Saat Allah Mengetuk Untuk Kembali

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 19 September 2016
Saat Allah Mengetuk Untuk Kembali

Menilik perjalanan beberapa waktu terakhir, tersadar bahwa rupanya diri terlalu banyak luput dari kebaikan. Menengok segala yang telah tertinggal di belakang, terbangun bahwa rupanya diri terlalu banyak melalaikan kewajiban. Seperti kaleidoskop yang rutin diputar oleh infotainment setiap akhir tahun, rupanya terlalu banyak kufur dan futur yang mewarnai perjalanan. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat bukan? Semua yang di belakang memang seharusnya tidak begitu saja ditinggalkan, harus ada pelajaran yang bisa dipetik, direnugkan, diperbaiki, dan diamalkan.

Malu pada manusia tidak seberapa, dibandingkan dengan malu kepada Allah yang telah mencipta diri ini tuk ada di dunia. Berikrar diri sudah hijrah, tapi akhlak masih madzmumah. Berkomitmen untuk berubah, tapi langkah masih statis di tempat yang sama. Jalan di tempat, bahkan mungkin mundur. Bukan hijrahnya yang salah, tetapi hati ini saja yang terlalu mudah goyah. Bukan berubahnya yang menyimpang, tetapi iman diri ini saja yang terlalu mudah berubah haluan. Iman itu seperti cahaya yang gelombangnya bersifat transfersal, ada kalanya melejit jauh ke puncak bukit, ada kalanya terporosok jauh ke dasar lembah. Naik turun, tidak stabil.

Saat diri dirasa sudah jauh menyimpang, bersyukur bahwa Allah masih sayang. Allah bersedia mengetuk hati, mengajak kembali. Padahal jiwa terasa sudah sangat jauh, tapi Allah masih sudi menarik untuk mendekat lagi. Tidak banyak yang diingini, hanya ingin ada di dekat-Nya, lebih banyak berdua dengan-Nya, lebih sering berbincang dengan-Nya. Jiwa yang dulu kerontang, terbasahi oleh setetes demi setetes embun bening dari celah daun. Hati yang dulu hampa, terisi oleh sebait demi sebait puisi cinta dari-Nya.

Aku ingin terbang menuju-Mu. Melintasi gurat semesta untuk bertemu-Mu. Melampaui masa demi masa untuk sampai di hadap-Mu. Saatnya mengais remah yang berserak, disatukan lagi agar kembali utuh menjadi kepingan lengkap. Jika bukan ciptaan-Mu, aku tidak bisa membayang akan bagaimana hati ini berfungsi. Saatnya melupakan segala yang mengganggu perjalanan, biarkan ada di belakang dan menjadi pelajaran. Jangan pernah biarkan lagi hati ingin memiliki yang tidak sepatutnya dimiliki. Jangan pernah biarkan lagi hati mendamba pada yang tidak sepatutnya dipuja. Pendambaan hanya untuk-Nya! Penghambaan hanya kepada-Nya! Cukuplah Allah bagiku, maka cukuplah aku. Kembali fokuskan diri pada yang telah direncanakan dulu, di waktu yang jauh sebelum hari ini. Selain itu, biarkan menjadi kerikil yang menghiasi setiap jengkal jalan yang dilewati.

  • view 257