MENGAPA ENGKAU MEMBUNGKAM, WAHAI TUHAN?

anjas ahmad munjazi
Karya anjas ahmad munjazi Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 10 Juli 2016
MENGAPA ENGKAU MEMBUNGKAM, WAHAI TUHAN?

 

         Di sepertiga malam,setelah melaksanakan shalatul lail entah mengapa dalam benaku,tersirat prasangka buruk tentang Tuhanku. Bergegas ku ambil sebuah pena dan kertas, lalu kutuliskan pesan untuknya :

 

 

                                              “ MENGAPA ENGKAU MEMBUNGKAM, WAHAI TUHAN? “

 

Bicaralah, mengapa Engkau membungkam wahai tuhan?

Bangkitlah, janganlah tidak membantu kami selamanya.

Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu,serta melupakan kesusahan kami dan penindasan kami?

Karena jiwa kami membungkuk ke tanah:

Perut kami menyentuh bumi.

Bangkitlah untuk membantu kami,

Dan membebaskan kami dari dosa dengan pengampunan-Mu

Berapa lama, wahai Tuhan, engkau akan melupakanku, selamanya?

Berapa lama engkau menyembunyikan wajah-Mu dariku?

 

Pesan itu membawa hikmah tersendiri bagiku.

Mungkin,jika aku percaya,merasakan di dalam diriku sendiri kesedihan mendalam yg sama atas tidak hadirnya tuhan.dalam hidupku, aku dan pesan itu mungkin berbagi kesedihan bahwa sang serba Maha buta untuk melihat, tuli dengan permohonan-permohonan untuk menebus dosa dan memohon ampunan. Walupun aku menunggu seumur hidup atau seumur hidup dari semua umur hidup, dia akan tetap memalingkan wajah-Nya. “ kebungkaman Tuhan atau penolakan bising manusia atas kebungkaman itu?” aku tak bisa menjawab pertanyaan yg ada dalam benak ku itu. Tapi satu hal yg kutahu : bahwa kebungkaman Tuhan bukan simbol ketidakhadirannya, melainkan kehadirannya. Seperti halnya seorang anak bermain “petak umpet” , Tuhan masih ada,tetapi tidak terlihat dan menunggu untuk ditemukan. Walaupun kita tidak melihatnya,Dia ada dalam permainan,seperti si anak yg meringkuk dibawah meja atau mengintip dari belakang kursi. Tentu saja analogi itu akan menemukan batasannya dengan cepat karena kita tidak mengalami ketidakhadiran tuhan dalam apapun seperti sebuah semangat permainan. Justru, pengalaman itu mendatangi kita sebagai kesedihan karena diabaikan dan sebagai siksaan karena merasa ragu. Kita mencari dan mencari sebuah pertanda kehadiran penuh kasih sang pencipta dan, dari sini sampai ujung kaki langit,kita tidak menemukaan apa-apa.

 

“Mengapa tuhan bersembunyi?”

Bukan kita memaksanya, karena manusia tidak dapat memaksa sang Serba-Maha. Sikap acuh tak acuh Tuhan bukan sebuah penilaian tidak setuju terhadap kita,bukan pula sebuah hukuman atau pertanda kemarahannya. Justru, itu merupkan bagian dari sifat alaminya sebagai Tuhan. Dia adalah Tuhan yang bersembunyi. Dan dia bersembunyi karena satu alasan bahwa kita telah mendapatkan lagi dan lagi: kemerdekaan kita. Untuk menjadi baik, kita harus memilih untuk menjadi baik, tetapi untuk memilih, kita harus bebas. Tanpa kebebasan,tidak ada pilihan autentik, tetapi hanya keterpaksaan layaknya boneka yang ditarik-tarik oleh tali. Jika kehadiran Tuhan dalam sejarah memang meyakinkan manifestasi total, selalu tampil, kehadirannya justru akan menyabotase kebebasan kita. Tuhan harus tersembunyi saat manusia melakukan pekerjaan mereka,agar mereka melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

 

  


 

Pandeglang,10 juli 2016, 12:49:18 AM.

~Pada saat bumi basah,entah pada purnama yg ke-Berapa.~