Menjadi Guru Itu Sesuatu

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Menjadi Guru Itu Sesuatu

Terpujilah wahai engkau

Ibu Bapak guru

Namamu akan selalu hidup

Dalam sanubariku

Masih ingat lagu itu? Judulnya apa ya? Hahaha.

Saya pertama kali mendengar lagu ini ketika saya masih lugu berseragam putih biru. Saya mendengarnya dari kakak tingkat yang latihan menyanyikan lagu ini untuk perpisahan. Terus-terusan mendengar, membuat lagu ini terekam dalam otak bawah sadar saya dan sayapun menjadi hafal, meski sekarang saya sedikit lupa dengan lagu itu karena sudah lama tidak dinyanyikan.

Kemarin siang saya mengisi materi di salah satu SMP yang ada di kota tempat saya kuliah. Karena baru pertemuan pertama, maka saya isi dengan perkenalan. Saya bertanya banyak hal dengan mereka, mengenai nama, alamat, kegiatan di sekolah, juga cita-cita. Saat saya bertanya, “Cita-citanya apa dek?” Sebagian besar menjawab, “dokter, Mbak.” Saya lanjutkan pertanyaan saya, “Nggak ada yang pengen jadi guru nih?” Mereka serempak menggelengkan kepala. “Loh kenapa?” Tanya saya lagi. Beragam jawaban yang mereka berikan, tapi intinya mereka berpendapat bahwa menjadi guru itu melelahkan, harus memiliki kesabaran ekstra, dan sejenisnya. Sebagai mahasiswi yang dididik sebagai calon guru, saya tertawa mendengarnya. Dalam hati saya membenarkan ucapan adik-adik itu, sekaligus berdoa semoga tetap ada stok orang-orang yang memiliki ketulusan mengabdi untuk negeri.

Menjadi guru itu sesuatu. Betapa tidak? Di Indonesia sendiri, profesi guru itu seringkali menjadi profesi sampingan. Profesi pengisi waktu luang. Jika tolok ukurnya adalah uang, maka profesi guru di negeri ini sangat tidak menjanjikan. Guru yang sudah diangkat menjadi PNS saja, gaji pokok perbulannya sepertinya tidak ada yang mencapai bilangan puluhan. Lebih besar penghasilan pedagang asongan malah, maka tidak jarang jika seorang guru juga memiliki profesi lain, sebagai pedagang, misalnya. Belum lagi jika masih berstatus honorer, mungkin gaji perbulan hanya hitungan ratusan. Kapan jadi orang kaya? Padahal jika mau direnungkan, guru adalah orang-orang yang paling banyak berkorban. Berkorban harta, tenaga, waktu, pikiran, dan tentunya perasaan. Menjadi sosok yang setegar karang, sekuat baja, selembut sutera di depan puluhan anak didik padahal dirinya juga tidak luput dari himpitan masalah kehidupan tentu hal yang tidak mudah, bukan?

Menjadi guru itu sesuatu. Betapa tidak? Guru dituntut menjadi teladan yang baik bagi seluruh anak didiknya. Seperti pepatah mengatakan, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, yang berarti bahwa jika guru melakukan sesuatu maka murid akan meniru apa yang dilakukan oleh gurunya, bahkan bisa lebih dari itu. Ketika ada anak didik yang tidak berhasil, pasti guru menjadi orang pertama yang disalahkan. Dituduh tidak becus dalam mendidik anaknya, padahal kesalahan itu tidak datang dari guru saja, boleh jadi dari anak didik itu sendiri yang malas belajar. Ditambah lagi di era digital saat ini mental anak didik dan orang tuanya yang seperti kerupuk, mlempem. Seperti pada beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, ada guru yang dipenjara hanya karena mencubit anak didiknya, guru yang dianiaya anak didiknya sendiri, sampai yang terbaru ada guru yang dipukuli orang tua anak didik hingga bersimbah darah. Kalau dulu, ketika dimarahi guru dan mengadu pada orang tua, malah lebih dimarahi lagi oleh orang tua. “Guru kamu itu bener! Kamu yang sekolahnya nggak bener!” Tapi sekarang? Ya lihat sendirilah faktanya! Kalau memang tidak terima dengan cara mendidik sang guru, kenapa disekolahkan? Ajari saja sendiri di rumah anak-anak yang lemah dan payah itu! Apa bisa nanti jadi orang besar seperti yang diharapkan?

Saya teringat cerita bahwa dulu fakultas keguruan ini adalah fakultas sampingan, tempat orang-orang yang tidak diterima lagi di fakultas lain. “Daripada nggak kuliah”, kurang lebih begitu. Saya miris sekaligus menjadi paham, “Ya pantas saja semakin ke sini kualitas generasi penerus bangsa semakin merosot, la wong gurunya aja begitu”. Tetapi sejak ada sertifikasi guru, peminat fakultas keguruan membludak. Mereka tergiur pada gaji yang lebih besar. Oh begitu rupanya, lagi-lagi faktor uang. Tidak munafik memang bahwa hidup ini butuh uang, tapi apakah lantas uang menjadi tolok ukur segalanya? Kesuksesan diukur dari uang, kekayaan diukur dari uang, padahal kebahagiaan terbesar adalah saat bisa membahagiakan orang lain karena apa yang diri ini lakukan. Senyum terindah adalah keberhasilan mengukir senyum di wajah orang lain karena apa yang diri ini berikan. Meski tanpa dibalas uang, meski tanpa diberi imbalan harta, tapi bahagia dan senyum seperti itulah sejatinya.

Saya dulu seperti adik-adik di SMP itu, tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Ketika diminta untuk menulis cita-cita, saya lebih suka menulis menjadi ilmuwan, astronot, ataupun penulis. Saya bahkan sempat mencibir dalam hati mereka yang kuliah di fakultas keguruan. Tapi qodarullah membawa saya untuk di sini, menempuh ilmu sebagai calon guru, profesi yang sejak dulu tidak pernah saya sukai. Semakin bertambah hari di tempat ini, semakin saya belajar bahwa Indonesia tidak membutuhkan orang-orang yang kekayaannya masuk dalam sekian besar di dunia atau orang-orang yang kejeniusannya luar biasa, melainkan Indonesia membutuhkan orang-orang yang tulus untuk mengabdikan dirinya pada negara, dan guru menjadi salah satu bentuk pengabdian itu. Mungkin ini terlihat naif, tapi hingga kini memang tidak terlintas di benak saya mengenai gaji seorang guru nantinya. Rezeki itu urusan Allah, maka berapapun yang Allah berikan itulah jatah saya. Saya ingin mengabdi, saya ingin menjadi sebaik-baik manusia seperti sabda nabi. Sesederhana itu.

Semoga tetap ada mereka yang menjadi guru bukan karena uang semata, hingga rela menyogok ratusan juta demi status PNS yang didamba. Semoga tetap ada mereka yang menjadi guru karena memang panggilan dari jiwa, panggilan untuk mengabdi dan berkarya. Semoga tetap ada mereka yang menjadi guru sebagai ingin dari hati nurani, yang siap mempersembahkan diri demi kemajuan generasi penerus bangsa ini.

Demikian. Semoga bermanfaat. Salam dari seorang calon guru.