Patung Soekarno dan Inspirasi Bagi Puan Maharani

Anjay Kusuma
Karya Anjay Kusuma Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Mei 2017
Patung Soekarno dan Inspirasi Bagi Puan Maharani

Apa yang bisa diceritakan oleh sebuah patung? Tentu banyak, bergantung dari sudut mana melihatnya, dan siapa sosok patung yang dipahat. Kalau yang “dipatungkan” adalah sosok hebat, maka konteks pemaknaannya juga berbeda karena tentu akan selalu berbarengan dengan inspirasi yang menyala-nyala.

Patung, memang hanya patung. Tapi apapun, ia akan selalu menggenggam sejarah untuk direnungkan dan dijadikan pelajaran bagi generasi kini. Sebab tanpa sejarah, seseorang akan kehilangan arah, tidak tahu ke arah mana ia akan menengadah.

Itulah barangkali yang bisa dibaca dari raut muka Puan Maharani ketika ikut menghadiri peresmian patung Soekarno di halaman gedung Lembaga Perhananan Nasional (Lemhanas), bahwa patung Soekarno yang ada di depannya, bukan hanya ingin diperlihatkan saja atau hanya bermakna genetis bahwa Soekarno adalah kakeknya, tapi jauh lebih dari itu, ia adalah wujud dari sebuah inspirasi, pembelajaran sejarah, dan upaya untuk menumbuhkan semangat mencintai Indonesia.

Bagi Puan Maharani, patung tersebut berbicara soal keteladanan, bahwa Soekarno adalah sosok yang tulus mencintai Negara, pejuang sejati yang pemberani sekaligus lembut bagi rakyat sendiri, mendudukkan nasionalisme dan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, dan penyambung lidah rakyat melalui pidato-pidatonya yang heroik, tegas, dan menggebu-gebu, tak ubahnya singa yang sedang mengaum.

Maka, eksistensi patung Soekarno bagi Puan Maharani, dan bagi siapapun yang hidup pada generasi setelahnya adalah perwujudan dari pentingnya keteladanan dan inpirasi dalam hidup.

Puan Maharnai adalah Soekarnois sejati. Bukan karena secara genetis bertalian kuat, tapi ajaran dan pemikiran Soekarno berkait kelindan dalam jiwanya secara kuat pula. Dalam banyak kesempatan, kita bisa melihat upaya Puan Maharani untuk menghidupkan kecintaan kita pada negeri dengan menyitir kalimat-kalimat atau gagasan dari Soekarno.

Tentu kita masih ingat tentang Jasmerah yang disitir Puan Maharnai ketika menghadiri Lasenas di Bengkulu, kemudian mengunjungi rumah Soekarno sebagai napak tilas. Puan Maharani juga pernah menyuarakan tentang pentingnya mengenyampingkan “egoisme agama” dalam kehidupan. Sebuah idiom yang sangat familiar dan menjadi ciri khas Soekarno.

Maka, begitulah mestinya cara memaknai keberadaan patung Soekarno, yang secara gagah berdiri di halaman Lemhanas dengan mengacungkan jari menunjuk langit.

  • view 40