Puan Maharani dan Kerja Menekan Bibit Radikalisme

Anjay Kusuma
Karya Anjay Kusuma Kategori Agama
dipublikasikan 08 Mei 2017
Puan Maharani dan Kerja Menekan Bibit Radikalisme

Akhir-akhir ini kekhawatiran tentang bangkitnya paham radikalisme dan intoleran mulai menyeruak, terutama ketika melihat dunia pemberitaan di medsos yang tak henti bersliweran, membuatnya semakin tampak nyata. Kita patut waspada, bukan hanya pertentangannya dengan pancasila sebagai ideologi bangsa, tapi keberadaan paham-paham seperti itu menimbulkan konflik dan pertentangan keras pada tataran horizontal (kalangan masyarakat).

Saling menyalahkan, saling curiga, dan saling “menerka” menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tentu saja, ini mengancam kerukunan dan kedamaian sesama anak bangsa.

Melihat hal tersebut, Puan Maharani, sebagai menteri yang “bertanggung jawab” untuk ngurusin pembangunan manusia dan kebudayaan merasa melakukan langkah-langkah konkrit dalam upaya mencegah semakin meluasnya paham radikalisme dan intoleransi, terutama ketika dalam sebuah pemberitaan, paham-paham tersebut sudah memasuki dunia sekolah; menyasar pada anak didik yang mestinya “suci” karena potensial untuk “digiring” sesuai yang dikehendaki.

Puan Maharani, melalui Kementerian yang dipimpinnya, bekerjasama dengan Kementerian yang berada di bawah garis koordinasinya, terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), terus melakukan upaya pendampingan dan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan tentang bahaya laten radikalisme dan paham-paham intoleransi lainnya. Upaya tersebut dilakukan dengan menggiring anak didik kepada pemahaman yang terbuka, saling menghargai, pemahaman tentang kebhinnekaan, dan nilai-nilai pancasila.

Dengan melibatkan guru sebagai penyampai ilmu pengetahuan serta dukungan dari para orang tua, pendampingan dan sosialisasi ini diharapkan mampu menekan munculnya bibit-bibit radikalisme dan paham intoleransi sejak dini.

Selain upaya tersebut, pemerintah juga Puan Maharani juga melakukan kerjasama dengan ormas yang secara kultural bersentuhan langsung dengan masyarakat, melalui paham-paham yang sejuk, damai, dan toleran terhadap segala bentuk perbedaan. Hal ini tampak ketika Puan Maharani melakukan kerjasama dengan PBNU untuk menekan dan mempersempit ruang gerak radikalisme dan paham intoleran.

Kerjasama ini menjadi penting, terutama ketika dalam konteks kultural, NU tak bisa dilepaskan dari pesantren-pesantren binaan yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam kerangka keIndonesiaan. Bukan hanya kerjasama dalam konteks revolusi mental saja, tapi juga bagaimana dunia pendidikan pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan intelektual menyejukkan dengan tetap berpegang teguh pada pancasila dalam konteks ideologi bangsa. Selain itu, kerjasama ini juga ingin menunjukkan, bahwa pesantren adalah tempat untuk menyemai produk dan kajian islam yang rahmatan lil ‘alamin, tidak seperti statement serampangan yang sempat beredar, bahwa pesantren adalah tempat teroris.

Artinya, Puan Maharani ingin melindungi dunia pendidikan kita dari radikalisme dan paham intoleran yang mulai “bergentayangan”, sekaligus bentuk kepada lembaga pendidikan dan dunia pesantren.

  • view 45