The Forgatable Love

Anaa Zuhria
Karya Anaa Zuhria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2016
The Forgatable Love

“Kenapa anak perempuan sangat mencintai ayahnya? Karena dia menyadari bahwa setidaknya di dunia ini ada seseorang yang mencintainya dengan tulus.” –anonymous

Entah siapa gerangan yang menulisnya, quote itu menjadi terkenal sekali. Ah bukankah memang dianjurkan untuk melihat yang dibicarakan bukan siapa yang berbicara? Maka meski tidak diketahui siapa yang pertama kali menulis quote tersebut, sudah sepatutnya banyak orang berterima kasih karena quote singkatnya itu menyentuh dan layak direnungkan.

Kemarin malam aku mendengar kabar bahwa ayah dari kakak tingkatku meninggal dunia selepas menjenguknya di tempat KKN. Ibu dan adik-adiknya mengalami luka berat dan dirawat di rumah sakit setempat. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, kita doakan semoga yang meninggal mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt, diampuni segala dosanya, dan diringankan siksa kuburnya. Semoga yang mengalami luka segera disembuhkan oleh Allah, baik luka di fisik maupun luka di hatinya.

Setiap mendengar kabar mengenai kematian dari orang tua temanku, aku selalu membayangkan andai aku yang berada di posisinya saat itu. Membayangkan aku kehilangan sosok penopang dalam hidupku. Membayangkan aku tidak lagi dapat merengkuh tubuhnya, melainkan hanya memeluk erat kenangan-kenangan bersamanya. Kurasa siapapun orangnya, sekuat apapun dia, tidak akan tidak mengeluarkan air mata ketika membahas mengenai perginya kedua orang tua, pun sama dengan aku. Apalagi aku bukanlah seorang yang sekuat itu. Hatiku bukan baja, jiwaku bukan alumunium. Komponen utama dalam tubuhku ini sama seperti manusia lain, yaitu air, yang mudah sekali mengalir ke muara. Tidak seperti karang yang tetap tegar dihempas ombak lautan, hanya seperti kayu termakan rayap yang bahkan diinjak saja rapuh. Aku selemah itu, bahkan jauh lebih lemah.

Ketika kuamati sosoknya yang semakin menua. Satu dua warna putih mulai menghiasi rambut di kepala maupun di janggutnya yang dulu hitam legam. Ketika kudapati raganya tidak lagi sekuat saat aku masih SD. Tidak lagi kuat menggendongku, karena aku sekarang memang sudah tumbuh besar. Ketika kutemui pundaknya tidak lagi setegar saat aku masih dalam buaian. Mungkin perlahan tulang di dalam tubuhnya mulai rapuh dan jatuh.

Ayah, seorang lelaki dengan cinta luar biasa yang sering terlupa.

Masih sangat lekat dalam ingatan ketika ibu berkata, “kamu bawa uang tambahan ya untuk di sana”, kemudian ayah melarangnya. Saat itu aku sempat sedikit kecewa, Ayah. Tapi dalam perjalananku aku menyadari bahwa begitulah memang seharusnya seorang ayah. Ayah ingin mendidikku agar aku bijak mengelola sedikit lembar uangku yang tersisa. Ayah ingin aku menjadi seorang yang tidak boros dengan cara ayah. Terima kasih, ayah.

Saat anak kecil ini mengatakan ingin membawa sepeda ke kampusnya, tanpa aku minta lebih jauh lagi ayah langsung mengambil sepeda lamaku dan merelakan tenaga ayah, waktu ayah yang seharusnya untuk bekerja, uang ayah yang seharusnya bisa digunakan untuk keperluan lain, hanya untuk mereparasi kembali sepeda usang itu. Hanya untuk membuat anak kecil ini tertawa gembira karena bisa membawa kembali sepedanya. Terima kasih, ayah.

Saat ada perlombaan di suatu sekolah, ayah dengan suka rela mengantarkanku dari rumah menuju sekolah tersebut. Aku tahu tidak ada seorangpun yang ayah kenal di sekolah itu, kecuali aku. Tetapi tanpa aku minta, ayah menungguku hingga perlombaan selesai. Dari pagi hingga matahari melewati istiwa’ nya. Aku yakin ayah pasti sangat bosan, tapi tidak sedikitpun ayah meninggalkanku di sekolah itu. Aku yakin ayah pasti sangat lelah menungguku, tapi tidak tampak sedikitpun wajah marah ayah saat aku usai dari perlombaan tersebut. Terima kasih, ayah.

Tiga tahun yang lalu. Aku juga masih sangat ingat peristiwa itu, ayah. Saat Allah mengambil sebagian dari kesehatan ayah. Terjatuh dari ketinggian 3 meter yang membuat ayah cacat hingga sekarang. Aku tidak bisa mengatakan apapun saat setiba di rumah aku melihat ayah berbaring lemah dengan kaki berbalut perban. Mulutku tidak bisa mengatakan apapun, namun mataku mengatakan banyak. Setiap kali melihat ayah saat itu, hatiku selalu teriris, derai tidak lagi terbendung, aku kembali menangis. “Allah beri kesembuhan untuk ayah” sebuah lafal yang sama dalam setiap doa hingga mungkin Allah bosan mendengarnya.

Banyak sekali orang yang sangat mencintaimu, ayah. Kau seolah menjadi panutan di desa kecil tempat kita tinggal. Pembawaanmu yang tenang, sabar, pendiam, tidak pendendam, taat pada agama, menjadikanmu sosok yang disegani di masyarakat sekitar. Tapi aku tidak pernah peduli itu ayah, aku hanya peduli bahwa aku sangat mencintaimu apapun keadaan ayah. Maka salah satu hal yang sangat aku takutkan dalam hidupku. Kehilangan ayah untuk selamanya.

Tidak ada lagi seorang pendiam yang seketika berubah menyenangkan di depan anak-anaknya. Tidak ada lagi seorang yang dengan sabar menghadapi diskusi-diskusi ringan dengan anak kecil yang ingin lebih tahu tentang dunianya. Tidak ada lagi seorang yang aku bangunkan saat tertidur di depan televisi. Tidak ada lagi seorang yang rajin sekali mengingatkan aku untuk makan. Tidak ada lagi seorang yang dengan ikhlas mengantar bahkan menunggu di tempat yang aku tuju. Tidak ada lagi seorang yang menenangkan saat aku sedih. Tidak ada lagi, dan semua akan hilang. Tinggal kenangan yang menggantung di seisi ruangan. Mengisi relung-relung penuh kepedihan. Menyesakkan. Aku tidak sekuat itu, ayah. Aku tidak setegar itu andai ayah benar-benar meninggalkanku. Ayah adalah separuh jiwaku, maka jika aku kehilangan ayah aku juga kehilangan separuh jiwaku. Kehidupan setelah itu tidak akan pernah lagi sama. Akan selalu ada bayang ayah di setiap detik yang kupunya. Akan selalu ada rindu yang menikam-nikam jiwa.

Ayah, seorang lelaki dengan cinta luar biasa yang sering terlupa.

Sampai kapanpun aku adalah putri kecil ayah, tidak peduli berapapun usiaku. Seperti dulu, saat ayah menyuapiku ketika ibu sedang di dapur. Saat ayah membiarkan aku menggelayut manja di pundak ayah. Saat ayah menggendongku ke kamar jika aku tidak sengaja tertidur di depan. Saat ayah mengajariku mengendarai sepeda untuk pertama kali. Saat semua yang selalu kita lewati bersama. Dulu, kini, maupun nanti, aku selalu putri kecil ayah.

Goresan sederhana dari putri kecilmu yang tiada henti dirundung rindu saat jauh darimu