Puan Maharani Cerdas Mengejawantahkan Himbauan Presiden

Anjay Kusuma
Karya Anjay Kusuma Kategori Politik
dipublikasikan 15 Juni 2017
Puan Maharani Cerdas Mengejawantahkan Himbauan Presiden

Dalam pidato sambutannya pada Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2017 lalu, Presiden Jokowi mengajak peran aktif semua pihak, termasuk para pemuka agama, pendidik, budayawan, pelaku seni, pelaku media, TNI, Polri, dan seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Pancasila. Himbauan ini bisa dimaknai sebagai salah satu cara untuk menekan bibit-bibit paham radikalisme, ekstrimisme, dan intoleransi yang akhir-akhir ini mulai tersemai kembali dan sangat membahayakan.

Maka, sebagai Menteri yang secara khusus ditugaskan untuk mengawal Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) melalui pengejawantahan nilai-nilai Pancasila sehingga menjadi sumber dan referensi dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, Puan Maharani bergerak cepat untuk mengawal imbauan Presiden tersebut dengan melakukan koordinasi bersama pihak dan lembaga terkait.

Puan Maharani lalu melakukan pertemuan dan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjenpol Suhardi Alius; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Muhajir Effendy; dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Imam Nahrawi.

Dalam pertemuan itu, Puan Maharnai membahas strategi penanganan radikalisme dalam bidang pendidikan, ideologi, ekonomi, dan politik. Dalam konteks pendidikan, tentu saja ini penting karena melalui pendidikan, paham-paham yang tidak sesuai dengan ideologi bangsa sehingga menyebabkan pertentangan, bisa dinetralisir. Sementara Kemenpora berperan dalam konteks kepemudaan. Ini penting karena pemuda yang “rentan”, bisa menjadi sasaran empuk dari radikalisme karena faktanya, para pelaku teror yang selama ini diketahui dan ditangkap rata-rata adalah para pemuda, yang seharusnya produktif.

Dari pertemuan tersebut juga didapatkan beberapa laporan penting dari BNPT dan Kemendikbud terkait maraknya kasus-kasus radikalisme, perilaku intoleran, dan terorisme serta langkah-langkah sistematis untuk mengatasi bibit-bibit redikalisme yang muncul. Sehingga, tegas Puan Maharani meminta agar laporan dari BNPT serta Kemendikbud segera ditindaklanjuti untuk mencari solusi dan langkah-langkah pencegahannya. Mencegah, selalu lebih baik daripada mengobati. Sebagaimana adigium terkenal dari Malala, bahwa kita bisa mengalahkan teror dengan pistol, tapi terorisme harus dikalahkan dengan pendidikan.

Maka, apa yang dilakukan Puan Maharani ini selain sebagai bentuk tanggung-jawabnya menjaga keutuhan NKRI dan merawat nilai-nilai Pancasila, juga bisa dimaknai sebagai cara cerdas Puan Maharani dalam memahami himbaun, instruksi, dan arahan dari Presiden sehingga menjadi langkah-langkah konkrit yang bisa diterapkan dan dijalankan, terutama dalam bentuk program dan kebijakan melawan radikalisme, terorisme, dan perilaku intoleran.

  • view 53