Hai, Kakak Perempuan!

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2016
Hai, Kakak Perempuan!

Kita tidak bisa memilih bagaimana kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih bagaimana kita menjalani kehidupan. Ada orang bijak mengatakan, “jika lahir itu B (Birth), dan mati itu D (Death), maka di antara keduanya ada huruf C (Choice). Itu artinya hidup selalu menyediakan pilihan-pilihan, tinggal bagaimana manusia pandai dalam memilih, lalu menjalani pilihannya.” Dilahirkan sebagai anak perempuan pertama juga bukan pilihan, itu mutlak kuasa Tuhan. Tetapi bagaimana menjalani peran sebagai anak perempuan pertama, itu merupakan pilihan sebuah kehidupan.

Aku. Seorang yang lahir kurang lebih sembilan belas tahun lalu di sebuah desa yang cukup jauh dari pusat kota. Seorang yang ditakdirkan sebagai anak perempuan pertama. Delapan tahun aku menjalani kehidupan sebagai anak tunggal, tapi setelahnya Tuhan memberi takdir lain akan hidupku. Melalui ibuku, dikirim-Nya seorang bayi laki-laki ke rumahku. Dia, adikku, yang saat aku mengetik tulisan ini usianya sudah memasuki bilangan sebelas tahun. Sejak hari itu aku resmi menjadi seorang kakak, tidak mudah memang, tapi aku bisa apa selain menerima? Aku tidak seperti anak-anak lain yang gembira ketika memiliki adik. Aku sempat marah saat itu, tapi seiring berlalunya waktu aku mengerti bahwa memiliki adik juga sebuah rizki yang seharusnya disyukuri.

Kakak perempuan, terlebih bila dia anak pertama, merupakan perempuan terkuat kedua setelah ibu. Bagaimana tidak? Ketika ibu tidak ada, pasti dialah yang menggantikan perannya. Anak pertama perempuan dituntut untuk bisa segala hal bahkan sejak usianya masih sangat belia. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga, itu sudah pasti. Dimulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian, menyeterika, jika usianya beranjak ditambah lagi dengan tuntutan untuk bisa memasak. Mungkin hal-hal tersebut yang membuat kejiwaan anak perempuan lebih cepat matang dibandingkan anak laki-laki. Mendewasa lebih cepat. Terlebih bila dia memiliki seorang adik di usia yang masih sangat muda, proses pendewasaan dirinya akan menjadi semakin cepat. Tidak ada bermanja-manja lagi, dia harus belajar mandiri, karena perhatian orang tua terutama ibu, banyak bertumpu pada adiknya. Bagaimanalah dia tidak cepat matang kalau begitu? Karena pada faktanya usia memang bukan tolok ukur dari sebuah kedewasaan.

Kakak perempuan. Biasanya akan menjadi seorang yang suka mengatur, mendominasi, cenderung memerintah. Apa dia mau begitu? Sebetulnya tidak juga, tapi keadaan yang menuntutnya bersikap begitu. Setelah memiliki adik, di setiap harinya mereka pasti diamanahi oleh orang tuanya untuk menjaga adiknya. Jika dia tidak pandai mengatur adiknya, bagaimanalah? Karena saat terjadi adiknya berbuat kesalahan, pastilah dia orang pertama yang dimarahi. Menyebalkan bukan? Tidak berbuat salah tetapi menerima imbasnya. Tapi begitulah nyatanya. “Kamu kan yang besar, harusnya bisa mengarahkan adikmu.” Statement seperti itu tidak jarang membuat hati berteriak kesal, meski mulut pada akhirnya memilih bungkam daripada menimbulkan cekcok berkepanjangan. Maka atmosfer seperti ini membuat kakak perempuan harus menjadi pemimpin yang baik bagi adiknya. Mampu mengarahkan, mengatur, melindungi, mengayomi, menyayangi, dan tidak jarang juga mendominasi.

Kakak perempuan. Sekalipun dia terlihat garang kepada adik-adiknya, tapi sebenarnya jauh dalam hatinya menyimpan kasih sayang yang tidak terkira besarnya. Sekalipun dia terlihat galak, senang membatasi gerakan, selalu mengatur ini itu, menyebalkan, tapi sebenarnya dia lakukan itu semua untuk kebaikan adiknya. Karena dia lebih dahulu mengalami, maka dia tidak ingin hal buruk yang menimpanya dahulu juga menimpa adiknya. Baginya bahagia itu sederhana, saat melihat adiknya berhasil, memperoleh hasil yang terbaik dalam setiap fase hidupnya. Saat bintang kecilnya bersinar terang menjadi bintang terindah di langit malam. Itu sumber kebahagiaan seorang kakak perempuan. Saat melihat adiknya di puncak kesuksesan, diam-diam dia menyelinap ke belakang, mengusap kedua matanya yang basah karena haru. “Selamat atas kesuksesannya, Dik.” Sebuah kata yang mungkin tidak akan terucapkan, tapi jelas ada dalam hatinya.

Menjadi peran sebagai kakak memang tidak mudah. Harus bisa menjadi teladan, juga panutan bagi sang adik. Ini jujur dari lubuk hati terdalam (cie..), aku sering iri melihat mereka, teman-teman perempuanku yang memiliki kakak kandung laki-laki. Sebagai anak perempuan pertama, aku juga tidak bisa berbohong bahwa sering ada letupan perasaan itu. Keinginan yang teramat sangat untuk memiliki kakak kandung laki-laki. Sepertinya seru, ada yang bisa diajak bercanda tanpa canggung, ada yang bisa diajak untuk pergi ke sana ke mari, dan ada yang bisa diandalkan untuk menjaga. Ah tapi sudahlah, jatahku memang sebagai kakak perempuan pertama. Perempuan paling kuat kedua setelah ibu. Seperti yang tertulis di awal, kita tidak bisa memilih bagaimana kita dilahirkan, tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menjalani kehidupan. Hai, kakak perempuan!

  • view 627