Polemik Rokok

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Agustus 2016
Polemik Rokok

Mengingat jumlah perokok di Indonesia, tentu menimbulkan perasaan miris yang membuat hati teriris dan mulut meringis menahan tangis. Faktanya rokok bukan lagi hanya milik laki-laki dewasa, perempuan dan anak-anak pun sudah banyak yang terjamah oleh rokok, sekalipun jumlahnya tidak sebanyak perokok laki-laki dewasa. Padahal bahaya rokok terhadap kesehatan sudah tidak menjadi rahasia lagi. Begitu banyak kampanye-kampanye mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan yang disebarluaskan ke masyarakat, baik itu melalui media elektronik, cetak, maupun secara langsung. Tapi sepertinya usaha itu seperti kentut saja, setelah keluar kemudian berlalu tanpa bekas. Jumlah perokok bukannya menurun, malah semakin meningkat. Alhasil kematian akibat rokok juga semakin meningkat. Bila diingatkan mengenai itu seringkali dengan enteng dijawab, “Ngerokok mati, nggak ngerokok juga mati. Jadi ya lanjut aja.” Oh Allah, apakah perlu ruqyah dulu agar mereka sadar?

Saya yakin masalah rokok ini juga menjadi salah satu keprihatinan dari pemerintah Indonesia. Mungkin hal ini yang melatarbelakangi pemerintah untuk melemparkan kebijakan kepada masyarakat mengenai kenaikan harga rokok senilai minimal lima puluh ribu rupiah, setelah kebijakan memasang gambar mengerikan di bungkus rokok mental. Tidak mempan di masyarakat yang terlanjur candu merokok. Layaknya melempar beras ke kandang ayam lalu menjadi rebutan, konsumsi kebijakan baru yang antimainstream tersebut banyak menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Banyak pihak setuju, namun tidak sedikit pula yang menolak keras. Bagi pihak yang setuju, kebijakan baru ini seolah angin segar yang mungkin bisa sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan merokok masyarakat. Tetapi bagi pihak yang tidak setuju, mereka tentu sudah menyiapkan beragam alibi dan kekuatan penuh untuk menggagalkan penerapan kebijakan ini dalam masyarakat. Kesejahteraan buruh pabrik rokok dan petani tembakau menjadi kambing hitam paling seksi untuk menolak kebijakan ini.

Kemarin malam saya menonton Indonesia Lawyer Club yang kebetulan memang membahas mengenai kebijakan kenaikan harga rokok ini. Saya hanya menonton pada bagian wawancara dengan Bupati Kudus. Beliau mengatakan bahwa lebih dari 10% masyarakat Kudus menjadi buruh pabrik rokok gudang garam. Beliau juga mengatakan bahwa rokok telah memasuki segala lini perdagangan di masyarakat, mulai dari pedagang asongan, warung-warung, hingga market modern juga tidak luput dari menjual rokok. Dari pemaparan beliau, saya terpikir bahwa masalah rokok ini rupanya bukan masalah biasa. Rokok sudah menjadi budaya yang mengakar kuat pada masyarakat Indonesia, artinya permasalahan rokok berarti permasalahan kebudayaan, bagaimana bisa mengubah budaya yang tidak baik itu menuju arah yang lebih baik tentu dibutuhkan upaya yang tidak sedikit dan waktu yang tidak sebentar.

Kebijakan menaikkan harga rokok seekstrim itu boleh jadi membawa dampak baik, misalkan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah yang benar-benar tidak mampu, atau anak yang belum bisa menghasilkan uang sendiri menjadi malas memberi rokok karena mahal. Jikapun mau meminta kepada orang lain, mungkin orang yang dimintai itu juga berpikir ulang karena rokok yang dibelinya sangatlah mahal. Sayangnya, penyakit selalu selangkah lebih maju dibandingkan obat, bukan? Pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Itu artinya bagi mereka yang terlanjur kecanduan merokok, bisa saja melakukan berbagai cara demi memenuhi hasratnya akan merokok. Hal ini menjadi semakin pelik, karena yang dikhawatirkan adalah pecandu rokok menjadi bringas seperti pecandu narkoba. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang yang dia inginkan. Akibatnya kejahatan semakin menjadi-jadi dan keresahan timbul di berbagai lini. Kalau sudah begitu siapa yang rugi? Ya ujung-ujungnya masyarakat lagi.

Permasalahan kebudayaan merokok ini tidak bisa diselesaikan secara instan seperti membuat mie. Selain menaikkan harga rokok, juga harus ada edukasi sejak dini untuk mengenalkan dampak negatif dari merokok, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Edukasi itu tidak hanya dilakukan sekali lalu setelah itu ditinggal pergi, melainkan ada pendampingan untuk memantau objek yang diberi edukasi. Ditambah juga harus ada panutan-panutan yang memang mencontohkan untuk tidak merokok, terutama bagi anak-anak. Ironisnya yang terjadi adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat larangan merokok, justru dilanggar seenaknya oleh guru di dalamnya. Ketika saya masih berseragam biru maupun abu-abu putih, saya sering melihat guru saya yang laki-laki merokok. Jikapun tidak merokok di depan anak didiknya, mereka merokok di kantor. Lah kalau sudah begini siapa yang akan dicontoh anak didik untuk tidak merokok? Bapaknya di rumah merokok, eh guru di sekolah juga. Katanya sih peraturan di sekolah dilarang merokok, tapi guru-gurunya saja melanggar. Jadi wajar jika anak didik dilarang merokok lalu mengatakan, “Pak guru saja merokok di sekolah, kenapa enggak?” Mau jawab apa kalau sudah begitu? Mau berbuat apa kalau sudah terjadi seperti itu? Anak dan orang tua sudah terlanjur candu, lalu pada akhirnya mereka merokok bersama. Tamat. (Hahaha).

Ah, sepertinya dicukupkan saja ya. Sebagai sentuhan terakhir dari curhatan ini, saya tidak meminta perokok untuk menanggalkan rokoknya, hanya saja saya meminta mereka untuk lebih memiliki rasa kemanusiaan dan menghargai hak asasi manusia lainnya, yaitu hak untuk hidup. Silakan merokok, tapi jangan di depan mereka yang tidak merokok. Asap rokokmu itu bukan hanya perlahan meracuni dan membunuhmu, tapi juga orang-orang di sekitarmu yang terkena dampak asap rokokmu. Mau dikatakan sebagai pembunuh? Demikian.

  • view 386