A Be Ge

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Agustus 2016
A Be Ge

First, rokok.

Tulisan maupun gambar yang berisi kampanye antirokok memang sudah bertebaran di mana-mana. Sudah digencarkan, baik di media cetak, elektronik, maupun media sosial, seperti facebook, twitter, instagram, dan sejenisnya. Tetapi seperti hukum alam, penyakit selalu selangkah lebih maju dibanding obat, bahkan mungkin berlangkah-langkah lebih maju, layaknya virus vs antivirus. Mungkin keadaan itu yang menginspirasi seseorang untuk menciptakan pribahasa, “Lebih baik mencegah daripada mengobati”.

Sebenarnya saya sedang tidak ada inspirasi untuk menulis, tetapi perjalanan menuju kos tadi memberi sinyal kepada otak saya untuk mengintruksikan tangan saya menari cantik di atas panggung keyboard. Benar memang inspirasi itu bisa datang kapan saja dan dalam waktu yang tidak disangka-sangka, bahkan semut yang sedang berjajar pun bisa menjadi inspirasi, mengenai tertibnya mereka mengantri misalnya.

Sepulang dari upacara hari kemerdekaan Indonesia tadi, saya melihat sekumpulan pemuda yang masih berseragam SMA sedang nongkrong di halte Unila. Nongkrongnya sih tidak masalah, mungkin mereka sembari melepas lelah usai upacara, hanya saja apa yang di tangannya itu yang membuat mata saya risih. Rokok! Dengan santainya mereka menghisap rokok di depan umum. Baiklah, ini memang hal lumrah karena virus merokok di Indonesia sendiri sudah menjalar hingga anak usia SD, tetapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah, sudah tidak adakah rasa malu dalam benak mereka merokok di tempat umum seperti itu? Seragamnya saja masih abu-abu, uang jajan saja masih merengek ke ayah ibu, baju saja masih dicucikan ibu, lalu sudah merokok? Merasa hebat? Merasa gentle? Allahu robbi! Ditambah lagi mereka suka sekali kebut-kebutan di jalan, asal salip sana salip sini tanpa peduli ketertiban, itu kan membuat kaget pengguna jalan yang lain.

Remaja, peralihan dari masa anak menuju dewasa, bahasa gaulnya anak abege. Dibilang anak sudah tidak pantas, disebut dewasa juga belum saatnya, bingung kan? Sama bingungnya dengan mereka yang memasuki masa remaja tapi tidak mendapat pengarahan yang sebenar-benarnya. Pada akhirnya, terjerumus ke pergaulan yang tidak seharusnya. Kalau sudah begitu yang salah siapa? Padahal remaja adalah masa yang paling menentukan dalam perjalanan hidup seorang anak manusia. Bila masa remajanya buruk, ya kecil kemungkinan untuk berubah baik di masa selanjutnya. Sebaliknya, bila masa remajanya baik, ya besar kemungkinan untuk tetap baik di masa selanjutnya, meski perubahan adalah kepastian di dunia ini, setidaknya dia telah memiliki cikal bakal baik di masa-masa selanjutnya.

Dalam istilah sosiologipun yang dikenal adalah kenakalan remaja, tidak dikenal kenakalan dewasa. Di era sekarang, kenakalan remaja yang tidak berhenti sampai rokok saja, melainkan sudah mengarah pada kenakalan yang lebih parah, narkoba misalnya. Sebagai orang-orang yang ‘katanya’ dalam proses pencarian jati diri, remaja memang menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba. Awalnya mencoba, lama-lama menjadi tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkramannya. Narkoba tidak salah, karena narkoba sebenarnya hanyalah obat-obatan yang memang berguna bagi dunia medis, hanya saja penyalahgunaan narkoba itulah yang menyebabkannya seolah menjadi barang jahat pangkal segala kebejatan. Padahal yang salah adalah oknum yang menyalahgunakan narkoba.

Apakah masalah yang mendera remaja sampai di situ saja? Kabar buruknya, tidak. Masih ada segudang masalah remaja di Indonesia yang menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga segenap masyarakat, guru di sekolah, apa lagi orang tua di rumah sebagai sekolah pertama bagi si anak. Semoga masih ada persediaan remaja yang tidak nakal dan siap untuk membangun negara serta bangsanya.

Demikian. Ngomong-ngomong yang menulis ini juga masih tergolong remaja, masih 19 tahun umurnya.

  • view 168