Membaca Kedekatan Puan Maharani dengan NU

Anjay Kusuma
Karya Anjay Kusuma Kategori Agama
dipublikasikan 04 Mei 2017
Membaca Kedekatan Puan Maharani dengan NU

Setidaknya ada beberapa moment terbaru pada tahun yang bisa dijadikan representasi dari kedekatan Puan Maharani dengan NU. Pertama, ketika Puan Maharani diundang untuk menghadiri pelantikan Fatayat NU di Istiqlal. Kedua, ketika baru saja menandatangani MoU dengan PBNU untuk mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Ketiga, ketika Puan Maharani diminta untuk memberikan arahan pada rapat kerja nasional (rakernas) Fatayat NU.

Untuk kedekatan bersama Fatayat NU, bukan saja hanya karena ketuanya, Khofifah Indar Parawansa, adalah Menteri Sosial yang secara garis koordinasi berada di bawah Kemenko PMK, tapi juga ada kesamaan visi, misi, dan perjuangan antara Puan Maharani dengan Fatayat NU terutama yang berkaitan dengan peran dan fungsi perempuan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesamaan itu menjadi penting sebagai upaya untuk secara bersama-sama meningkat harkat dan martabat perempuan.

Sehingga tidak aneh ketika Puan Maharani juga diminta untuk memberikan pengarahan terkait Rakernas Fatayat NU, karena sebagai representasi perempuan yang “masa kini”, Puan Maharani dianggap mampu untuk memberikan pencerahan sehingga memperkaya arah perjuangan Fatayat NU pada masa-masa selanjutnya.

Sementara itu, kedekatan dengan PBNU, baru saja ditunjukkan oleh Puan Maharani ketika mengajak PBNU untuk ikut serta menyukseskan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dalam sebuah kerjasama resmi berbentuk nota kesepahaman (MoU), sebagai sebuah cita-cita besar untuk tetap menjaga nilai-nilai pancasila dan keutuhan NKRI. Kerjasama dengan PBNU ini menunjukkan kedekatan sekaligus komitmen Puan Maharani dalam menghargai sejarah, karena Menghargai NU adalah menghargai sejarah perjuangan Indonesia, sekaligus sejarah perjuangan Islam Nusantara.

NU mempunyai posisi penting dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dengan ajaran keislaman yang ramah, damai, dan sejuk dalam bingkai rahmatan lil ‘alamin sehingga menjadi penting bagi negara untuk mengajak NU turut serta dan urun rembug dalam membangun karakter bangsa melalui revolusi mental, terutama ketika pengikut setia NU tersebar di seantero negeri, hingga ke pelosok-pelosok.

Artinya, kedekatan Puan Maharani dengan NU tidak hanya sebatas personal, tapi hal itu dilanjutkan dengan kerjasama dan agenda penting untuk tetap menjaga keutuhan dan persatuan NKRI, menjaga nilai-nilai pancasila, membangun karakter bangsa, serta menekankan pentingnya sinergi untuk ikut menyukseskan agenda revolusi mental. Kesamaan itulah yang membuat kedekatan Puan Maharani dengan NU terjalin secara harmonis melalui kesamaan-kesamaan untuk kembali pada karakter bangsa yang gotong royong, teposeliro, toleran, ramah, menghargai perbedaan melalui kebhinnekaan, kerjasama, terbuka, dan harmonis sebagai manusia dan sebagai sebuah bangsa.

Ini juga sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan (dan keraguan) banyak orang tentang keislaman Puan Maharani, karena bukan hanya secara kebijakan, tapi secara personal Puan Maharani juga banyak membantu pembangunan fasilitas-fasilitas keagamaan seperti Masjid, atau memberikan bantuan seperti Paket Pendidikan dan bantuan al-Quran.

  • view 56