Memaknai Idul Fitri Ala Puan Maharani

Anjay Kusuma
Karya Anjay Kusuma Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 Juli 2017
Memaknai Idul Fitri Ala Puan Maharani

Idul Fitri, atau yang biasa disebut dengan lebaran, adalah momen kembalinya diri kepada yang fitri, yang suci. Setelah melalui proses “bertapa” selama satu bulan melalui ibadah puasa, Idul Fitri adalah perlambang dari diraihnya kesucian diri. Apakah benar-benar suci? Sebagai umat Islam, kita harus meyakini hal itu. Berbaik sangka, sebagaimana terlambangkan dalam fenomena bermaaf-maafan dan bersalam-salaman. Atau jika tidak, mudah saja melihat salah satu bentuk “kesucian” itu, diantaranya adalah ketika pasca Ramadhan, hidup menjadi lebih baik.

Maka, dalam konteks ini, Puan Maharani memaknai idul fitri, justru merupakan momentum yang tepat untuk mensucikan diri melalui perilaku hidup yang lebih baik pasca Ramadhan berlalu.

Artinya, bagi Puan Maharani, setelah Ramadhan dan ber’idul fitri ria, seharusnya semangat kerja menjadi lebih baik karena sudah direfresh atau mungkin telah dikembalikan ke pengaturan awal. Semangat perubahan semakin tampak, semangat menjalani hidup semakin menguat, semangat untuk “mencapai” semakin tampak.

Itulah makna idul fitri bagi Puan Maharani.

Selain itu, Puan Maharani menitik-beratkan pada pentingnya membangun hubungan sosial yang semakin erat, menjaga persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. Lebaran harus menjadi momentum untuk membangun silaturrahmi dan memperbaiki interaksi sosial yang sebelumnya, mungkin, sempat “terpisahkan” karena gap dan perbedaan pandangan yang sebenarnya masih bisa dikomunikasikan.

Sebagaimana kita ketahui, beberapa bulan terakhir, seakan ada “kubu-kubuan” di antara sebagian kecil warga negara lantaran perbedaan yang mencuat dan menguat. Kalau mengikuti dunia medsos, kita akan mendapatkan realitas yang mengenaskan, sekaligus mengecewakan karena masing-masing bisa dengan mudah mencaci, mengolok-olok, dan menegasikan yang lain dengan begitu sarkas dan “sadis”.

Maka, lebaran ini seharusnya menjadi momentum untuk, selain memperbaiki dan mensucikan diri, juga untuk mengembalikan kehidupan sosial kita pada pengaturan semula. Damai dan nyaman. Perbedaan yang ada, sebagaimana telah berlangsung lama, tak perlu lagi dibentur-benturkan terutama lagi karena itu hanyalah ulah dari pihak yang sengaja ingin merusak bangsa ini dari dalam; secara pelan.

Dalam sebuah kesempatan, Puan Maharani menyatakan, bahwa idul fitri adalah momentum untuk mensucikan diri sekaligus langkah awal untuk memulai semangat hidup yang baru dan lebaran adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki silaturrahmi, hubungan dan jejaring sosial. Bagi Puan Maharani, keduanya menjadi keniscayaan karena jika meyakini ibadah puasa dan idul fitri adalah sesuatu yang istimewa, seharusnya itu tergambarkan dari perubahan yang terjadi setelahnya.

  • view 59