selebihnya? Saya bahkan tidak memahami apa potensi saya, apa minat saya, apa yang hati saya benar-benar inginkan.

Hingga kesadaran menghampiri saat saya sudah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa selama tiga semester. Di masa itu saya tahu dan paham ke mana hati saya ingin mengarah. Merasa jurusan kuliah tidak sesuai, maka saya mencoba untuk mengikuti tes SBMPTN lagi. Sayang sekali saya diterima pada pilihan ketiga, bukan pada pilihan pertama yang memang jurusan yang saya impikan, sehingga saya tidak mengambilnya dan memilih bertahan di sini.

Kabar buruknya adalah kondisi ini membuat semester empat saya begitu buruk. Saya seperti menemukan hal lain yang benar-benar saya inginkan. Seperti menemukan pelabuhan yang lebih indah tempat menyandarkan badan kapal. Akibatnya, indeks prestasi saya terjun bebas. Begitu jauh. Menyakitkan memang, tapi ketika saya mematut diri saya pada sebuah cermin kemudian flashback masa-masa semester empat, saya mengangguk dan mengakui bahwa saya memang pantas akan angka itu. Saya mencoba tersenyum, meski rasanya sangat getir. Bangun lagi, perbaiki lagi. Tidak sepatutnya saya berbuat seperti itu. Seyogyanya betapapun tidak nyamannya saya dengan jurusan saat ini, saya harus lebih bisa mengelola hati saya untuk bertahan hingga akhir bukan?

Sekuat mungkin saya tidak menyalahkan siapapun atas jalan ini. Karena toh ini memang skenario yang harus saya jalankan bukan? Allah, sebagai sutradara terbaik, telah memberikan naskah seperti ini dalam hidup saya. Ya saya percaya saja bahwa ini memang yang paling baik untuk saya dari-Nya. Semoga kelak akan berbuah surga.

Tetapi satu pelajaran sangat berharga yang saya petik dari runutan kehidupan saya ini. Bahwa memang setiap manusia itu memiliki versi hebatnya masing-masing. Bahwa setiap embrio itu telah dibekali dengan versi indahnya masing-masing. Bukankah memang setiap kepala dititipi oleh-Nya potensi yang berbeda-beda untuk diolah menjadi sebuah maha karya?

Dear orang tua, tidak perlu memaksakan anak harus begini harus begitu, karena tugas orang tua itu seyogyanya adalah mengarahkan jalan, bukan memaksakan jalan. Biarkan si anak menjadi hebat versi diri mereka masing-masing, selama tidak keluar dari koridor agama, sah-sah saja bukan? Jika anak tidak pandai matematika atau IPA, ya tidak perlu dimarahi. Tidak perlu dipaksa mereka harus menguasai keduanya. Mungkin minat mereka pada bidang lain, melukis atau menulis misalnya. Jika anak tidak menjadi juara di kelasnya, ya tidak perlu dituntut untuk itu. Mungkin kemampuan mereka pada ranah yang lain, olahraga misalnya.

Setiap manusia itu terlahir unik. Tercipta dengan gradasi warna yang tidak sama. Bukankah pelangi itu indah karena warnanya berbeda-beda? Just be yourself! Jadilah dirimu sendiri, karena kamu indah dengan warna yang ada pada dirimu.

  • view 211