Puan Maharani dan Ocehan Negatif di Medsos

Anjay Kusuma
Karya Anjay Kusuma Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Juni 2017
Puan Maharani dan Ocehan Negatif di Medsos

Dunia media sosial di negara ini, barangkali termasuk di antara yang “kejam” jika dibandingkan dengan negara lain. Orang bisa diangkat dan dinistakan sedemikian rupa dengan begitu mudah. Berita tidak penting dan hoax bertebaran dimana-mana. Perbedaan, saling menggunjing, membully, dan caci maki semakin menguat. Jangankan orang biasa, Menteri dan Presiden pun menjadi target empuk serangan. Dunia medsos kita menjadi begitu suram karena dipenuhi perselisihan dan konten negatif yang tak bisa dipertanggung-jawabkan. Dan sebagiannya, justru menikmatinya. Sebuah kebebasan yang sulit dihadang, kecuali dengan kesadaran.

Sebagian masyarakat kita seperti menjadi kelompok yang lebih suka dengan perilaku negatif ketimbang produktif, atau lebih suka ngomongin kejelekan orang lain, memperbincangkannya sedemikian rupa tak ubahnya terdakwa yang duduk di kursi pesakitan. Menafikan sebuah realitas, bahwa orang yang diperbincangkan justeru lebih jelas sumbangsihnya pada negara dan bangsa.

Puan Maharani menjadi satu diantara banyak orang yang kerap dijadikan serangan dan seperti “didudukkan” sebagai tertuduh, menafikan posisinya sebagai menteri yang telah banyak melakukan kerja dan melahirkan prestasi. Justru karena menteri inilah Puan Maharani semakin asyik “dipermainkan” di dunia maya.

Di media sosial, Puan Maharani dinegasikan sebagai menteri yang tidak bisa bekerja, menteri yang tidak cerdas, menteri yang “anteng” hingga tidak tahu mau ngapain. Sebutan itu diperparah dengan asumsi yang melekat, bahwa Puan Maharani adalah menteri titipan. Belum lagi fitnah yang trending kalau searching di Google, seperti Puan Maharani masuk kristen, suami Puan Maharani, Puan Maharani selingkuh. Dan percayalah, kalah laman-laman itu dibuka, kita akan dibawa pada informasi serampangan, fitnah, dan hoax

Sebagai seorang politisi, tentu Puan Maharani sadar dengan konsekuensi “dipermainkan”, terutama oleh lawan politik. Tapi terlepas dari itu, penting untuk memberikan penyadaran pada semua pihak, bahwa memperbincangkan sesuatu yang negatif (apalagi sifatnya fitnah dan hoax) itu sama saja dengan penistaan terhadap diri sendiri sebagai manusia, karena harga diri telah tergadai untuk memercayai sesuatu yang provokatif.

Sebagai seorang pejabat, Puan Maharani tentu tidak sempurna, tapi bukan berarti tidak bekerja. Banyak yang telah dilakukannya, dan pada kondisi tertentu, Puan Maharani pandai mengejawantahkan instruksi Presiden. Tulisan ini tidak untuk menjelaskan satu persatu, apa kerja dan prestasi yang telah didapatkan, karena sejatinya itu mudah untuk dilakukan. Cukup cari saja prestasi dan kerja Puan Maharani di internet, maka akan banyak ditemukan.

Bagi Puan Maharani, tentu saja ocehan negatif di Medsos tidaklah penting dan tidak perlu ditanggapi, kecuali untuk sesuatu yang tidak bisa ditolerir. Baginya, yang penting bekerja. Menelurkan berbagai kebijakan substantif serta produktif. Berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan negara ditengah-tengah rakyat untuk semakin mendekatkan mereka dengan kesejahteraan. Ini telah dilakukan, data dan faktanya bisa ditemukan.

  • view 347